Home RESENSI FILM “Woman in Gold,” Seorang Wanita dan Satu Sejarah Dunia

“Woman in Gold,” Seorang Wanita dan Satu Sejarah Dunia

Pesan dan janji “I only ask one thing as you go, remember us,” lelaki di pangkuan wanita cantik itu mengatakan kalimat itu kepada Maria.

Maria mengangguk dan menangis. Lalu ketiganya berangkulan sambil terisak-isak.

Kalimat ini tertanam dalam pikiran Maria Altmann (Helen Mirren) sampai jauh ke Benua Amerika tempat dimana Ia lari dari kebrutalan Nazi di Austria. Bukan saja sejauh jarak benua, tetapi setelah melalui 70 tahun lamanya kalimat itu masih tertanam dalam diri Maria.

Kalimat itulah yang menuntun Maria menemukan Randy Schoenberg (Ryan Reynolds), pengacara muda keturunan Austria-Yahudi. Maria menaruh harapannya pada Randy untuk mengambil apa yang sebenarnya adalah haknya, yakni “Portrait of Adele Bloch-Bauer I,” sebuah lukisan dari Gustav Klimt.

Bagi Maria, lukisan itu adalah sejarah keluarganya mengingat wanita dalam lukisan itu adalah tantenya, pribadi yang memeliharanya dari dini hingga ia menikah. Tante dan pamannya tak ubahnya orang tua bagi Maria. Lukisan itu dulu tergantung di rumah sang paman tetapi Nazi mengambilnya.

Randy akhirnya terbuka matanya, lewat lukisan itu bagaikan dituntun pada pejiarahan siapa dirinya. Betapa sejarah itu tidak bisa dihapus begitu saja. Kesadaran akan eksistensi dirinya ini lahir ketika ia bersama Maria pergi ke Austria untuk mengklaim lukisan itu. Perjuangan untuk mendapatkan lukisan “woman in gold” (karena dalam lukisan itu adele berselimutkan emas dan permata) pun menjadi kisah mengagumkan. Bukan sekedar pelajaran mendapatkan apa yang menjadi haknya tetapi juga pelajaran sejarah kemanusian tentang meluruskan sejarah.

Sayangnya pemerintah Austria menolak untuk mengembalikan lukisan tersebut kepada Maria. Negosiasi dua pihak gagal. Lalu Maria dengan support Randy akhirnya menempuh proses pengadilan di Amerika sampai pengadilan tinggi memenangkan Maria. Konsekuensinya Maria harus melanjutkan perjuangannya di Austria.

Austria telah meninggalkan luka bagi banyak korban Nazi, diantaranya Maria. Maka kembali ke Austria sebenarnya bagaikan membuka luka lama. Ironisnya, kini ketika hidup di jaman merdeka, Maria masih mendapat penindasan hak oleh pemerintah Austria. “Itu karena mereka (generasi setelahnya) tidak pernah mengalami diri sebagai korban.” Demikian kata Maria menanggapi serangan dari pemerintah Austria.

Sejarah yang seharusnya
Film baru yang berjudul Woman in Gold ini sejatinya diangkat dari sebuah novel, yang juga berangkat dari kisah nyata Maria Altmann. Film yang mempesona ini benar-benar layak ditonton. Apalagi penyuntingan gambar yang apik dengan menggabungkan 2 jaman dalam kilasan satu cerita. Sesaat

Maria masuk dalam masa lalu di tahun 40-an tetapi segera Maria berjalan di tahun 2011. Film ini membuat sejarah bukan sekedar urutan angka tahun tapi kisah manusia dengan segala pergulatannya.
Woman in Gold berbicara bukan soal lukisan tetapi hak korban, kumpulan puzzle kisah hidup, sebuah janji, dan juga soal cara yang legal untuk menempatkan sejarah pada tempatnya.

Itulah yang dilakukan oleh Maria Altmann dalam film yang berdurasi 109 menit.

Selamat melanjutkan kisahnya dengan menontonnya.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version