Home BERITA Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Susahnya Menjadi Orang Sempurna

Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Susahnya Menjadi Orang Sempurna

0
Ilustrasi: Hidup bahagia. (Ist)

Luk 17:1-6

Semua orang meyakini, “tidak ada manusia yang hidupnya sempurna”. Kita semua pernah jatuh dalam pelbagai bentuk kesalahan.

Berangkat dari kerapuhan seperti itu, kita bisa memahami bahwa di balik peristiwa ketidakimunan manusia pada kelemahan, terurai sabda Allah yang menyebut, “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”(Kej 6:3).

Mengapa Allah membatasi Roh-Nya kepada manusia? Karena jauh sebelumnya, manusia gagal menghidupi komitmennya dengan Allah (bdk. Kej 3:1-24).

Bisa dikatakan, manusia yang hidup zaman awal itu adalah produk gagal. Sekarang sisa produk gagal ini, tidak hanya akan berhadapan dengan susah payah mempertahankan hidupnya, tetapi di dalam upaya untuk mempertahankan hidupnya, dia akan disandara oleh kutukan Allah sebelumnya.

Kita sebagai generasi dari produk gagal awal ini, akan tetap berhadapan dengan kelemahan itu. Bahkan bila kita tidak bersusah payah dan berjeri lelah di dalam membangun kembali relasi yang sempat retak dengan Allah itu, maka kita siap-siap mengikuti mereka menjadi manusia gagal.

Sebagai keturunan orang gagal, terkadang dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita tersandung jatuh karena tergoda oleh banyak godaan ini dan itu.

Terkadang kita putus asa dan bisa kehilangan harapan hidup dikala kita kehilangan kontak dengan Allah. Lebih serem lagi, bila sesama tidak sama sekali mendukung perjuangan hidup ini, malah rasanya tambah gagal.

Untuk itu, apabila Tuhan Yesus melalui Injil hari ini, kembali mengingatkan kita supaya tidak boleh lagi hidup sebagai orang yang suka merasa diri hebat, benar, bisa, saleh dan sempurna.

Bila sesamamu berulang kali berbuat salah kepadamu dan berulang kembali dia datang meminta pengampunan kepadamu, maka ampunilah kesalahannya.

Dia berkata, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni”. (Luk 6:37)

Relasi yang sempat retak oleh karena ulah leluhur kita di awal dengan Allah hanya bisa pulih melalui pintu rekonsiliasi yang disempurnakan oleh darah Kristus di salib.

Darah yang bercucur dan berharga ini, mengajak kita untuk tetap menghidupi terus sikap mengasihi dan mengampuni sesama. Ingat musuh kegagalan itu adalah hantu bukan Tuhan.

Renungan: “Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa. Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia?” (Sir 28:2-3).

Tuhan memberkati.

Apau Kayan, 11.11.2019

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version