Home BERITA Dialog

Dialog

0
Ilustrasi - Dialog.

Renungan Harian
Selasa, 26 April 2022
Bacaan I: Kis. 4: 32-37
Injil: Yoh. 3: 7-15

BEBERAPA waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang bapak. Dengan menggebu-gebu ia bercerita tentang pengalamannya berdialog dengan teman-teman dari agama lain maupun yang tidak beragama.

Dari ceritanya yang menggebu-gebu itu saya menangkap bahwa nampaknya yang terjadi bukan dialog, tetapi “perdebatan” di antara mereka.

Bapak itu merasa harus membela iman Katolik di depan teman-temannya yang menurut bapak itu bukan hanya mempertanyakan tetapi juga menyerang iman katolik.
 
“Romo, benarkan bahwa kita ini sebagai orang Katolik, perjalanan hidup kita ini menuju surga? Bukankankah iman kita mengajarkan bahwa dengan kita mengimani Yesus Kristus dan dengan baptis yang kita terima kita diangkat menjadi anak-anak Allah?

Dengan demikian, kita menjadi ahli waris surga.
 
Romo, mereka itu tidak percaya dan bahkan menghina bahwa orang Katolik itu dibodohi oleh para pastor. Teman saya yang ateis mengatakan bahwa surga itu tidak ada. Teman yang lain malah mengatakan: “Kalau benar dengan baptis, orang Katolik menjadi ahli waris surga kenapa mesti ke gereja dan berdoa, bukannya pasti masuk surga.”

Romo, saya marah dan saya menjelaskan tetapi mereka tidak pernah mengerti. Saya jadi terpancing untuk menunjukkan kehebatan agama Katolik dibanding agama lain,” bapak itu menjelaskan.
 
“Pak, dengan apa yang bapak lakukan hasilnya apa? Mereka menjadi Katolik? Atau, mereka tidak mempertanyakan lagi? Atau malah bapak jadi bermusuhan dengan mereka?

Pak, mereka tidak akan mengerti dengan apa yang bapak jelaskan karena mereka punya keyakinan dan pemahaman sendiri. Bapak membela  man katolik dengan cara seperti itu tidak ada manfaatnya yang ada bapak dan teman-teman bapak itu bermusuhan dan bapak menjadi sakit hati.
 
Usul saya, kalau mereka bertanya, bapak menjelaskan soal mereka percaya atau tidak bukan hal penting, tetapi bapak menjawab dan menjelaskan dengan baik. Kalau mereka bermaksud untuk menghina atau merendahkan, abaikan saja; iman kita tidak akan pudar karena direndahkan.

Kalau bapak mau menunjukkan bahwa bapak adalah seorang yang beriman katolik, tunjukkan lewat hidup bapak sehari-hari.

Pergulatan bapak setiap hari jatuh bangun untuk berbuat baik dan hidup yang baik itu perwujudan iman.

Misalnya bapak menolong seorang yang menderita; orang melihat bahwa tindakan bapak itu karena dorongan kemanusiaan saja.

Anggapan orang itu betul dan tidak salah, tetapi bahwa bapak sebagai orang beriman melihat tindakan itu sebagai wujud kasih bapak pada Allah itu buah refleksi bapak sebagai orang beriman.
 
Orang mengatakan surga itu tidak ada ya biarkan saja. Bapak tidak perlu membuktikan surga itu seperti apa dan dimana.

Keyakinan bapak bahwa surga itu ada dan bapak ingin masuk surga, sehingga selalu mendorong bapak untuk berani bergulat untuk hidup baik dengan jatuh bangun itu jauh lebih penting.

Kiranya yang penting bukan berdebat dan mempertentangkan iman; yang penting adalah saling mengerti dan memahami adanya perbedaan keyakinan. Kedepankan perwujudan iman dalam hidup sehari-hari itu jauh lebih baik,” jawab saya.
 
Perdebatan, saling merendahkan keyakinan orang lain sering kali menjadi sumber permusuhan dan kebencian.

Dialog iman bukan untuk berdebat, bukan pula untuk mencari siapa yang paling baik dan paling benar akan tetapi untuk lebih saling mengerti dan memahami sehingga dari situ akan muncul sikap saling menghormati satu dengan yang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes, dialog Yesus dan Nikodemus menjadi dialog yang menyelamatkan karena ada kehendak untuk mengerti dan memahami.
 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version