Romo Mangun dan Kali Code

0
441 views
Romo Mangunwijaya Pr.

Puncta 14.01.23
Sabtu Biasa I
Markus 2: 13-17

MENYEBUT Kali Code pasti langsung ingat Romo Mangun. Kali Code punya hubungan erat dengan pastor katolik yang juga seorang arsitek lulusan Jerman itu.

Pada era tahun 70-an, Kali Code adalah daerah kumuh. Para urban yang tinggal di situ umumnya adalah kelompok pinggiran, seperti pemulung, gelandangan, tukang becak, tukang semir sepatu, tukang ojek, pencopet bahkan PSK.

Mereka tinggal di gubug-gubug liar yang terbuat dari kardus, triplek, terpal, plastik atau barang-barang bekas yang bisa untuk berteduh.

Pemkot sering menggusur dan memindahkan mereka tetapi tidak berhasil. Mereka datang dan terus bertambah.

Tahun 1982 terjadi banjir yang melanda Kali Code. Rumah-rumah bedeng di bawah Jembatan Gondolayu itu tersapu dan hanyut.

Datanglah Romo Mangun memberi bantuan. Ia punya ide mengajak warga membangun rumah yang lebih layak huni.

Rumah warga dibangun dan dipercantik dengan mural warna-warni yang memperindah bantaran kali Code.
Banyak wisatawan kemudian datang mengagumi penataan area yang dulunya kumuh kini menjadi indah tertata rapi.

Gagasan yang dulu diragukan dan dicibir, dengan perjuangan tak kenal lelah akhirnya mendapat pengakuan internasional dengan perhargaan Aga Khan Award.

Yesus memanggil Lewi, anak Alfeus menjadi rasulnya, seorang pemungut cukai. Yesus bergaul dan bahkan makan bersama dengan orang-orang berdosa.

Ahli-ahli Taurat melihat Yesus duduk dan makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa menyindir-Nya, “Mengapa Gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, maka Dia berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa!”

Kalau kita berpikir sebagai orang yang paling benar, kita berada di pihak ahli-ahli kitab dan kaum Farisi.

Kita sering berpikir seperti mereka. Kita merasa berhak mengadili orang lain; menganggap orang lain berdosa. Yesus pasti tidak akan tinggal bersama kita. Yesus datang untuk orang berdosa.

Romo Mangun tinggal bersama para gelandangan, pemulung, tukang becak, copet dan bahkan PSK yang dikucilkan masyarakat.

Dia hidup bersama mereka.

Dia tidak mengkatolikkan mereka, tidak membaptis mereka menjadi Katolik, tetapi mengajarkan mereka untuk hidup bermartabat.

Romo Mangun tidak hanya membangun rumah, tetapi membangun mental supaya orang punya harga diri.

Yesus bergaul, hidup bersama para pemungut cukai dan pendosa agar mereka mengerti kalau dicintai, dihargai dan diterima sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Yesus mengangkat derajat mereka, bukan sebagai manusia yang disingkirkan, dijauhi, tetapi manusia yang sama berharganya di hadapan Tuhan.

Mari kita belajar untuk menghargai dan menerima sesama kita sebagai citra Allah. Mereka juga dicintai Allah.

Mereka ada bukan untuk disingkirkan, dibeda-bedakan, tetapi mereka ada untuk dihargai dan dikasihi.

Pergi ke pasar Klewer membeli kain,
Kain sutera sangat mahal harganya.
Janganlah suka mengadili orang lain,
Karena kita pun tidak lebih sempurna dari mereka.

Cawas, lebih baik jadi orang berdosa yang bertobat…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here