Lectio Divina 07.02.2024 – Najis Juga Datang Dari Hati

0
240 views
Asal kejahatan dan kebaikan, by J Rowland

Rabu, Minggu Biasa V, Hari Biasa (H)

  • 1Raj. 10:1-10
  • Mzm. 37:5-6.30-31.39-40
  • Mrk. 7:14-23

Lectio

14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. 15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” 16 (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!)

17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. 18 Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, 19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.

20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, 21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  

Meditatio-Exegese

Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya

Allah memanggil setiap manusia untuk hidup kudus, “Sebab Akulah Tuhan yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Im. 11:45; 19:2). Namun terdapat perbedaan cara pencapaian kekudusan antara pemimpin bangsa Yahudi dan Yesus.

Dalam mencapai kekudusan hidup para pemimpin agama Yahudi sepertinya lebih menekankan penghormatan atas tradisi daripada Sabda Allah. Rabbi Eleazer berkata, “Dia yang menjelaskan Kitab Suci secara berlawanan dengan tradisi tidak berhak mendapat bagian dalam hidup abadi.”

Najis atau tahir, dalam pandangan para musuh Yesus, ditentukan oleh hal-hal yang bersifat higienis,  fisikal dan psikologis. Memang, orang harus mencuci tangan untuk menghilangkan kotoran setelah bersentuhan dengan sayur mayur dari pasar.

Orang juga harus membersihakan barang rumah tangga, misalnya: cawan, kendi dan perkakas tembaga (Mrk. 7:2-5). Kebiasaan itu, ternyata, dimutlakkan, sehingga orang yang tidak melakukannya dianggap sebagai orang yang najis.

Tradisi juga mengatur tata pergaulan untuk menentukan tahir atau najis. Menyebut beberapa peraturan najis: semua orang asing yang dipandang sebagai musuh (Ibr. zar) dinyatakan najis (Sir. 50:25-26; Yoh. 4:90). Perempuan yang sakit pendarahan dianggap najis (Mrk. 5:25-34; Im. 15:19-31).

Ibu yang baru melahirkan dinyatakan najis (Luk. 2:21-24; Im. 12:2,4-6). Orang yang sakit kusta dinyatakan najis (Im. 13-14). Di samping itu, seluruh makanan yang dinyatakan najis dalam Kitab Imamat 11 tidak boleh dikonsumsi (bdk. Kis. 10:11-16).

Tanpa membatalkan satu zota pun Sabda Allah (bdk. Mat. 5:17-19), Yesus menyingkapkan bahwa seluruh tradisi itu baik, tetapi tidak menentukan status najis atau tahir di hadapan Allah. Yang menentukan tahir atau najis adalah apa yang keluar dari hati seseorang.

Dari hati orang

Kenajisan atau ketahiran ditentukan oleh hati manusia. Dalam tradisi Kitab Suci, hati merupakan pusat hidup manusia. Di situlah manusia mengolah seluruh kehendak yang akan mendorongnya bertindak. Dari pertimbangan batin yang sangat rahasia inilah ditentukan najis atau tahir.

Dalam hati inilah Allah berbicara dan mengingatkan untuk melakukan apa yang baik. Ia juga mengingatkan, seperti yang dilakukanNya pada Kain, “Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kej. 4:7).  

Dari hati yang gelap, muncullah kenajisan: segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Mrk. 7:21-22).

Maka, setiap murid Yesus harus menjaga supaya hatinya murni (bdk. 2Kor. 6:6; 1Tim. 1:5), karena, sabda-Nya (Mrk. 7:23), “Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang”, omnia haec mala ab intus procedunt et coinquinant hominem

Katekese

Kesabaran mematahkan lingkaran setan kebencian, Tertullianus, 160-225:

“Maka, marilah kita, para pelayan Tuhan, mengikuti Tuhan kita dan dengan sabar menanggung penghinaan agar kita diberkati! Jika, dengan sedikit kesabaran, saya mendengar kata-kata kotor atau jahat yang ditujukan kepada saya, saya dapat saja membalikkan pada yang orang itu. Maka, saya pasti melukai diri sendiri secara lebih parah.

Atau, saya pasti tersiksa oleh kebencian yang tak terungkapkan. Jika saya membalas dendam saat dikutuk, bagaimana saya dijumpai-Nya setia mengikuti ajaran Tuhan kita?

Karena sabda-Nya telah disampaikan melalui sabda-Nya bahwa orang dinyatakan sebagai najis, bukan karena piringnya yang najis, tetapi oleh kata-kata yang keluar dari mulutnya (Mrk. 7:15).” (On Patience 8)

Oratio-Missio

Tuhan, penuhilah hatiku dengan Roh Kudus dan jadikanlah hatiku seperti hatiMu. Kuatkanlah hati, budi dan kehendakku, agar aku selalu melakukan kebaikan dan menolak  kejahatan. Amin.  

  • Apa yang aku lakukan untuk menjaga supaya hati nuraniku tetap bening?

omnia haec mala ab intus procedunt et coinquinant hominem – Marcum 7:23

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here