Home LENTERA KEHIDUPAN Catatan Kenangan Romo Sindhunata SJ untuk Sahabatnya: Alm. Romo V. Sugondo SJ

Catatan Kenangan Romo Sindhunata SJ untuk Sahabatnya: Alm. Romo V. Sugondo SJ

6

SELAMAT JALAN, NDO

KITA bersyukur, bahwa akhirnya Romo Gondo boleh mengakhiri penderitaannya.

Sungguh, di saat-saat akhir hidupnya, Romo Gondo harus mengalami penderitaan yang tak tertanggungkan. Sehabis pemakaman Romo Adiwardaya, saya dan Romo Dipo menyempatkan diri untuk mengunjungi Romo Gondo.

Di RS Elisabeth Semarang, kami berdua melihat ia terbaring di ruang HD, sedang cuci darah. Ia masih sadar, tapi sudah susah bicara. Tak sedikit pun kami mengerti apa yang hendak dikatakannya.

Rabu, seminggu lalu, saya bersama Tony Widiastono dari Kompas, rekan di novisiat dulu, datang lagi menjenguknya. Kali ini keadaan Romo Gondo sungguh parah. Ia nyaris telanjang. Badannya ditusuki jarum, dan kelihatan pipa-pipa beraliran darah bergelantungan di sekitar tubuhnya. “Saya sendiri tidak tega melihatnya,” kata seorang suster di Elisabeth.

Saya apalagi, tak tahan rasanya melihat keadaannya. Tubuhnya nyaris sudah tak berdaya, tapi rasanya ingatannya masih sadar.

Sejak dulu tak pernah ia memanggil saya “Sindhu”. Ia selalu memanggil saya “Si Doel”.

Maka saya bisikkan di telinganya, “Ndo, iki, aku Si Doel, karo Tony. Wis Ndo, budhala madhep Gusti. Ojo ono sing kok gandholi maneh. Kabeh wis ikhlas, nyuwun supaya Gusti kersa ngrampungi penderitaanmu. Wis cukup laramu lan penderitaanmu. Percayaa, Gusti Yesus wis maringi pangapura dosa-dosamu. Wis Ndo, ikhlasa, pasraha, mangkata sowan Gusti.

Kelihatan tangannya bergerak-gerak, seakan hendak bereaksi atas bisikan saya itu. Tapi ia tidak mampu. Ia hanya mampu meneteskan airmata. Memang kelihatan airmata mengalir di pipinya.

Gondo adalah orang yang kuat, bahkan kasar. Tak pernah terbayangkan oleh saya, bahwa ia menitikkan airmata. Tapi toh kali ini airmatanya jatuh. Mungkinkah airmata itu adalah kata lain dari perpisahan: “Ya Doel, wis tak mangkat yo”.

Mungkin! Tapi apapun halnya, sejak saat itu, saya yakin, Gondo akan pergi. Kalau toh harus pergi, semoga ia pergi sebelum Imlek. Begitu kata saya dalam hati. Soalnya, Imlek ini saya harus ke Jakarta untuk tahun baruan Cina. Ternyata ia pergi setelah Imlek, dan saya tetap bisa menghadiri pemakamannya.

Sampai sekarang, airmata Gondo itu masih membayang. Tapi sudahlah, marilah kita tinggalkan kesedihan atau mungkin kecengengan itu. Tak pantas kecengengan itu dikenakan pada Romo Gondo. Maklum, Romo Gondo bukanlah seorang yang cengeng.

Kalau harus bilang apa adanya, Gondo adalah orang yang kasar, keras, berangasan, ugal-ugalan, dan sering-sering vulgar. Di HP saya, saya tidak men-safe namanya dengan Sugondo, tapi dengan nama yang selalu ada di kepala saya: Gondo Saru SJ. Apa mau dikata, itulah memang pribadinya.

Dulu Gondo berbadan besar, kuat dan perkasa. Kadang-kadang memberi kesan medeni, karena wajahnya hitam seperti preman atau gali. Anehnya, orang sekuat dia, ternyata takut sekali akan jarum suntik. Dia bisa lari menghindari jarum suntik dengan alasan apa pun.

O ala Ndo, rugi leh awakmu gedhe kaya gali. Kok karo dom wae wedhi”, demikian kami sering mengejeknya. Di akhir hidupnya ternyata badannya malah ditusuki dengan jarum-jarum besar di sana-sini. Tentu Gondo ketakutan dan kesakitan. Tapi Mas Oentoeng, adiknya, menghibur, “Wis Mas, rasa lara mergo ditublesi iku disyukuri wae. Wong Gusti Yesus ya ditublesi paku.” “Ning aku rak dudu Gusti Yesus,” jawab Gondo.

Toh Gondo mencoba terus bersyukur dengan rasa sakitnya. Apalagi setelah diberitahu Mas Oentoeng, bahwa rasa sakit itu bisa dijadikan silih untuk menebus kesalahan teman-teman, saudara-saudara, dan lebih-lebih kesalahan dia sendiri. Ya, pikir saya, mungkin Gondo juga telah mempersembahkan rasa sakitnya sebagai silih bagi kesalahan dan dosa-dosa saya, sahabat dekatnya ini. Siapa tahu, mungkin persembahan silih itulah yang sesungguhnya tersimpan di balik airmatanya, yang menetes, ketika saya membisikkan kata-kata akhir, menjelang kepergiannya.

Semasa muda, waktu kami masih frater dulu, sering kami bergurau demikian: “Suk, ojo nganti awak-awak iki ketiban jatah kudu kotbah tentang Gondo.” Dan saya sendiri bilang padanya, “Aluwung aku sing mati dhisik, Ndo, timbang kotbah tentang kowe”. Ternyata, sebelum pergi, pada Rektor Girsonta Romo S. Suyitno SJ, Romo Gondo katanya bilang demikian, “Yen kulo mati, Sindhu mawon sing kotbah”.

Kemarin, baik Romo Yitno, Romo Kris dan Romo Hardjanto mencari saya, supaya saya mau kotbah di misa perpisahan Romo Gondo. Apa yang dulu kami guyonkan, sekarang terjadi benar: Saya harus kotbah tentang Gondo.

Beginilah sendau gurau kami dulu: Kalau harus kotbah tentang Gondo, paling-paling kami hanya akan berhenti pada kalimat ini: “Rikala sugengipun, Romo punika kagungan pengangkah badhe…, nanging ” . Jadi, bila salah satu dari kami harus kotbah mengenang Gondo, kami pasti hanya akan bekah-bekuh dan berhenti pada kata “Rikala sugengipun, Romo punika kagungan pangangkah badhe… nanging”. Maksudnya, kami tidak bisa melanjutkan kotbah kami lagi, sebab apa yang bisa kami katakan tentang Gondo, kecuali kekonyolan, keugal-ugalan dan kebergajulannya?

Rikala sugengipun..”, adakah sekarang dalam kotbah ini, saya juga mesti berhenti pada kata-kata tersebut?

Kiranya tidak!

Di balik segala kekonyolan, keugal-ugalan, kesembronoan dan kebergajulannya itu, Gondo adalah pribadi yang selalu mencoba merealisir cita-cita keyesuitannya, yakni lebur dengan kaum miskin dan terpinggirkan. Inilah beberapa kesaksian tentang Gondo. Misalnya dari Joice,  teman mahasiswi di Jakarta dulu: “Gondo orang hebat, Ndhu. Aku mewek membaca email-email teman tentang dia.”

Dan inilah email dari Franz Dähler:

“Saya sangat tersentuh oleh kematian Romo Sugondo, yang kucintai. Saya berkenalan dengan dia sudah tahun 1962-1968 di Magelang waktu dia masih di SMA dan melayani pastoran Magelang. Kemudian saya bertemu dengan dia di Kolese Loyola Semarang. Ia membantu Romo Van Deinse, terutama di Wisma Asrama Putra di pinggir kota Semarang, di mana anak-anak yatim piatu dan tertinggal oleh orang tua diasuh, dibina dalam pelbagai keahlian”.

“Kemudian mengenal dia sebagai frater SJ di Jakarta dan 1977 kuminta bantuannya untuk RETNAS dalam penyelenggaraan hari aksi sosial. Dear Vincent Sugondo, berikan ilham dan semangat kepada kita, untuk menghayati nasib orang miskin, tertinggal, mencari jalan untuk membangun mereka dalam keberanian politik pula.”

Dan inilah email dari Agung Hertanto, seorang yang mengenal Romo Gondo, dan sekarang menjadi researcher di sebuah RS Cancer di New York:

Romo Gondo adalah Romo Gali, Romo Sampah. Bukan karena dia gali atau kelas sampah, tetapi pengabdian Romo Gondo adalah di kalangan mereka yang dianggap sampah masyarakat. Dia waktu itu aktif berkarya di kalangan orang miskin, kemudian aktif di Pulau Galang, lalu aktif di Papua, terutama di kalangan yang terkena HIV”.

“Dia juga aktif merehabilitasi para gali, supaya kembali ke jalan yang benar. Tugas berat yang tidak bergelimang sanjungan… Saya percaya, banyak sekali yang merasa kehilangan…. Mereka yang menderita, mereka yang miskin, mereka yang dibuang, sebagai sampah masyarakat. Saya percaya justru merekalah senandung pujian yang tulus dan ikhlas mengiringi Romo Gondo ke rumah Bapa.”

Waktu mau kembali ke Papua, Gondo pernah berkonsultasi dengan Dokter Marulam, sahabatnya. Si dokter melarang dia pergi. Tapi dia nekad pergi, bukan karena tidak mau berobat, tapi karena dia ingin pergi dan kembali dalam pelayanannya di sana.

Betapa pun banyak kelemahannya, Gondo kiranya harus dipuji karena keterlibatannya pada orang miskin dan terlantar. Sejak muda, setamat Loyola,  ia menjadi tangan kanan Romo Van Deinse, siang malam mencari dan mengumpulkan anak-anak gelandangan dan terbuang di Semarang.

Sebelum meninggal pun ia berpesan pada Pak Oentoeng, “Jangan menyerah, harus tetap berjuang membantu anak-anak terlantar. Jangan berpikir soal apakah akan berhasil, pokoknya berjuang terus untuk mereka, sesuai dengan pesan Romo Van Deinse.” Dan pesannya lagi, “Cekelane uripmu ya mung cah gelandangan kuwi.” Kata-kata ini dikatakan menjelang akhir hidupnya, ketika ia hendak menatap Allah dari muka ke muka. Siapa tahu, kata-kata itu disampaikan oleh Allah sendiri untuk menjadi kata lain bagi kebenaran kabar gembira Injili ini: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga”.

Waktu teologi, Gondo pernah mengatakan pada saya: Doel, teologiku iki teologi kebo. Gondo memang sering sinis terhadap Yesuit-Yesuit yang dianggap pandai tapi tidak pernah turun ke lapangan. Teologi kebo itu mungkin adalah pembelaan bagi keenggannya untuk menggeluti teologi yang terlalu teoritis.

Entahlah. Yang jelas, Gondo memang benar-benar berkubang, dalam kubangan gali, preman, buruh, pelacur, dan orang-orang terbuang lainnya, sampai ia sendiri juga berlepotan dengan lumpur-lumpurnya: kekasaran, keugal-ugalan, kesembronoan, bahkan kevulgaran. Mana mungkin berkubang tidak mau mau kena kubangan?

Itulah Gondo: ia mengejar cita-cita yang mulia, tapi sekaligus juga terhempas ke dalam kegagalan yang parah; ia berupaya untuk bijaksana, tapi sekaligus juga jatuh ke dalam kekonyolan luar biasa; ia ingin lemah lembut, tapi lingkungannya mengurung dia dalam kekasaran dan kevulgaran.

Kadang semuanya ini harus ditanggungnya sendirian. Ia jadi sering kesepian dan merasa tak dimengerti. Namun di antara ketegangan yang sering tak terdamaikan itu, Gondo tetap bertahan untuk menjadi Yesuit, ia berupaya untuk tetap teguh dalam keyesuitannya, ia tetap bertahan menjadi Romo Sugondo SJ, yang mencoba menjalankan panggilannya untuk kaum terpinggirkan, sampai ajalnya.

Pada diri Romo Sugondo ini,  saya dengan jelas melihat apa artinya kata-kata yang sering kita slogankan ini: Yesuit adalah pendosa yang dipanggil Tuhan. Gondo bangkit, kendati gagal, tetap berusaha bekerja untuk orang miskin, kendati hancur dan tertipu. Mana mungkin ini terjadi tanpa Allah sendiri yang berkarya dalam dirinya? Mungkin rahmat itu pula yang membuat ia bertahan dan bersemboyan, “Perkara hasil jangan dilihat, pokoknya dibutuhkan kita harus siap.”

Gondo, dengan seluruh tekad dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, menunjukkan pada saya apa yang penting bagi seorang Yesuit. Yang penting bagi seorang Yesuit bukanlah keutamaan, kesucian, apalagi kesalehan, tapi keberanian untuk menerima Tuhan, dan berjuang untuk karya Tuhan, kendati sehari-hari harus terus berkubang dan terjerumus ke dalam lumpur kegagalan, kebobrokan, kebusukan, penderitaan dan kedosaan. Romo Suro (Romo Suradibrata SJ –mantan Provinsial SJ tahun 1978-1983Red.)  suka mengulang gurauan kami yang bunyinya begini: “Wong Gondo wae iso dadi Yesuit, mosok liyane ora iso dadi Yesuit”.

Maka dengan memandang Romo Gondo, janganlah kita takut menjadi Yesuit. Karena menjadi Yesuit tidak perlu menjadi utama, suci dan saleh. Pendosa pun bisa menjadi Yesuit, asal dalam lumpur kegagalan dan kedosaannya ia tidak menyerah, dan tetap membiarkan Allah berkarya dan terus percaya, bahwa Allah tak henti-hentinya memanggilnya untuk menjadi sahabat-Nya.

Gondo mungkin memberi kesan sangar, dan hidup menyendiri. Tapi buat saya dan Dipo, Gondo adalah sahabat sejati. Entah karena apa, kami berdua sering rindu akannya, dan sesekali menyempatkan untuk menengoknya.

Pada Gondo, kami tahu, bahwa persahabatan itu tidak ditentukan oleh baik atau buruknya sahabat kita, utama atau tidak utamanya sahabat kita. Persahabatan ya persahabatan, kendati kita saling mengenal keburukan dan kejelekan kita.

Persahabatan justru adalah keikhlasan untuk menerima keburukan dan kejelekan itu. Kami sering rindu pada Gondo, mungkin karena bersama dengannya, kami bisa melepas kegilaan, ketertawaan, kekonyolan, kegagalan, dan kejelekan, bahkan kedosaan kami.

Ya dengannya, kami bisa menerima, bahwa seorang religius itu tetaplah seorang manusia. Dengannya, kami bisa melepas beban kereligiusan yang kadang tak tertangggungkan dan menjadi manusia biasa.

Ndho, selamat jalan yo Ndho! Wis keturutan lehmu dadi Yesuit nganti mati. Dongakke aku-aku iki sing isih kudu ngrampungke timbalan tekan paripurnane

Inilah akhirnya kata-kata yang harus saya ucapkan kepada Romo Sugondo, sahabat tercinta ini. Amin.

Girisonta, Jemuwah Kliwon, 27 Januari 2012

G.P. Sindhunata SJ

(Catatan kenangan akan almahum Romo V. Sugondo SJ ini dibawakan Romo Sindhu dalam homilinya pada misa requiem di Gereja Stanislaus Girisonta, sesaat menjelang pemakaman Romo Gondo di Kerkop Girisonta, Jumat  (27/1) 2012. Yang disapa Romo Dipo tak lain adalah Romo Prof Dr. Anton Sudiarjo SJ, kini dosen filsafat di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta).

6 COMMENTS

  1. Romo Gondo yang memotivasi saya untuk memberi layanan Sms Renungan Harian, gratis sejak th 2007, memberi spirit, pribadi yang unik.
    Membela yang lemah… sampai harus di skors kaulnya gara-gara jotosan di stasiun lempuyangan… membela seorang wanita yang dilecehkan seorang laki-laki… satu permintaan beliau yang belum saya penuhi, mengadakan temu-darat /rekoleksi bagi komunitas Ren-Har dengan beliau sebagai narasumbernya, (+2500 anggota di seluruh dunia)…..
    Saat saya limbung, usaha pekerjaan saya hancur, beliau memberi semangat.

  2. Ribuan kenangan untuk orang yang kuat..orang yang peduli dengan wong cilik, tentunya tak akan terlupakan.
    Romo Gondo memang orang yang selalu berkata apa adanya…bahka kadang terdengar kasar, tapi seua yang diucap benar adanya.
    biarlah kenangan bersamanya tetap ada dihati sahabatsahabatnya.

  3. Trenyuh membaca semua ini, mas Sindhu, sangat menyentuh ketulusanmu, Romo Sindhu saat memberi khotbah terakhir untuk sahabatmu ini. Saya sendiri merasakan sesuatu yang hilang dari sosok manusia Gondo. Kalau saya pria sudah lama saya ikut barisan kalian semua, menjadi seorang Yesuit.

  4. yo memang harus diakui romo2 ini, menginpirasi dan memberikan keteladanan karena qta adalah manusia yang fana, selamat jalan romo, upahmu besar di sorga dan semoga semangatmu memberikan inspirasi berupa suri tauladan bagi kami yang masih muda dan kerap acuh dengan sekitar, Hosana 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version