Home KAUM MUDA Petualangan Sperma, Sang Pemenang atau Pecundang?

Petualangan Sperma, Sang Pemenang atau Pecundang?

0

[media-credit name=”google.com” align=”alignleft” width=”300″][/media-credit]DULU waktu saya masih awal-awal masuk kuliah, ada grup band yg main di penutupan masa orientasi di fakultas saya. Saya tidak ingat nama grup bandnya ataupun anggotanya, tapi lagunya tidak akan saya lupakan. Si vokalis yang kurus dan berkulit putih menyanyikan bait refrain dengan penuh perasaan dan melekatlah satu baris dari bait itu itu di kepala saya. Sisa lagunya saya tidak ingat, hanya satu baris itu. Liriknya boleh sendu, tapi hentakan musiknya sangat merdu.
“Kami adalah para pecundang cinta yang selalu kalah dalam hal cinta.”

Entah karena beberapa cowok yang saya taksir malah naksir cewek-cewek lain. Atau entah bagaimana saya menjadi sering menyanyikan bait yang tak pernah selesai itu.

Temen saya yang cantik banget protes besar. Dia selalu bilang, “In, kita itu pemenang cinta!” tiap kali dia mendengar saya menyanyikan lagu itu seperti kaset rusak. Saya bergeming. Apa boleh buat, waktu itu saya masih sering sinis dan belum menemukan argumen yang kuat untuk mendukung komentar optimisnya.

Menang-kalah dalam kehidupan

Dalam kehidupan yang sebenarnya, kadang saya merasa menang dan kalah dalam banyak hal. Merasa. Yah, semua memang kadang terasa seperti hanyalah ilusi, seperti kosong padahal isi, atau isi padahal kosong.

Baru-baru ini saya merasa seperti jatuh ke jurang yang tak ketahuan dasarnya. Bagaikan main Kora-kora di Ancol tapi posisi perahunya menghujam turun terus, ga naik naik. Rasa kalah itu seperti menghantui dan hanya hilang sesaat sewaktu saya mengobrol dengan narasumber atau mengetik dikejar deadline.

Hari ini, saya tiba-tiba ingat sama satu baris lagu itu. Saya menjadi bertanya-tanya… Pecundangkah kita kalau kalau kita kalah dalam suatu drama kehidupan?

Kisah sang Sperma

Tiba-tiba, saya teringat sebuah cerita yang sering diceritakan orang dalam berbagai versinya.
Cerita tentang petualangan si Sperma. Cerita itu sesungguhnya tentang kita.

Saya jadi kembali diyakinkan kalau kita semua adalah pemenang! Perjalanan si Sperma memang singkat, tapi mendebarkan dan taruhannya adalah nyawa. Dokter Charles Lindemann menerangkan dengan gamblang kalo air mani cowok yang subur umumnya sebanyak 2 sampai 5 mililiter atau sekitar satu sendok teh sekali ejakulasi. Satu mili air mani mengandung sekitar 100 juta sperma. Dan, rata-rata sekitar 280 juta sperma musti berjuang di medan laga untuk mencapai sasaran!

Dalam perjalanan yang melelahkan dan penuh cobaan itu, hanya sedikit sperma yang berhasil masuk sampai uterus. Dari yang sedikit itu, hanya segelintir saja yang berhasil masuk saluran telur atau Fallopian Tube (Tuba Falopi). Sang telur atau Sang Target berada di ujung pojok Tuba Falopi, menunggu dengan anteng, mungkin sambil menonton TV dan minum kopi. Duduk santai kayak di pantai layaknya si Ande-Ande Lumut menunggu para Kleting sampai ke rumah Mbok Rondo Dadapan.

Halangan dan hambatan

Perjuangan segelintir sperma yang masih hidup itu belumlah usai. Masalahnya Sang Target diselimuti lapisan tebal yang disebut Corona Radiata (Bukan.. bukan merek mobil). Lapisan tebal itu berfungsi sebagai penghalang bagi sperma yang akan masuk. Gila kan? Memang sel telur tidak didesain untuk mudah ditembus! Ada pagar betis! Cobaan! Halangan! Setiap sel sperma sebenarnya mengandung enzim yang bisa meruntuhkan pagar penghalang itu.. Tapi tidak  bakalan cukup kalau yang berjuang cuma satu sperma.

Maka dari itu, para sperma yang berhasil mencapai Sang Telur mengeluarkan sisa kekuatan yang paling akhir. The ultimate power! Dibutuhkan serangan bersama yang kokoh, strategi yang jitu dan kekuatan penuh untuk mendobrak dan meruntuhkan pagar Corona Radiata.

Meskipun setiap sperma sudah mempertaruhkan setiap lapis kehidupannya dalam lomba Triathlon yang sadis ini…umumnya hanya ada satu sperma yang menjadi juara. Umumnya hanya ada satu sperma yang naik ke podium! Dan itu adalah kita!
Kita adalah sang pemenang

Kita sudah ditakdirkan untuk menang. Terpuruk tak apa, yang penting bangkitlah.  Proyek belum berhasil? Cari nasehat yang lebih ahli. Masak ga enak? Coba lagi dan lagi. Bertengkar sama keluarga? Makanlah es krim sambil menjernihkanlah pikiran.
Tidak dilirik oleh gebetan? Man, jatuh cinta memang buat para pemberani doang kok!  Masih jomblo? Woi, ada 230 juta orang yang siap dicintai di negri ini. Ingat, kita itu pemenang. Kita sperma yang berhasil hidup dan mencapai sasaran!

Akhirnya pagi dini hari ini, saya bisa mengamini kata-kata teman saya. Benar. Kita adalah para pemenang cinta.

*) Dua sperma yang mencapai dua sel telur yg berbeda sangat jarang. Konon perbandingannya 1:60. Itulah sebabnya mereka yang kembar fraternal begitu istimewa. Mereka menang bersama!
Perjuangan sperma dikutip dari http://www2.oakland.edu/biology/lindemann/SpermFacts.htm dan diberi bumbu kasih secukupnya lalu dibungkus dengan niat baik.

Indah Setiawati, seorang wartawati yang bekerja di sebuah koran berbahasa Inggris dan tinggal di Jakarta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version