Home BERITA Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit...

Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1)

9

Pengantar Redaksi:

Redaksi Sesawi.Net menerima email sangat panjang dari Pastor Pertapa Diosesan KAS Romo Martin Suhartono Sanjoyo, pastor Jesuit selama 40 tahun.  Mulai hari Selasa tanggal 8 September 2015, ia  resmi melepaskan keanggotannya sebagai Jesuit dan ‘beralih’ menjadi seorang imam eremit  diosesan. Dengan mengucapkan kaul publik sebagai eremit diosesan KAS, maka dengan sendirinya keanggotaan Romo Martin sebagai Jesuit juga ‘gugur’. Maka mulai tanggal 8 September 2015 itu pula, ia masuk inkardinasi menjadi imam eremit diosesan Keuskupan Agung Semarang.

Romo Pertapa Martin Suhartono Sanjoyo –ahli tafsir kitab suci lulusan Institut Biblicum Roma dan kemudian Universitas Cambridge Inggris– berbagi cerita dengan Sesawi.Net dengan mengisahkan kisah perjalanan hidup dan perjalanan spiritualnya untuk para pembaca sekalian.

Redaksi juga mengucapkan banyak terima kasih atas budi baik Romo Antonius Dadang Hermawan dari Keuskupan Agung Semarang yang rela berbagi gambar foto menakjubkan untuk keperluan rangkaian tulisan serial ini.

MH

——————–

INI ucapan syukur dan terima kasih kami.

Sendangsono, 8 September 2015.

Saudari-saudara yang terkasih,

Terima kasih tak terhingga saya ucapkan kepada Serikat Yesus dan Keuskupan Agung Semarang (KAS). Berkat kemurahan hati kedua pihak ini saya diperkenankan mengikrarkan kaul kekal secara publik sebagai eremit diosesan, pertapa keuskupan.

Terima kasih kepada Serikat Yesus yang telah bermurah hati ngopeni, merawat dan membesarkan saya, selama 40 tahun dan sekarang dengan ikhlas membiarkan saya pergi. Terima kasih kepada para Yesuit, di Indonesia dan luar negeri, yang mengirimkan dukungan bagi kaul kekal saya ini lewat email, surat, SMS, dan terutama dengan kehadiran langsung di Sendangsono ini.

martin1
Mengucapkan kaul publik di depan ribuan umat katolik di Sendangsono, Romo Pertama Martin Suhartono Sanjoyo bersungkur mengucapkan kaulnya di hadapan Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta di Sendangsono, Selasa tanggal 8 September 2015. (Courtesy of Romo Dadang Hermawan Pr)

Terima kasih kepada Mgr. Johannes Pujasumarta yang masih berkenan menerima saya dalam senja usia saya ini, 60 tahun. Terima kasih juga kepada para imam diosesan di KAS yang menyemangati saya, terutama yang pernah menderita sebagai mahasiswa akibat Calekul saya di Kentungan; sejauh saya tahu tak ada yang memprotes penerimaan saya ini. Terima kasih kepada umat Katolik di KAS, paling tidak yang pernah mengenal saya atau mendengar tentang saya.

Antara kaul privat dan kaul publik

Mendengar tentang acara saya hari ini, ada yang bertanya apa itu kaul publik.

Kaul publik adalah pengikraran nasihat-nasihat injili oleh kaum beriman kristiani yang resmi diakui dan dikukuhkan oleh Gereja. Yang   pada umumnya diikrarkan adalah tiga nasihat injili: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Pengakuan ini memberikan status hukum tertentu dalam Gereja pada yang berkaul dengan segala hak dan kewajibannya. Kaul publik ini biasanya diikrarkan orang dalam suatu lembaga/tarekat hidup bakti, kecuali dalam hal kaul publik sebagai eremit, yang berdiri sendiri di luar lembaga/tarekat hidup bakti.

Di awal tahun 1978 saya mengikrarkan kaul publik dalam Serikat Yesus. Namun sebenarnya, dua tahun sebelum kaul publik itu, saya pernah mengikrarkan kaul juga, hanya saja bukan secara publik melainkan secara privat.

Privat bukan dalam arti sendirian tidak disaksikan oleh siapa-siapa; bisa saja disaksikan orang lain, tetapi peristiwa ini bukanlah suatu pengakuan dan pengukuhan oleh Gereja, melainkan hanya merupakan devosi pribadi saja. Tentu saja kaul privat, sebagaimana juga kaul publik, membawa kewajiban moral untuk menepati kaul bagi yang mengikrarkannya.

Pada tanggal 29 Desember 1976 saya mengikrarkan kaul privat di Kapel Novisiat SJ Girisonta. Yang menjadi saksi adalah am. Rm Magister I. Haryata SJ dan teman-teman novis dari dua angkatan. Beberapa di antara mereka sekarang ini hadir juga di Sendangsono, ada yang masih Yesuit, ada yang sudah sudah meninggalkan SJ. Saat itu hanya dua kaul yang saya ikrarkan, kemiskinan dan kemurnian.

Tidak ada kaul ketaatan karena saya sudah memutuskan meninggalkan Novisiat SJ dan akan hidup sendirian secara privat sebagai pertapa tanpa lembaga/tarekat hidup bakti. Waktu itu saya meniatkan berkaul untuk seumur hidup, tapi dicegah oleh Rm Haryata dan dibatasi hanya untuk setahun saja selama 1977.

Bertelungkup di undakan Gua Maria Sendangsono, Romo Pertapa Martin Suhartono Sanjoyo mohon rahmat untuk kemudian mengucapkan kaul publiknya kepada Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta (duduk berlutut di sudut kanan/Courtesy of Romo Dadang Hermawan)

Mengapa saya waktu itu sampai terdorong sedemikian rupa untuk menjadi pertapa “partikelir” alias pertapa “swasta”?

Berawal dari Sabda Tuhan

Semua ini berawal hanya dari membaca Kitab Suci pada saat yang keliru, tempat yang keliru dan dengan metode yang keliru juga. Waktu itu akhir tahun kedua novisiat SJ. Saya kebingungan musti berbuat apa di akhir novisiat itu. Akan mengucapkan kaul sebagai SJ atau keluar? Saya mohon petunjuk Tuhan lewat SabdaNya yang tertulis dalam KS.

Caranya demikian:   sambil tutup mata saya buka KS secara acak dan jari telunjuk saya hentikan secara acak juga di satu bagian halaman yang terbuka itu. Begitu mata saya buka, saya lihat apa yang saya tunjuk. Saat itu jari saya menunjuk Kitab Ratapan 3:28: “Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau Tuhan membebankannya.”

Cara memakai KS seperti ini tidak saya anjurkan. Tapi ya, oke lah kalau memang lagi desperate banget seperti saya waktu itu. Mengapa? Ya masih untung yang saya buka adalah ayat tersebut, coba kalau yang tertulis adalah Matius 27:5, “Dan Yudas pun pergi dari situ dan menggantung dirinya”?

Nah, apa yang terjadi sesudah itu? Ayat Ratapan 3:28 tersebut bagaikan melompat keluar dari Alkitab. Saya seperti dibawa ke suatu dimensi yang lain. Saya “melihat” diri saya berjubah putih duduk tafakur di dalam gua. Dan saya pun saat itu juga “mengerti” bahwa Tuhan menghendaki saya menjadi pertapa. Kejelasan ini cuma di awalnya saja.

Sejak itu hanya ada malam gelap jiwa bagi saya. Tuhan seakan membiarkan saya mencari sendiri apa yang musti dilakukan untuk memenuhi panggilan itu tanpa suatu kepastian pun akan kehendak-Nya. Suatu inspirasi rohani bisa saja benar, namun tafsiran terhadap inspirasi itu mungkin saja tidak tepat, begitu nasehat St.Ignatius dari Loyola.

Mengembara dalam ketidakpastian
Untunglah Rm Ignatius Haryata SJ dan terutama Rm A. Sunarja SJ, Provinsial SJ pertama di Indonesia, menemani saya dalam discernment dan meneguhkan bahwa jalan itulah yang tampaknya musti saya tempuh. Rm Sunarja mengatakan bahwa seperti adik ibu saya, Bruder Servatius FIC telah menjadi pionir dalam pelayanan resmi Gereja Katolik Indonesia terhadap kaum miskin, saya akan menjadi pionir dalam hidup eremit di Indonesia. Yah, saya anggap itu hanya sekedar bombongan dari seorang romo sepuh yang mau menyemangati saya saja. Rm Sunarja SJ (kakak kandung Mgr. Leo Soekoto SJ- red) mendampingi perjalanan rohani saya selama tahun pengembaraan 1977 itu.

Sendangsono punya tempat khusus dalam peziarahan saya. Di tahun 1977 itu, dalam perjalanan kaki dari Jakarta menuju Pertapaan Karmel di Jawa Timur, beberapa orang Katolik yang saya jumpai menyuruh saya mampir Sendangsono. Sebelumnya sama sekali tak pernah terbersit niat di hati saya untuk melewati Sendangsono.

Ketika sampai Sendangsono, hari sudah gelap, saya mendaki jalan salib sambil berdoa. Waktu itu jalan belum sebagus sekarang, diselingi keplesat-pleset karena habis hujan. Para peziarah lain menjauhi saya dengan ketakutan, mungkin mereka mengira saya orang gila, komat-kamit sendirian; mungkin juga karena pakaian bekas karung terigu saya sudah dua-tiga minggu tak dicuci.

Sungguh saya penuh kenangan terima kasih kepada mereka semua yang telah menerima saya dan memberikan tumpangan serta makan selama 37 hari perjalanan Jakarta Pujon. Sebagian besar di antara mereka adalah umat Islam; umat Katolik biasanya ragu memberikan tumpangan pada orang asing tak dikenal karena mengira saya penipu atau orang stres.

Umat Muslim dengan tangan terbuka menerima saya karena saya seorang musafir; ada yang mengatakan, “Takutilah doa seorang musafir”.

Malam hari itu di depan Gua Sendangsono, saya mohon petunjuk Bunda Maria, apakah ini memang jalan yang benar untuk saya. Tak ada satu petunjuk pun yang diberikan. Andaikata pun ada, mungkin saya terlalu lelah saat itu sehingga tertidur selagi berdoa di bawah patung Bunda. Ternyata baru sekarang sesudah 40 tahun doa saya itu terjawab, bahkan persis di Sendangsono ini pula. Terima kasih, Bunda!

Di awal 1977 itu Rm Yohanes Indrakusuma OCarm (sekarang CSE) baru beberapa bulan memulai eksperimen kembali ke semangat dasar Ordo Karmel dengan membuka pertapaan bersama Rm C Verbeek OCarm di desa Ngroto, Pujon, Jawa Timur. Saya amat berterima kasih kepada kedua pertapa Karmelit ini yang menampung saya berbulan-bulan di sana meskipun saya tak punya niat untuk bergabung dengan, baik Ordo Karmelit, maupun tarekat baru yang sedang dirintis oleh Rm Yohanes.

Terima kasih kepada para Romo dan Frater dari Biara Karmel, Batu, yang menerima saya setiap akhir pekan semasa saya di Ngroto dan memberi kesempatan makan daging.

Memberi selamat atas kaul kekal saya ini, Rm Yohanes menulis dari Lembah Karmel, Cikanyere, Jawa Barat: “Martin, semoga kali ini engkau benar-benar menemukan panggilanmu yang sebenarnya.”

Dari sebuah pondok hening di kebun Biara Karmel di Batu, Malang, Rm Verbeek menulis: “Saya ikut bersyukur kepada Tuhan atas rahmat pilihan-Nya ini bagi Romo. … Semoga kerinduan hati Romo akan Yesus makin bernyala-nyala dan membakar segala hal lain sehingga benar-benar tinggal Dia dalam hati Romo dan Romo dalam Hati-Nya.”

Sesudah beliau berdua ini, saya berterima kasih pula kepada Abbas Frans Harjawiyata OCSO dan para rahib Trappist yang menerima saya hidup di dalam biara bersama mereka di tahun 1977 meskipun saya tak punya niat untuk masuk Ordo Trappist. Terima kasih kepada Abbas yang sekarang, Rm Aloysius Gonzaga Rudiyat OCSO, yang waktu itu sebagai novis membimbing saya bekerja di perpustakaan.

Para pertapa Karmelit dan para rahib Trappist ini begitu bermurah hati kepada saya, mungkin karena saya selagi muda itu kelihatan bagai pemuda linglung kehilangan arah dengan tampang yang memelas banget-banget. (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara dalam Ketegangan dan Ketersembunyian (2)

Kredit foto: Suasana peristiwa pengikraran kaul privat menjadi publik Romo Pertapa Martin Suhartono Sanjoyo di hadapan Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta di Sendangsono, 8 September 2015. Peristiwa ini menandai terjadinya niat lama Romo Martin untuk menjadi seorang pertama (eremit), mundur dari Serikat Jesus sebagai Jesuit setelah 40 tahun lamanya dan menjadi seorang eremit diosesan di Keuskupan Agung Semarang. (Courtesy of Romo Antonius Dadang Hermawan Pr/KAS)

9 COMMENTS

  1. […] BANYAK  orang juga bertanya, apa pakaian resmi saya sebagai eremit diosesan. Karena bukan termasuk tarekat religius, sebenarnya tak perlu juga saya merancang pakaian religius tertentu. Yesuit pun tak memiliki pakaian seragam religius, melainkan hanya mengikuti cara berpakaian para imam diosesan setempat. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1) […]

  2. […] ADA  yang bertanya, apakah saya akan merekrut pengikut atau akan mendirikan suatu tarekat baru. Saya selalu menjawab, tidak. Seperti Anda lihat dari kisah saya ini, memimpin atau membimbing diri sendiri saja sulit sekali bagi saya sehingga baru setelah 40 tahun mengembara ke sana ke sini akhirnya saya sampai ke kaki Lawu untuk mengembara lagi dalam peziarahan batin. Saya tidak merasa terpanggil memiliki pengikut atau anggota. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1) […]

  3. […] MARTIN  Suhartono sudah tak ada lagi! Mohon dimaafkan, saya pergi begitu saja, raib tanpa pamit. Dulu di Yogyakarta, saya dijuluki “Biksu Thong” karena gundul plontos. Sesudah tiga tahun di Thailand, saya sekarang menjadi biksu beneran, hanya saja, biksu Katolik alias rahib, bernama “Ambrose-Mary”. (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1) […]

  4. Sharing pengalaman iman yg dahsyat, dengan ketekunan dan kesabaran tingkat tinggi……
    Saya jadi penasaran, Apakah ini Rm. Martin Suhartono SJ yg dulu mjd pembimbing skripsi saya di FTW? Wktu itu sekitar thn 1997. Saya bersyukur pernah dibimbing Rm Martin Suhartono SJ, Dengan kapasitas akademik yg tinggi, beliau tetap sabar dan rendah hati membimbing saya, dengan hasil akhir “A”… Beberapa thn kemudian, saya ketemu beliau di depan pasar Bringharjo Yogyakarta, dengan kaos yg agak kumal, tetapi wajahnya tetap memancarkan cahaya kebaikan dan kesederhanaan seorang Martin Suhartono..

    Mohon redaksi Sesawi dapat menyampaikan salam hormat saya kepada beliau….

  5. Salut atas kesetiaan romo untuk berpegang teguh pada panggilan “yang luar biasa” ini. Romo juga seorang penulis yang “gaul” dan apa adanya.
    Anyway, bagaimana kalau ada orang yang “memaksa” untuk mengikuti pola hidup Romo dan menjadi pengikut?:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version