Gerakan Opus Dei, Cinta sebagai Wujud Kerasulan Sederhana

0
467 views
Kanonisasi St Josemaria Escriva, sosok tokoh pendiri Gerakan Opus Dei. (Ist)

HARI Senin, tanggal 27 Juni 2022 pukul 18.00 WIB lalu di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya telah berlangsung Perayaan Ekaristi khusus. Dengan intensi umum untuk menghormati Santo Josemaria Escriva, sosok pendiri Gerakan Opus Dei.

Kanonisasi Josemaria Escriva

Perayaan dies natalis St. Josemaria Escriva ini semestinya dirayakan oleh Gereja pada tanggal 26 Juni, hari Minggu.

Tanggal 26 Juni 1975 adalah hari meninggalnya Santo Josemaria Escriva. Ia dikanonisasi pada tanggal 6 Oktober 2002 oleh Sri Paus St. Johanes Paulus II dalam sebuah Perayaan Ekaristi di lapangan Basilika Santo Petrus yang dihadiri sekitar 450.000 umat dari lima benua.

Dalam kesempatan itu, Sri Paus St. Johanes Paulus II memberi julukan kepada Mgr. Josemaria Escriva sebagai Santo untuk “kehidupan biasa sehari-hari”.

Perayaan di Surabaya

Di Surabaya, Perayaan Misa Kudus dengan konselebran utama Vikjen Keuskupan Surabaya Romo Josef Eko Budi Susilo bersama Romo Ignatius Sadewo Setiabudi Pr, dan Romo FX Zen Taufik dari komunitas Opus Dei.

Romo F. Zen Taufik, dalam homilinya, menceritakan pengalaman ketika bergabung di Opus Dei pada saat studi di Jerman. Saat itu, kata dia, sebagai awam yang selibat.

Meski telah bergabung sejak 1974, namun ia mengaku belum mengenal secara pribadi dengan sosok tokoh pendiri Opus Dei. Hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya dan kotbah-kotbahnya.

Suatu saat, tiba-tiba penghuni komunitas di kumpulkan di kapel, pimpinan komunitas memberi pengumuman bahwa Mgr. Josemaria Escriva telah wafat. Seketika tampak kesedihan yang mendalam di wajah anggota komunitas.

Seperti kehilangan anggota keluarga yang telah hidup bersama seumur hidupnya. Di komunitas Opus Dei, ditekankan hidup dalam sebuah keluarga, seperti tradisi Gereja Katolik yang mempunyai semangat kekeluargaan di antara anggota-angotanya.

Perayaan Ekaristi Syukur St. Josemaria Escriva. (Alrin)

Menyadari arti cinta

Bicara tentang kekeluargaan sangat penting sekali. Perayaan Hati Kudus Yesus adalah bentuk bukti Tuhan mencintai kita yang adalah anak-anak-Nya.

Kita belum sadar bahwa Tuhan adalah cinta. Dalam hidup satu keluarga, cinta itu penting sekali. Tidak ada keluarga tanpa cinta. Gereja adalah keluarga, artinya kita harus menyadari di dalam Gereja ada Cinta.

Cinta itu siapa? Ya, Tuhan itu sendiri.

Semangat cinta penting untuk dipelihara, yaitu dengan menguatkan kasih. Sering kali kita belum menyadari makna kasih yang Gereja Katolik ajarkan. Jika itu terjadi, artinya kita tidak menjalankan apa itu cinta sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. 

Cinta sejati selalu menuntut pengurbanan, mengurbankan diri sendiri untuk pribadi yang kita cintai agar dia bahagia.

Perceraian

Salah satu kirisis dalam keluarga Katolik adalah perceraian. Hal ini terjadi karena sudah tidak merasakan semangat cinta lagi, mereka mungkin tidak menemukan contoh bentuk cinta sejati yang sesungguhnya.

St. Josemaria Escriva selalu menekankan “kalian menjadi anggota Opus Dei adalah anak dari doa dan pengantaraan diri saya”.

Ia selalu menekankan bahwa dia “bapak” para anggota Opus Dei dengan tugasnya membina jiwa-jiwa. Pada waktu itu, banyak tawaran sampai di telinganya agar dia mau menduduki  jabatan penting di Vatikan, Namun, itu selalu ditolaknya.

Peran ini menjadi model dan teladan bagi para anggotanya, bahwa mencintai Tuhan bisa diwujudkan melalui peran dan tugas keseharian di lingkungan terdekat kita.

Peran sebagai awam

Di dalam Gereja Katolik banyak sekali Santo Santa yang bisa dijadikan teladan iman, tetapi sebagian besar mereka ada sebelum abad 19.

Peran mereka adalah mewartakan teladan kasih dan cinta di dalam Injil. Namun di masa sekarang yang serba modern, umat awam juga dituntut dalam misi evangelisasi menurut peran dan statusnya masing-masing, baik di dalam keluarga, pekerjaan dan lingkungan sosialnya.

Sebagai anak, Tuhan adalah Bapa kita. Maka satu hal yang pasti, bahwa misi kita adalah pergi ke seluruh dunia mewartakan Injil. Tetapi misi ini bukan hanya milik para imam dan biarawan biarawati saja. 

Ini juga merupakan misi bagi umat awam. Kenapa? Karena ini adalah konsekuensi dalam mencintai Tuhan.

Bapa Suci Paus Fransiskus menyatakan dalam pewartaan harus dijiwai semangat dan  cinta. Sehingga kita akan merasa senang dalam mengerjakannnya. Karya kerasulan dan evangelisasi apapun bentuknya, harus konkrit dan berdampak nyata.

Selanjutnya, Romo FX Zen Taufik bercerita tentang dua gadis kecil sebaya seusia sekolah dasar yang sedang berdoa di depan patung Bunda Maria di belakang Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya.

“Hati saya tersentuh, mereka ini melakukannya dengan cinta. Inilah kerasulan yang lahir atas dasar cinta. Satu gadis mengajak temannya berdoa dengan kesungguhan hati.

Untuk melaksanakan sebuah karya kerasulan tidak perlu membuat organisasi, anggaran dasar, harus ada pembiayaan dan lain sebagainya.

Karya Kerasulan pribadi yang sederhana adalah dari teman ke teman. Inilah bentuk kerasulan persahabatan yang selalu ditekankan oleh St. Josemaria Escriva kepada kita.

Kalau kita sungguh mencintai Tuhan maka kita harus  siap sedia membantu sesama kita, menjadi seorang sahabat yang selalu peduli dan bersemangat membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan,” ungkapnya.

Usai Perayaan Ekaristi, berlangsunglah acara ramah tamah. (Alrin)

Perayaan sederhana

Setelah Perayaan Ekaristi selesai, para anggota Opus Dei, sahabat dan tamu undangan menikmati kebersamaan di halaman depan Gereja Hati Kudus Yesus.

Juga ada sten buku Muraibooks Publishing yang menjual aneka buku-buku rohani dan beberapa buku  karya St. Josemaria Escriva. Seperti buku Seirama Langkah Tuhan – biografi St. Josemaria Escriva, Jalan (Camino), Jalan Salib, rosario, dan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here