Home LENTERA KEHIDUPAN “WC Terkunci, Terpaksa Jongkok di Dapur” ; Berpastoral di Pedalaman Kokonao, Papua...

“WC Terkunci, Terpaksa Jongkok di Dapur” ; Berpastoral di Pedalaman Kokonao, Papua (10)

2

Suatu saat saya melayani sebuah stasi di pesisir pantai. Ketika itu memang dewi fortuna tampaknya tidak berpihak padaku. Ketika sampai di rumah (pastoran) yang biasanya saya gunakan untuk menginap, ternyata tidak ada seorang guru pun yang tinggal. Rumah itu digunakan oleh pak guru  dan salah satu kamarnya saya gunakan untuk tempat istirahat kalau ke stasi itu.

Kebetulan saat itu adalah masa libur sekolah, jadi para guru pergi ke kota Timika. Dan pintu rumah pastoran terkunci. Terpaksa saya dobrak. Setelah meminta tolong pada seorang mama untuk memasak sardencis, mi instan dan nasi saya beristirahat sebentar. Ketika hendak membaringkan diri, terasa olehku perut yang melilit sakit dan mulas.

Segera saja aku berlari ke WC, tapi untung tak dapat di raih, malang malah menimpaku. WC terkuci sementara perut sudah tak tertahankan. Maka saya memakai gaya orang misionaris. Aku segera mengambil plastik kecil (kresek) dan berjongkok di dekat dapur. Aku sempat berpikir mungkin ini akibat mi instan dan sardencis yang dicampur jadi satu oleh mama yang memasak tadi.

Setelah plastik terasa penuh maka saya membuangnya ke bawah rumah, tentu sebelumnya aku ikat dulu. Semua rumah di kampung ini dibuat model  panggung. Dengan perlahan namun pasti aku jatuhkan plastik itu ke tanah, aku pastikan bahwa tidak ada umatku yang mendengar suara benda jatuh dari tempat kumenginap. Sebelum aku jatuhkan, tentu aku sudah mengikatnya rapat-rapat, jangan sampai ada anjing yang menemukanya dan dibawa keliling kampung.

Aku sempat berpikir kalau aku buang ke sungai, aku malu dilihat umat karena saat itu masih siang hari. Sementara kalau aku letakkan saja di dapur, nanti orang salah menebak dan mengira gorengan. Atau malah membuatku pingsan karena aroma tinjaku sendiri.

Tour ke stasi ini hanya  dua hari satu malam. Keesokan harinya saya sudah meninggalkan stasi itu. Sebelum pergi aku sempat melirik ke bawah dapur apakah plastik hitam yang kemarin siang aku buang masih ada. Ternyata plastik itu sudah hilang entah kemana. Saya harap yang menemukanya segera membuangnya di tempat yang aman.

Refleksi
Menjadi misionaris ternyata mesti mempersiapkan diri dengan sungguh. Bukan hanya kesehatan mental dan fisik. Tetapi juga fleksibel akan situasi yang ada serta mampu beradaptasi dengan segala keterbatasan. Dengan segala keterbatasan yang ada, tentu diharapkan kita tidak menjadi kaku dan mampu mensiasati keadaan  yang ada.

Kehidupan kita pun terkadang demikian. Banyak situasi yang tidak ideal seperti yang kita harapkan. Namun demikian, hidup harus terus berjalan, tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan sarana dan prasarana yang kita miliki. Tidak boleh berhenti hanya karena ada situasi atau ada orang yang sulit kita mengerti.

Situasi alam dan orang yang kita jumpai pastilah berubah. Kita tidak selalu mengelami situasi yang sama. Kita juga tidak selalu bertemu dengan orang itu saja. Maka ‘Be happy” Tidak ada guna meratapi segala keterkungkungan, keterbatasan, yang perlu kita buat adalah berpikir dan bertindak untuk mengatasinya.

2 COMMENTS

  1. Bener mas har, aku juga kaget ketika sahabatku pindah tugas dinabire. Beliau seorang pastor Yesuit yg mulai berumur. Ketika dia kirimkan foto pastoran yg jauh dari layak. Apalagi dapurnya yg kotor dan jauh dari higienis. Umatnya bertelanjang kaki ke gereja. Gereja nya bukan gedung melainkan bangunan beratap rumbia. Lantainya tanah. Tak terbayang bagaimana jika hujan tiba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version