Home LUMBUNG GAGASAN POJOK VATIKAN Pijar Vatikan di Tahun Iman: Belum Pernah Ada Paus Jesuit dan Sebaiknya...

Pijar Vatikan di Tahun Iman: Belum Pernah Ada Paus Jesuit dan Sebaiknya Bergelar MBA? (16C)

0

 Cardinals enter the Sistine Chapel at th

INI  catatan sejarah masa silam.

Gereja Katolik memiliki sejarah hidup dan perjalanan selama lebih dari 2.000 tahun. Tentu selama itu, ada begitu banyak catatan mengenai Paus, sebagai pimpinan tertingginya.  Dari 265 Paus yang pernah ada sampai sekarang ini (Paus Benedictus XVI adalah Paus yang ke-265), benua Eropa adalah benua yang paling banyak “menyumbang” Paus.

Sejarah mencatat, Eropa pernah memiliki 254 Paus. Italia menjadi satu-satunya negara yang pernah memiliki 212 Paus. Rekor yang tak akan pernah tertandingi negara mana pun!

Selain Italia, negara Eropa lain yang pernah memiliki Paus adalah Perancis. Ada 15 Paus yang berasal dari Perancis, yaitu Paus Silvester II, Niccolas II, Urbanus II, Callistus II, Urbanus IV, Clement IV, Innocenzius V, Martinus IV, Clement V, Yohanes XXII, Benedictus XII, Clement VI, Innocenzius VI, Urbano V, dan  Gregorius XI.

Yunani juga pernah “menyumbang” Paus bagi Gereja Katolik, yaitu Paus Anacletus, Telesforus, Iginius,  Eleuterius, Anterus, Sixtus II, Dionisius, Eusebius, dan Yohanes VI.

Sementara dalam sejarahnya, Jerman pernah menyumbang 7 orang Paus, yaitu: Paus Gregorius V, Clemens II, Damascenus II, Victor II, Leo IX, Stefanus IX, dan tentu saja Paus “Ratzinger” Benedictus XVI.

  • Dari Spanyol, pernah ada Paus Damascenus I, Callistus III dan Alexander VI.
  • Dari Portugal adalah Paus Yohanes XXI.
  • Dari Dalmazia (kini masuk wilayah bekas negara Yugoslavia) adalah Paus Yohanes IV.
  • Dari Inggris: Paus Adrianus IV.
  • Dari Belanda : Paus Adrianus VI.
  • Dari Polandia : Paus Yohanes Paulus II.
  • Dari Tracia (kini masuk wilayah Eropa tenggara): Paus Cononius.
  • Dari tempat di Eropa yang tidak tercatat dan terdokumentasikan adalah Paus Callistus I dan Paus Caius.
  • Dari kawasan Timur Tengah, juga pernah ada Paus yang memimpin Gereja Katolik, yaitu Paus Anicetus, Yohanes V, Sisinnius, Constantinus dan Gregorius III dari Siria.
  • Dari Tanah Suci, tentu saja ada Petrus sebagai Paus pertama, Paus Evaristus dan Teodorus I.
  • Dari Afrika Romana (wilayah Afrika yang masuk wilayah kekuasaan Roma) adalah Paus Victor I, Milziadius, dan Gelasius I.

Para Paus, selama ini biasanya dipilih di antara para Kardinal atau para Uskup yang berasal dari imam Keuskupan atau imam Praja. Walau begitu, sejarah pernah mencatat ada 34 Paus yang berasal dari Ordo atau Tarekat religius.

  • Ordo Benedectin menyumbang paling banyak Paus, yaitu 17 orang. Para Paus dari Ordo ini adalah Paus Gregorius I, Bonifacius IV, Adeodatus II, Leon IV, Yohanes IX, Leo VII, Stefanus IX, Gregorius VII, Victor III, Urbano II, Pasquale II, Gelasius II, Celestinus V, Clemens VI, Urbano V, Pius VII dan Gregorius XVI.
  • Dari Ordo Santo Agustinus ada 6 Paus, yaitu Paus Eugenius IV, Onorius II,  Innocentius II, Lucius II, Gregorius VIII dan Adrianus IV.
  • Pernah ada 4 Paus dari Ordo Dominikan yaitu Paus Innocentius V, Benedictus XI, Pius V, dan Benedictus XIII.
  • Ordo Fransiskan pernah “menyumbang” 4 Paus, yaitu Paus Nikolas IV dan Paus Sixtus IV (keduanya dari Ordo Fransiskan Saudara Dina) dan Paus Sixtus V dan Clemens XIV dari Fransiskan Conventual.
  • Ada 2 Paus dari Ordo Trappist (Cistercensis), yaitu Paus Eugneius III dan Benedictus XII.

Belum pernah ada Paus Jesuit

Sejarah belum mencatat ada Paus yang berasal dari Ordo Jesuit. Kalau pada Konklaf kali ini, Kardinal Jorge Mario Bergoglio terpilih, ia bakal menjadi Jesuit pertama yang menjadi Paus. Menurut koran La Repubblica, Borgoglio bersaing ketat dengan Ratzinger pada pemungutan suara pemilihan Paus tahun 2005 yang lalu.

Banyak media, menjagokan kembali Kardinal Jesuit dari Argentina keturunan Italia ini. Wait and see!

Jadi, siapa yang akan terpilih?

Sejarah pernah mencatat, ada imam Praja atau imam Ordo, dari Eropa maupun di luar Eropa, yang pernah menjadi Paus. Kali ini?

Pada sebuah wawancara dengan koran La Stampa, Kardinal José Saraiva Martins berpendapat:

“Nei conclavi si deve solo scegliere un papa che abbia chiara la situazione attuale della Chiesa. Non importa se bianco, nero o giallo: la Chiesa non ha colore!” (Pada Konklaf, mesti dipilih seorang Paus yang memiliki pandangan jelas tentang keadaan Gereja sekarang ini. Tidak penting apakah dia itu putih, hitam atau kuning. Gereja tidak punya warna kulit !”).

Kardinal Saraiva Martin sendiri tidak ikut Konklaf 2013, karena sekarang usianya sudah 82 tahun, melewati ambang batas 80 tahun, hak memilih Paus.

Sebagai teolog dengan jiwa missionaris, Saraiva pernah menjadi Rektor Universitas Kepausan Urbaniana. Kemudian Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya menjadi Kardinal, dan pernah memimpin Departemen Pemberian Gelar Santo-Santa. Di bawah kepemimpinannya, gereja memberi gelar para suci yang menjadi contoh pewartaan Injil di daerah misi seperti Bakhita dari Afrika, para martir Cina, Padre Pio (yang sangat populer di Itali), Paus Yohanes XIII, para gembala yang mendapat penampakan di Fatima dan salah satu korban Auschwitz: Edith Stein.

Paus MBA

Sebagai mantan mahasiswanya, saya sangat menyetujui pendapat Kardinal Saraiva itu. Perkaranya, karena keadaan Gereja sekarang yang harus dipandang jelas oleh Paus baru nanti itu persisnya apa? Menjelang pemilihan Paus ini, banyak pendapat, masukan, pemikiran, opini, yang bisa kita simak dari ribuan artikel dan peliputan.

“Keadaan senyatanya” yang sekarang ini dihadapi Gereja Katolik, adalah keadaan yang sungguh besar, berat, kompleks dan rumit. Kalau dinalar pakai benak manusia yang terbatas ini, siapa pun yang akan terpilih menjadi Paus nanti, akan dituntut menjadi seorang “superman”. Bagaimana mungkin ia memimpin 1.2 milyar orang Katolik di seluruh dunia dengan aneka persoalan dan problemanya yang begitu besar?

Kolumnis senior Pastor Thomas Reese dari majalah National Catholic Reporter mengatakan, jangan-jangan yang sebenarnya kita cari dari sosok seorang Paus baru adalah “Jesus Christ with an MBA.” Paus sekarang, menurut Pastur Reese, tidak cukup hanya menjalankan fungsi  “imam, raja dan nabi” seperti Kristus di zaman dulu. Sekarang mutlak ada tambahan fungsi : menjadi seorang manager mumpuni dengan gelar MBA! Anda setuju?

Kalau pun mengenai pendapat Reese ini Anda mungkin tidak setuju, tetapi mengenai yang satu ini pasti Anda setuju:

“If Jesus preached the gospel today, he would also use print media, radio, TV, the Internet and Twitter. Give Him a chance!”

Ini diakatakan oleh Kardinal Scherer, Uskup Agung Sao Paolo Brasil yang menjadi salah satu Kardinal “papabile”.

Kardinal Scherer menuliskan pendapat yang menarik ini pada Twitter-nya tahun 2011. Scherer memimpin 5 juta umat Katolik di Sao Paolo. Ia praktis menjadi Gembala di sebuah Keuskupan dengan pengikut umat Katolik terbesar di dunia.

Kardinal hebat ini sangat giat mengusahakan agar umatNya mengenal dan mencintai Kristus dengan cara dan semangat baru. Ini pula yang kiranya diharapkan banyak orang pada sosok Paus yang baru. Banyak yang berdoa, semoga yang terpilih nanti adalah seorang Paus yang “berotak Benedictus XVI, berjiwa Yohanes Paulus II, dan berhati Yohanes XXIII”.

Ada pula yang bilang : “cukup sudah teolog, filsuf, jago Kitab Suci yang menjadi Paus. Sekarang ini kita butuh seorang jendral!”.

Yang paling banyak adalah harapan semoga Paus nanti benar-benar seorang gembala yang baik, gembala yang mengerti persoalan zaman ini!

Selasa 12 Maret 2013 pukul 6 sore waktu Itali, para Kardinal akan masuk Kapel Sistina. Entah kapan, asap putih mengepul dari cerobongnya, tanda terpilihnya Paus yang baru. Yang pasti, pada jam itu, Konklaf yang paling mendebarkan akan dimulai.

Begitu semua Kardinal sudah masuk Kapel Sistina, Maestro atau Pimpinan Upacara Liturgi Konklaf akan berseru : “Extra omnes !” – semua dipersilahkanke luar!

Hanya para Kardinal pemilih yang tinggal di ruangan Kapel Sistina. Ornamen dan lukisan indah Michael Angelo di atap Kapel Sistina itu akan menjadi saksi bisu pemilihan Paus. Dan kapel pun dikunci. Ini pula asal kata “Konklaf”, yaitu con clavis  dengan kunci!

Kita semua hanya bisa menundukan kepala dan mempersatukan diri dengan para Kardinal, sembari berdoa Veni Creator (Datanglah Roh Maha Kudus). Doa kepada Roh Kudus ini juga menjadi doa dan harapan para Kardinal pada pembukaan Konklaf. Semoga Roh Kudus membimbing dan mengaruniakan kepada kita, seorang Paus yang sesuai dengan kehendakNya. Amin.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version