Kesabaran Seorang Wanita

0
6,065 views
Doa ibu untuk tak pernah selesai.

Puncta 09.02.23
Kamis Biasa V
Markus 7: 24-30

DALAM sebuah iklan di TV ada seorang ibu yang harus menghadapi bos yang bawel di kantornya. Dia dituntut segera menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai sekretaris.

Pulang ke rumah badan sudah capek karena pekerjaan, dia harus menghadapi anak yang rewel. Belum lagi dia harus melayani suami yang “menthel.”

Seorang ibu dituntut kesabarannya menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Anak yang rewel, bos yang bawel, dan suami yang “menthel” kadang membikin hati seorang ibu menjadi resah, gelisah, “kemrungsung” dan kadang ikut tersulut menjadi emosi.

Kalau sampai terpancing emosi, tidak jarang ibu ikut marah, naik pitam dan memukul. Bisa juga dia akan “ngambeg” merajuk, tidak mau bekerja atau kerja dengan muka muram.

Jika ia marah kepada suami, dia akan tidur menghadap tembok. Diam seribu basa, sepanjang malam hanya punggung yang diberikan kepada suaminya.

Namun dalam Injil, kita melihat seorang wanita yang sangat sabar menghadapi perlakukan yang tidak menyenangkan. Wanita itu berasal dari Siro Fenisia.

Bisa jadi dia menyadari berasal dari luar wilayah Yahudi. Mungkin dianggap sebagai orang kafir. Ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari Yesus.

Ibu itu mempunyai anak perempuan yang sedang kerasukan roh jahat. Ia datang dan tersungkur di depan kaki Yesus. Ia mohon supaya Yesus mengusir setan itu dari anaknya.

Namun tanggapan Yesus sungguh di luar dugaan. Yesus berkata, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu! Tidak patut mengambil roti yang disediakan untuk anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.

Sebagai seorang ibu yang hatinya sangat peka, pasti dia terkejut karena disamakan dengan anjing. Pernyataan Yesus itu pasti membuatnya malu, sakit hati dan marah.

Ia dianggap tidak patut menerima roti yang seharusnya diberikan kepada anak-anak.

Namun wanita itu tetap sabar. Ia tidak mundur atau marah. Ia dengan tenang menerima kata-kata Yesus itu. Ia menyadari ketidak-pantasannya.

Ia menerima disamakan dengan anjing demi kesembuhan anaknya. Maka wanita itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

Dengan kesabarannya wanita itu punya harapan bahwa anak-anak menyisakan remah-remah yang jatuh untuk anjing.

Ia mengharapkan ada sisa-sisa berkat yang dijatuhkan supaya anaknya tetap hidup. Kesabaran dan keteguhan hati wanita itu sungguh diuji.

Melihat betapa dalam iman wanita itu, Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia berkata, “Karena kata-katamu itu, pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Ia pulang dan mendapati anaknya sudah sembuh kembali.

Doa dan permohonan kita kadang tidak serta merta dikabulkan Tuhan. Butuh waktu lama untuk memohon kepada Tuhan. Bahkan kadang terasa Tuhan mengabaikan permintaan kita.

Tuhan sepertinya tidak berbuat apa-apa. Seperti Abraham yang begitu lama menantikan kelahiran seorang anak yang dijanjikan sendiri oleh Tuhan.

Bisa jadi Tuhan sedang menguji iman kita. Tuhan ingin melihat seberapa besar kita percaya kepada-Nya. Seperti wanita dari Siro Fenisia tadi, kita diajak tetap sabar dan percaya, terus berusaha tanpa henti.

Kendati seolah-olah Tuhan menolak memberi pertolongan, wanita itu tetap sabar dan terus berusaha.

Iman terwujud dalam tindakan. Percaya mendorong orang terus berusaha. Pada saatnya Tuhan akan menunjukkan cinta-Nya. Tuhan akan bertindak tepat pada waktunya.

Ia tidak akan membiarkan kita menderita. Hanya satu yang harus kita punya, yakni percaya!

Menyeberang ke Pulau Sumatra,
Duduk di buritan melihat senja.
Jangan pernah berhenti berdoa,
Tuhan pasti akan menolong kita.

Cawas, aku tahu kepada siapa aku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here