“Gaudium et Spes”, Cara Gereja Merengkuh Dunia Modern

3
9,381 views

REVOLUSI besar telah lahir meretas dari rahim Gereja, sejak Konsili Vatikan II menerbitkan Konstitusi Pastoral berjudul Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan). Seiring dengan jiwa Konsili Vatikan II yang menghembuskan semangat aggiornamento (pembaruan diri), dokumen Gaudium et Spes merupakan titik tolak penting. Inilah saatnya ketika Tahta Suci meyakini sekaligus berkeinginan mau merengkuh dunia modern sebagai lahan subur yang perlu diolah-garap demi efektivitas pewartaaan.

Gereja berrevolusi
Saya bahkan berani menyebut Gaudium et Spes sebagai “revolusi”. Ini tak lain karena Gaudium et Spes telah meletakkan dasar pemikiran teologis baru di kalangan otoritas Gereja yang mulai menaruh kiblat baru dan memakai perspektif anyar dalam memandang dunia modern. Dulu, dunia modern dipandang dengan sebelah mata, bahkan dicurigai sebagai sumber dosa. Dengan Gaudium et Spes Gereja bertekad memeluk dunia modern ini sebagai lahan subur untuk pewartaan.

“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, khususnya mereka yang miskin dan menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kritus”.

Ini juga merupakan sebuah pernyataan revolusioner. Gereja pasca Konsili Vatikan II dengan berani mendeklarasikan diri sebagai paguyuban orang beriman yang ingin solider, berempati, sehati dan sejiwa dengan mereka yang berada di garis kemiskinan dan hidup dalam penindasan. Sikap dasar baru telah digariskan Gereja yang melihat dunia modern –lengkap dengan seluruh permasalahannya—sebagai lahan subur yang perlu digarap untuk efektivitas pewartaan.

Berkat dan dengan Gaudium et Spes inilah, Gereja bisa merengkuh masuk, memeluk erat, berdialog dengan dunia modern dengan sekalian para penghuninya untuk membangun sebuah peradaban yang lebih bermoral.

Sebelumnya dan selama kurun waktu 101 tahun, Gereja telah menaruh sikap penuh curiga dan meletakkan dunia modern di luar kerangka pewartaan. Terbitnya Syllabus Errorum (Daftar Kesesatan) dari meja kerja Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1864 jelas menandakan betapa Gereja pra Konsili Vatikan II saat itu bersemangat curiga terhadap dunia modern.

Baru 45 tahun
Tak disangka-sangka, umur “revolusi” Gereja yang mulai merengkuh erat dunia modern ini ternyata baru seumur jagung: 45 tahun. Buku baru terbitan Kanisius Yogyakarta berlabel Gereja: Kegembiraan & Harapan, Merayakan 45 Tahun “Gaudium et Spes” menyuguhkan kepada para pembaca kisah “romantika” dan pernak-perniknya tentang bagaimana dokumen sepenting ini bisa lahir.

Bersama mahasiswanya bernama Mistriyanto, Romo Prof. Armada Riyanto CM dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang dengan terinci bisa menyuguhkan panorama indah Gaudium et Spes, berikut dengan aspek sejarah dan implikasi teologisnya bagi Gereja sejak Konsili Vatikan II bergulir.

Meski baru 45 tahun, Gaudium et Spes betul-betul merupakan tonggak gereja yang layak dipelajari bersama. Berkat karya Romo Armada Riyanto CM dan Mistrianto para pembaca diajak berkelana mengikuti isu-isu penting dalam Gaudium et Spes.

Bagian pertama buku ini bicara mengenai latar belakang sejarah munculnya Gaudium et Spes. Sepanjang 78 halaman, dibahas topik menarik mengenai Gereja dalam Dunia; “Skema 13: Jalan Raya Pastoral Gereja”; Paus Yohanes XXIII sebagai tokoh sentral di balik lahirnya Konsili Vatikan II.

Bagian kedua dibahas tentang metodologi “cara berteologi” Konsili Vatikan II hingga akhirnya melahirkan Gaudium et Spes. Bagian ketiga buku ini membahas “roh” Konsili Vatikan II, terutama semangat aggiornamento dan pentingnya membaca tanda-tanda zaman. Bagian keempat yang merupakan babak akhir dari buku ini berkisah mengenai catatan-catatan reflektif atas berbagai fenomena sosial yang diteropong dari perspektif Gaudium et Spes.

Dari cara penulisannya dan editing naskah, sangat kelihatan buku ini merupakan hasil studi/seminar teologi. Hal-ikhwal Gaudium et Spes dibelah dan diteropong para mahasiswa S-2 STFT Widya Sasana Malang di bawah bimbingan Romo Armada Riyanto CM, profesor etika politik dan Ketua STFT.

Manakala kertas-kertas kerja karya para mahasiswa itu dipresentasikan, dibahas bersama di forum seminar teologi dan kemudian diedit demi kepentingan penerbitan buku, maka sangat terbuka akan terjadinya redundancy (pengulangan). Ini tak bisa dihindari, ketika kertas-kertas kerja hasil studi para mahasiswa digarap dengan tetap tidak bisa meninggalkan wajah historis Gaudium et Spes itu sendiri.

Pada hemat saya, buku Gereja: Kegembiraan & Harapan, Merayakan 45 Tahun “Gaudium et Spes” setebal 335 halaman ini telah diedit dengan sangat baik oleh para penyuntingnya.

Judul buku : Gereja, Kegembiraan & Harapan, Merayakan 45 Tahun“Gaudium et Spes”
Editor : Prof. Armada Riyanto CM, Mistrianto
Penerbit : Penerbit Kanisius Yogyakarta, April 2011
Jumlah hlm : 335 halaman

Mathias Hariyadi, penulis dan anggota Redaksi Sesawi.Net.

3 COMMENTS

  1. gadium et spes pada dasarnya adalah cinta kasih umat beragama untuk saling menghargai antara agama satu dengan agama yang lain.

  2. Bagaimana pandanan gereja tentang KB/kkontrasepsi (motode modern)? mohon penjelasan bila perlu mengaacuh pada suatu dokumen resmi dari gereja akan sangat membantu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here