Gua Maria Lawangsih: Keheningan Berhias Nyanyian Alam Pegunungan Menoreh (2)

2
8,062 views

PERTANYAAN kedua mampir di benak saya ketika menyempatkan diri mengunjungi Gua Maria Lawangsih di Paroki Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta ini: Apa lagi keistimewaannya? Kesan sangat kental hinggap di hati saya: alamiah, hening, namun diiringi dengan hiasan alam berupa nyanyian burung, hembusan angin segar, jauh dari kebisingan, dan tentu saja sejuk nan rindang.

Terletak di sebuah tekstur alam yang tinggi di sebuah titik Perbukitan Menoreh yang memanjang, Gua Maria Lawangsih tidak saja ‘menjual’ kegiatan devosional kepada Bunda Maria dan Yesus, Melainkan juga, menawarkan keheningan total di bawah rindangnya pepohonan dan nyanyian alam berupa kicauan burung, bunyi serangga, dan gemericiknya air. 

Menurut penuturan umat setempat, Gua Maria Lawangsih hari-hari belakangan ini menjadi tempat favorit bagi orang-orang kota untuk ‘nyepi’: menikmati kesendirian dalam keheningan sembari berdoa, melepas kepenatan fisik dan apalagi psikis lantaran jenuh mengalami keseharian dan rutinitas hidup di kota besar. 

Tempat menginap

Penduduk sekitar Gua Lawangsih di Lingkungan Santa Maria Fatima  yang 95% katolik sangat mendukung untuk keperluan itu: tinggal dalam keheningan sembari berdoa dan beristirahat. Ada sebuah rumah penginapan bernama Wisma Emanuel dengan fasilitas akomodasi enam unit kamar yang bisa ditempati, lengkap dengan fasilitas mandi dengan air hangat.Wisma Emanuel ini milik salah satu umat katolik setempat. 

Kalau mau yang lebih alami dan ingin bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat, menginap di rumah umat katolik menjadi sebuah alternatif  yang menyejukkan juga. Air mandi bersih tidak menjadi masalah di sini, sepanjang tuk sumber air tiada henti di Gua Maria Lawangsih masih terus bermurah hati menyediakan keperluan minum dan kebutuhan lainnya. 

Lingkungan sangat akomodatif

Terletak di lingkungan ‘sendiri’ di tengah permukiman umat katolik dengan sendirinya akan lebih membuat para peziarah merasa aman dan nyaman.  Meski ‘pusat pemerintahan’ gerejani Paroki Nanggulan terletak kurang lebih 13 km dari Gua Maria Lawangsih, namun tak berarti lokasi peziarahan devosional kepada Bunda Maria ini sepi dari nuansa katolik. 

Justru tidak. Tak jauh dari Gua Maria, sekitar 300 meter arah exit akses pulang, berdiri tegak kapel Stasi Maria Fatima yang menjadi gereja mingguan bagi umat setempat. Meski bangunan ini terkesan sangat sederhana, namun dilihat dari berbagai ornamen yang ada di dalamnya sungguh terasa kalau di dalam bangunan kapel ini dinamika hidup menggereja sangat kuat. 

Akses mudah

Meski bertengger di sebuah tebing di Perbukitan Menoreh, Gua Maria Lawangsih merupakan sebuah lokasi devosional yang mudah dijangkau baik dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Sedan pun bisa masuk dan parkir perisis di bawah Gua Maria Lawangsih. 

Akses paling gampang dari Yogyakarta adalah sebagai berikut:

  • Dari Perempatan Pingit, ambil akses jalur utama menuju Klepu melewati Jl. Godean.  
  • Begitu pula kalau datang dari arah Timur –misalnya Solo, Prambanan, Klaten—kita mesti ambil akses jalan utama  menuju Ring Road Utara dan kemudian belok kanan ketika ada perempatan besar menuju Jl. Godean.
  • Ikuti lurus Jl. Godean itu hingga nantinya akan melewati Moyudan, Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus di Klepu (posisi di kanan jalan), Jembatan Kali Progo, perempatan Pasar Kenteng, hingga lurus terus di jalan tanjakan menuju lokasi.
  • Tak perlu cemas dengan arah petunjuk jalan.
  • Dari Jl. Godean sampai lokasi sudah terpampang plang jalan penunjuk lokasi dengan jelas dan besar. 

Karena melewati jalur perbukitan, sudah barang tentu tanjakan tajam mewarnai perjalanan dari arah Timur. Namun pengalaman membuktikan, kalau sehat mobilnya maka gigi dua pun mampu menyusuri jalan tanjakan dengan kemiringan hamper 40 derajad ini. 

Selebihnya adalah pemadangan alam dan  keheningan siap menanti para peziarah. (Bersambung) 

Photo credit: Mathias Hariyadi

Artikel terkait:

2 COMMENTS

  1. ‘pusat pemerintahan’ gerejani Paroki
    sengaja saya kutip kata-kata di atas, memangnya mereka yang ada di gereja paroki suka memerintah! setahu saya mereka justru senang melayani umat dan warga di dalamnya.

    • Tentu yang kami maksud adalah “pusat pelayanan”, namun kami sengaja membuatnya menjadi “pusat pemerintahan” dengan tanda kutip dalam arti kiasan. Terima kasih atas atensinya yang berharga ini.

Leave a Reply to admin Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here