Jejak Misi Romo Prennthaler SJ di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DIY (1)

0
1,043 views
Romo JB Prennthaler SJ, sosok penting misi dan pewartaan iman Katolik di wilayah Kalibawah, Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DIY. (Dok. SJ)

ROMO Prennthaler SJ adalah nama besar di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DIY.

Imam misionaris Jesuit asal Austria ini merupakan tokoh yang berperan besar dalam perkembangan misi Katolik di wilayah permukiman penduduk di kawasan Bukit Menoreh.

Semua bidang dijangkau

Peranannya yang sangat vital itu dibuktikan oleh sumbangsih dan karya pelayanan Romo Prennthaler SJ. Terutama di dalam bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan hingga perekonomian.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinannya atas keadaan umat yang pada saat itu mengalami ketidakadilan.

Kondisi serba kekurangan ini terjadi ketika berkecamuk Perang Dunia I tahun 1920. Pada kurun waktu yang sama Pemerintah Hindia Belanda di Jawa juga tidak terlalu menanggapi kondisi umum rakyat jelata di Jawa yang saat itu didera kemiskinan akut.

Berasal dari keluarga petani di Austria

Romo Johannes Baptist Prennthaler SJ lahir tanggal 18 April 1885. Berasal dari suatu keluarga petani di kawasan pegunungan di Austria.

Ia merupakan anak kedua dari enam orang bersaudara berkebangsaan Jerman, sekalipun asal aslinya dari Tirol, Austria. Saat itu, mayoritas warga Tirol -sebanyak 99%- sudah terjerat di dalam kemiskinan akut. Semua penduduk harus berjuang keras untuk bertahan hidup.

Hal tersebut mungkin menjadi faktor yang memotivasi Yohanes Baptist untuk melaksanakan karya misionernya di Pegunungan Menoreh. Dalam upaya ingin melayani rakyat miskin dengan penuh kasih sayang.

Plang sambutan selamat datang kepada partisipan 7th Asian Youth Day 2017 di kompleks makam Romo JB Prennthaler SJ di Boro. (Mathias Hariyadi)

Masuk SJ di Lyon, Perancis

Pada 20 September 1904, Yohanes Baptist Prennthaler muda memutuskan masuk bergabung dengan Ordo Serikat Yesus (SJ) di Lyon, Provinsi SJ Perancis.

Semula, ia akan ditugaskan mengemban misi Yesuit Provinsi Perancis di Suriah. Karena memegang paspor warga negara Jerman, Romo Prennthaler SJ tidak bisa berangkat mengampu misi tersebut.

Saat menjalani Tersiat -tahap pembinaan terakhir Jesuit sebelum kaul kekal di Wina, Austria- ia membaca artikel. Isinya tentang rencana misi yang akan diadakan di Pulau Jawa, Hindia-Belanda.

Paparan “iklan” ini menggugah hatinya dan ia kemudian mohon kepada Superior Jenderal Serikat Yesus waktu itu -Pater Wlodomir Ledóchowsky SJ- supaya mengizinkannya boleh pindah keanggotaan Jesuitnya ke Provinsi Belanda.

Untunglah, permohonan tersebut akhirnya dikabulkan. Hanya agar dia bisa berangkat ke Jawa.

Berangkat ke Jawa tahun 1920

Tidak lama kemudian, tanggal 25 September 1920 Prennthaler SJ akhirnya bisa berangkat. Meninggalkan Novisiat SJ di Mariëndaal, Grave, Negeri Belanda, dan kemudian berlayar menuju Pulau Jawa.

Tempat misinya adalah Bukit Menoreh yang waktu itu disebut sebagai daerah yang paling subur di kawasan Kulon Progo. Saat itu, kawasan permukiman penduduk di wilayah terpencil ini masih berupa lembah-lembah dengan akses jalan-jalan yang sangat sempit.

Masih ada sedikit sekali sawah. Halaman rumah hanya ditanami singkong atau ketela. Hasil dari kebun sederhana tersebut dihargai terlalu murah; serta lebih sering mengalami gagal panen.

Maka, tidak mengherankan, kala itu pula sering terjadi bencana kelaparan yang menyengsarakan rakyat.

Kerajinan rumahan sama sekali belum disadari sebagai potensi yang meningkatkan perekonomian keluarga.

Kerajinan tersebut antara lain anyaman tikar dan tenunan di mana pekerja perempuan hanya mampu menghasilkan uang recehan lima hingga enam sen per hari.

Superior Misi Ordo Serikat Jesus waktu itu adalah Romo Romo J. Hoeberechts SJ. Saat berkunjung ke Boro, Romo J. Hoeberechts SJ bersama anak-anak Kalibawang, Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, DIY. (Dok Paroki Boro)

Hidup susah dan sering harus ngutang

Masyarakat mengalami kelahiran, pernikahan, gagal panen, hingga sakit-sakitan. Mereka terpaksa harus berhutang. Dengan bunga 50-200% yang sering ditawarkan oleh seorang singkek (keturunan Tionghoa).

Tidak hanya itu, rakyat juga boleh meminjam sekitar 5 hingga 10 gulden dari bank desa. Namun disertai bunga 55-60%.

Untuk dapat memperoleh pinjaman, rakyat harus menyerahkan tanah, rumah, ternak, dan kebun sebagai jaminan.

Kalibawang terserang wabah malaria

Pada tahun 1926, di daerah Kalibawang terjadi wabah malaria. Tidak hanya malaria, rakyat juga terjangkit wabah disentri. Selain itu, jumlah kematian anak-anak cukup besar. Ditambah kematian ibu saat melahirkan dan kematian bayi saat dilahirkan juga tinggi.

Pemerintah Hindia Belanda tahun1926-1927 kurang bersedia menolong rakyat, ketika wilayah permukiman ini mengalami wabah disentri.

Sikap pemerintah saat itu lebih bersedia membantu menanggulangi wabah bukan kuratif, tapi secara preventif.

Kedokteran masa itu masih kurang dihargai, karena dianggap kurang merakyat. Rakyat lebih mempercayai penyakit yang disebabkan oleh roh-roh jahat.

Sementara, dengan pendekatan manusiawi dan penuh belas kasih, Romo Prennthaler SJ mencoba membantu rakyat dengan membeli obat-obatan untuk mengatasi disentri.

Obat-obatan tersebut berupa telasih dan madu. Ternyata lebih ampuh dan lebih murah untuk mengobati disentri.

Selain disentri, rakyat juga terserang wabah pes dan kolera.

Dengan segenap tenaga, Romo Prennthaler SJ sering datang mengunjungi, merawat, dan menolong mereka.

Melalui langkah pengobatan penuh kasih dan manusiawi ini, Romo Prennthaler memperoleh perhatian masyarakyat, sehingga tidak sedikit yang kemudian mengajukan diri mau belajar iman kristiani, menjadi katekumen dan akhirnya dibabtis menjadi Katolik.

Tantangan di lapangan

Dalam pengembangan misi di kawasan Perbukitan Menoreh ini, Romo Prennthaler mengalami berbagai macam tantangan. Terutama dalam upaya mengembangkan umat. Cukup banyak tantangan yang mengguncangkan iman para katekumen.

Meskipun demikian, sebagian besar umat tetap setia. Dalam perkembangan waktu, maka romo berhasil membangun sekolah misi.

Namun, misi pendidikan sempat mengalami masalah. Kekurangan dana dan wakt itu juga belum mampu menyediakan guru. Saat itu, penyediaan tenaga guru ditangani Yayasan Kanisius. Administratornya adalah Romo Strater SJ.

Kekosongan tenaga guru itu dimanfaatkan oleh Muhammadiyah dengan mendirikan Sekolah Dasar Muhammadiyah yang pertama di Degan dan Kalibawang.

Namun pada akhirnya, karya Roh Kuduslah yang bekerja. Sehingga karya-karya misi pun berkembang pesat dilihat dari pertambahan jumlah umat Katolik yang semakin banyak di wilayah Boro hingga saat ini.

Kompleks makam Romo JB Prennthaler SJ di Boro, Kulon Progo, DIY, saat kami kunjungi tahun 2017. (Mathias Hariyadi)

Keliling lokasi dengan berjalan kaki

Pada awalnya, Romo Prennthaler SJ memulai karyanya di Boro di bulan Juni dan akhir tahun 1928 atau awal 1929. Dengan tinggal di pastoran. Kesibukan Romo Prennthaler di daerah Kalibawang dapat dilihat dalam situasi pastoral di Mendut dan sekitarnya.

Dalam satu bulan saja, Romo Prennthaler dapat melayani 4-5 kotbah, 3-4 kotbah menggunakan Bahasa Jawa, dan 1 kotbah berbahasa Belanda.

Selain itu, Romo Prennthaler juga rajin mengajar Katekismus per Minggu selama 16 jam.

Romo Prennthaler juga menerima sekitar 170 orang untuk pengakuan dosa setiap pekan.

Beliau juga menjelajahi desa-desa, menjalin relasi, menawarkan diri sebagai perawat. Sebagai orang berkebangsaan Jerman, ia bersedia belajar; terutama bahasa Belanda dan bahasa Jawa.

Asrama dan Sekolah Mendut

Selain itu, di asrama Kongregasi Suster OSF di Mendut, terdapat sekitar 100-an anak yang  butuh perhatian dan kasih sayang Romo Prennthaler.

Selain itu, beliau juga menjalin hubungan yang baik dengan Asisten Residen dan Penilik Dinas Kesehatan Sipil kala itu.

Sembari menjalankan karya misinya, Romo Prennthaler juga tidak henti-hentinya menolong umat untuk memperluas cakrawala pandangan mereka.

Ilustrasi kapel Stasi Rawaseneng, Temanggung, Jateng. (Dok. Sesawi.Net)

Pindah ke Rowoseneng

Sempat terjadi perubahan besar saat Romo Prennthaler SJ dipindahkan ke karya pastoral dari Kalibawang ke Rowoseneng.

Guna melayani Sekolah Pertanian yang dikelola oleh beberapa bruder Kongregasi Maria tak Bernoda atau Bruder van Dongen).

Perpindahan tersebut tidak berlangsung begitu lama. Romo Prennthaler kembali ditugaskan mengembangkan misi Kalibawang.

Pada akhirny,a seluruh keteladanan Romo Prennthaler diwariskan kepada generasi penerus para pelayan pastoral.

Meninggal dan dimakamkan di Boro

Di saat kesehatannya semakin menurun, Romo Prennthaler SJ masih bersedia untuk melayani Ekaristi untuk umat yang dikasihinya.

Hingga pada akhirnya, Romo Prennthaler meninggal pada 28 April 1946 di usia 61 tahun, dan dimakamkan di tempat ia berkarya.

Kompleks makam Romo JB Prenthaller SJ pasca renovasi total di kompleks makam kampung di sekitaran Gereja St. Theresia Lisieux Boro. (Fr. Agnes Ranubaya Pr)

Beberapa ranah misioner yang telah dilakukan oleh Romo Prennthaler antara lain:

  • Karya kegembalaan misioner.
  • Kesejahteraan sosial ekonomi rakyat.
  • Pengembangan bidang pertanian.
  • Pendidikan melalui persekolahan.
  • Misi dan pengajaran.
  • Pelayanan kesehatan rakyat miskin.
  • Ekumenis antara Zending dan Misi.
  • Relasi dengan berbagai instansi pemerintah.
  • Mengusahakan dana-dana homefront para misionaris.
  • Memelihara komunikasi melalui korespondensi. (Berlanjut)

Sumber:

  • Buku Romo JB Prennthaler SJ: Perintis Misi di Perbukitan Menoreh, Kenangan Penuh Syukur 75 Tahun Paroki St. Theresia Lisieux Boro.
  • Situs resmi Gereja St. Theresia Lisieux Paroki Boro: https://www.parokiboro.org/.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here