Bale Sigala-gala

0
408 views
Balai Sigala-gala(Ist)

Puncta 02.12.21
Kamis Advent I
Matius 7: 21.24-27

SANGKUNI punya niat licik untuk melenyapkan Pandawa. Ia mempunyai ide membangun sebuah balai yang mudah terbakar.

Balai itu akan menjadi tempat pesta pora, saat penyerahan Negeri Amarta kepada Pandawa. Balai itu dibuat dari kayu-kayu lapuk yang mudah termakan api.

Kayu-kayu itu dihias dan ditutupi cat warna-warni yang mudah tersulut api.

Balai Sigala-gala artinya bangunan yang diperindah, dipercantik untuk mengelabui orang.

Sangkuni mengajak para Pandawa makan dan minum sampai mabuk. Minuman diberi jampi-jampi yang membuat orang mudah tertidur.

Pandawa sebagai tamu tidak enak menolak. Hanya Bima yang tetap waspada dan berjaga.

Ketika Pandawa sudah terlelap tidur karena minuman, Kurawa segera menyalakan api untuk membakar Balai Sigala-gala.

Api langsung berkobar dengan cepat menyambar kayu-kayu dan semua bangunan. Balai itu dalam sekejap hancur tinggal puing-puing.

Keesokan harinya, Para Kurawa bersorak gembira menemukan enam jenasah yang dikira para Pandawa.

Padahal Pandawa selamat berkat bantuan Musang Putih penjelmaan Batara Antaboga.

Pandawa dibimbing masuk ke sebuah gua yang menuju Kahyangan Sapta Pratala.

Yesus mengajarkan kepada para murid bahwa bukan orang yang selalu berseru kepada Tuhan yang akan selamat, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di surga.

Doa tidak ada artinya sama sekali kalau tidak diwujudkan dalam tindakan kasih yang nyata.

Orang yang mendengar sabda Tuhan dan melakukannya digambarkan sebagai orang bijak yang mendirikan rumah di atas batu. Kendati ada hujan dan badai, rumah itu tidak roboh.

Para Kurawa itu sengaja mendirikan rumah atau balai yang mudah terbakar karena punya niat jahat. Mereka memusuhi Pandawa dan ingin melenyapkannya.

Dimotori oleh Sangkuni yang licik dan haus kuasa, maka mereka membangun rumah yang mudah terbakar dan roboh.

Kebenaran akan selalu menang pada akhirnya. Pandawa terselamatkan. Sedangkan, Kurawa hancur dan kalah, karena mereka itu seperti orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir.

Kita dipanggil tidak hanya menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaksana Sabda Tuhan. Antara kata dan tindakan harus seirama.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan akan masuk Kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga.”

Sudahkan anda melaksanakan kehendak Allah, dan bukan kehendak sendiri?

Nonton Film Galih dan Ratna,
Lagunya Gita Cinta dari SMA.
Lebih baik melakukan kehendak Bapa,
Daripada berseru-seru tidak ada realisasinya.

Cawas, jadilah pelaku Firman…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here