Home BERITA Po Si Panda, Lord Shen Si Merak dan “Inner Peace”

Po Si Panda, Lord Shen Si Merak dan “Inner Peace”

0

FILM Kungfu Panda 2, Twice The Awesomeness,  yang diputar di bioskop sejak minggu lalu berkisah tentang dua tokoh protagonis dan antagonis. Po si Panda, sang ksatria naga yang merepresentasikan kebaikan, dan Lord Shen si burung Merak, yang merepresentasikan kejahatan.

Baik si Panda dan si Merak punya kesamaan. Masa kecil mereka pedih dan perih.
Si Panda ditinggal orang tuanya dan diadopsi oleh seekor angsa pedagang mie. Begitu perihnya memori masa kecil itu sehingga si Panda selalu bermimpi buruk. Memori ditinggalkan oleh orang tuanya itu tersimpan di relung bawah sadarnya dan berkali-kali sempat melumpuhkannya kesadarannya.

Sementara itu, Shen si Merak, dikobarkan oleh kebencian terhadap orang tua yang telah mengusirnya dari istana. Ia ingin berkuasa dan mewarisi tahta, tapi orang tuanya justru mengusirnya dari istana karena takut ia menyalahgunakan kekuasaan untuk kejahatan.

Ia meninggalkan istana dan kembali dengan dendam membara serta dahaga akan kekuasaan. Shen bilang “Hanya luka yang bisa disembuhkan, sedang codet tetap berbekas,” Hal itu ia katakan untuk menggarisbawahi betapa masa lalu telah meninggalkan bekas luka yang takkan pernah hilang. Luka itu adalah dendam kesumatnya terhadap orang tuanya karena merasa ia telah dibuang.
Dengan kekuatan senjata meriam temuannya, ia merasa bahwa dendamnya akan terpuaskan jika ia berhasil merebut kekuasaan ayahnya. Ia akhirnya berhasil menguasai istana ayahnya. Kendati demikian, ia menginginkan lebih: membuat seluruh Cina berlutut di bawah kangkangannya.
Singkatnya, masa lalu yang tak sempurna yang dimiliki Po dan Shen sama-sama membebani keduanya.

Po dan Shen akhirnya bertemu dalam beberapa duel yang menyiratkan pergulatan pribadi baik si Panda dan si Merak dalam upaya berdamai dengan masa lalu suram mereka.

Kisah pertarungan berpuncak pada keputusan pribadi yang membuat Po si Panda dan Shen si Merak berakhir dengan hasil yang bertolak belakang.

Paradoks, begitulah yang terjadi. Po justru menemukan kekuatan dirinya dan menemui takdirnya sebagai pahlawan pembela kebenaran ketika ia berdamai dengan masa lalunya. Sebaliknya, Shen justru kehilangan segala-galanya karena ia mengandalkan pada kekuatan lain di luar dirinya, sedangkan kesadarannya dibutakan oleh nafsu berkuasa.

Inner peace
Kedamaian batin adalah kunci untuk semuanya, begitu ajar guru Po, Shifu. Shifu mengatakan bahwa ia butuh lebih dari 50 tahun untuk berlatih guna mencapai damai batin. Kedamaian batin tercapai manakala sang pribadi mampu mengambil jarak dan ‘lepas bebas’ terhadap segala hal yang dahulunya mendikte hidupnya.

Po mulanya didikte oleh keingintahuannya untuk menemukan siapa dirinya, darimana asal muasalnya dan masa lalunya. Ia akhirnya terbebas dari semuanya itu justru ketika dia memilih memeluk ‘ayah’nya si angsa dan merengkuh kehidupan sejati yang tengah ia hadapi. Ia mencapai kedamaian batin dalam waktu singkat ketika ia tak lagi risau dengan masa lalunya.  Damai batin ditemukan dalam dirinya, bukannya ketika ia sibuk mencari penjelasan dari luar dirinya.

Dalam olah kerohanian, damai batin bukanlah tujuan untuk dirinya sendiri. Damai batin adalah tanah subur untuk persemaian benih-benih yang baik. Pribadi yang mencapai kedamaian batin menjadi pribadi yang siap dan tersedia untuk orang lain. Bagaimana tidak? Ia tidak lagi risau akan keinginan dan hasrat pribadinya. Ia mampu melihat dunia disekitarnya, orang orang disekelilingnya dalam kejernihan. Ibarat kolam berair jernih dan tenang, demikianlah damai batin seperti kolam yang senantiasa memperlihatkan kedalaman, kebeningan sekaligus ketenangan.

Ambisi yang menghanguskan
Lain halnya dengan Shen si Merak. Guru yang ia dengarkan adalah dirinya sendiri. Segala suara dan pendapat di luar dirinya, yang tidak sesuai dengan keinginannya adalah musuhnya. Ia tak mau mendengar versi lain masa lalunya, yaitu kematian orang tuanya karena kesedihan mendalam karena saking cintanya pada Shen, mereka terpaksa mengusir Shen untuk menyelamatkan Shen dari kejahatan. Bagi Shen, ia membenci orang tuanya karena mereka telah mengusirnya dari istana, titik. Hasrat untuk berkuasa dan ambisinya lah yang ia ikuti. Ia menganggap pusat dunia adalah dirinya, dan semuanya bergantung padanya.

Menarik melihat betapa Shen menjadi amat gundah ketika Kambing sang Peramal, meramalkan kekalahannya dari seekor Panda. Ia cemas pada masa depannya, karena itulah ia berjuang keras memastikan masa depannya. Tampak jelas bahwa masa lalunya yang diwarnai pengusirannya dari istana terus menghantuinya. Dari pengalaman buruk masa lalunya, ia belajar memahami bahwa kebahagiaan, kesuksesan, kedamaian adalah sesuatu yang direbut, bukan diperoleh. Hasilnya sungguh mengerikan. Ia tak pernah merasa puas dan cukup.

Kemenangan tak membuatnya bahagia. Yang ada adalah dahaga yang tak terpuaskan. Semakin ia berusaha dahaga itu semakin mendera.

Hingga di detik-detik terakhir hidupnya, Shen enggan untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia terbunuh bukan oleh orang lain, namun oleh dirinya sendiri. Ambisinyalah yang menghanguskannya.

Hidup adalah pilihan
Salahsatu titik balik Po dalam mencapai kedamaian batin adalah ketika Kambing si Peramal menasehatinya untuk melihat kehidupannya sebagai kisah yang belum ada akhir ceritanya. Si Peramal mengingatkan perjalanan hidup Po yang dimulai dengan amat buruk, namun perjumpaannya dengan pribadi-pribadi istimewa, pengalaman hidupnya, itulah yang membuatnya menjadi istimewa. Siapa sangka, si gendut yang doyan makan bisa kebetulan terpilih menjadi ksatria naga. Siapa sangka Panda yang tampak sebagai pecundang dalam olah bela diri, menjadi pahlawan terkemuka yang menyelamatkan kungfu dari kepunahan.

Po melihat bahwa pilihan yang ia buatlah yang membentuk akhir ceritanya. Dan ia telah memilih yang benar. Ia menerima masa lalunya dan menganggap itu sebagai bagian dari dirinya, yang membuatnya sebagai pribadi istimewa. Masa depan tampak dihadapannya sebagai sebuah panggilan untuk mengabdi sesama.
Demikianlah, tak satupun jengkal hidup bisa dinilai baik atau buruk.

Sebagaimana pepatah mengatakan, every sinner has future, every saint has past. Sejelek-jeleknya seorang pendosa, ia selalu punya masa depan, artinya harapan untuk bertobat dan menjadi baik. Sehebat-hebatnya seorang santo, tentu dia bukannya tanpa cela. Sikapnya terhadap cela itulah yang menentukan arah hidupnya, yaitu kesuciannya dan keterarahannya kepada Tuhan.

Damar Harsanto, Tukang Cerita dan anggota redaksi Sesawi.net

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version