Home BERITA Lentera Keluarga – Surutnya Kepemimpinan Daud

Lentera Keluarga – Surutnya Kepemimpinan Daud

0

Tahun A-2. Pekan Biasa IV
Rabu, 5  Februari 2020.
PW S. Agata, Perawan dan Martir
Bacaan: 2 Sam 24:2.9-17; Mzm 32:1-2.5.6.7; Mrk 6:1-6

Renungan:

PIKIRAN Daud diwarnai kekalutan dan keinginan untuk mengukur kekuatan pasukan. Sebagai pemimpin, ia melakukan kesalahan lagi. Ia mengadakan sensus tanpa perintah Allah dan itu tidak dibenarkan karena umat adalah milik Allah (Kel 30:12; bdk. 1 Taw 21:1-17). Kembali ia sadar setelah ia melakukan dosa. Dan Allah memberikan 3 pilihan: 3 tahun di negeri atau tiga bulan menjadi pelarian, atau tiga hari penyakit sampar. Dua pilihan dengan korban banyak orang dan 1 pilihan dengan korban satu orang (dia sendiri). Ia memilih hukuman paling pendek 3 hari, dengan pengorbanan 70 ribu orang. Dan ia merasa berdosa lagi.  Kehancuran keluarga membawa Daud kepada kehancuran dalam kepemimpinannya sebagai raja. Tindakannya gegabah dan mencari kejayaannya walaupun itu mengorbankan banyak rakyatnya.

Tragedi keluarga membawa dampak kepada kepemimpinan kita baik dalam pekerjaan maupun pelayanan. Kita bias dalam kepemimpinan: mengandalkan diri sendiri dan tidak mendengarkan Allah; gegabah dan mengikuti perasaan-situasi hati; menyesatkan dan mencari dukungan; dan berpikir untuk kebaikan harga diri pribadi daripada kebaikan orang yang kita pimpin. Ketidakbijaksanaan kita sebagai pemimpin menghancurkan orang dan komunitas yang kita pimpin. Sungguh kita tidak hanya bertanggungjawab terhadap kesalahan dan dosa yang kita buat pribadi, tetapi juga kita menanggung hidup banyak orang dan komunitas yang telah kita korbankan. 

Sikap dewasa,  bijak dan benar juga harus kita jalankan sebagai imam dan religius, yang memimpin sebuah lembaga ataupun paroki. Di balik kebijakan dan keputusan-keputusan yang kita ambil ada jiwa-jiwa umat yang kita layani. Jangan sampai hidup iman mereka kita korbankan karena faktor emosional, keinginan pribadi dan sikap gegabah kita. Setiap keputusan kita itu ada resikonya; dan sebagai gembala, kita memilih resiko yang paling sedikit untuk kebaikan orang-orang yang kita layani, dengan keberanian kita untuk mengalah dan memberikan diri. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana Daud sebagai pemimpin bertindak gegabah, bertobat dan menyesal; dan gambarkan pula akibat dari keputusan yang dia ambil.

Refleksi:

Apakah aku sebagai seorang pemimpin belajar untuk bijak, benar dan dewasa dalam mempertimbangkan dan memutuskan segala sesuatu bagi kepentingan orang-orang yang kita layani?

Doa: 

Ya Bapa, semoga dalam situasi apapun, kami tetap mampu berpikir, berperasaan dan bertindak jernih dalam mengambil keputusan dan tindakan. 

Perutusan:

Dalam situasi seberat apapun, jadilah pemimpin yang berpikir dan berhati jernih; berikanlah yang terbaik kepada orang-orang yang anda layani, walaupun itu berarti bahwa anda harus berkorban untuknya. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version