Home KITAB SUCI & RENUNGAN HARIAN Renungan Harian Lectio Divina 17.6.2024 – Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

Lectio Divina 17.6.2024 – Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

0
Berilah kepada orang yang meminta kepadamu, by Vatican News

Senin. Minggu Biasa XI, Hari Biasa (H)

  • 1Raj 21:1-16
  • Mzm 5:2-3.5-6.7
  • Mat 5:38-42

Lectio

38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. 

Meditatio-Exegese

Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu

Berabad-abad saat Allah mendidik umat untuk menerima tuntutan hukum baru. Segar diingatan akan berlakunya hukum rimba: luka bengkak harus diganti nyawa, seperti tuntutan Lamekh.

Kata Lamekh, “Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” (Kej. 4:23-24).

Ribuan tahun setelah Lamekh, hukum diubah melalui Peraturan Musa, “Engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” (Kel. 21: 23-25).

Dibaca pada masa kini, hukum ini mungkin sangat kejam. Tetapi pada zaman kuna, hukum ini merupakan pembatasan terhadap balas dendam tanpa batas dan menjadi langkah awal menuju belas kasih.

Hukum ini tidak diterapkan huruf demi huruf, tetapi menjadi petunjuk bagi pengadilan untuk menentukan hukuman dan denda (bdk Ul. 19:18-21). Mata ganti mata menghasilkan kebutaan. Gigi ganti gigi menyebabkan pencernaan makanan kurang sempurna.

Murid-murid Yesus pun harus berhadapan dengan kesukaran dan tantangan. Mereka menghadapi saksi palsu, perampas keadilan, penindas, perampok tanah atau harta milik sah, pembawa aniaya dan kekerasan. 

Karena kesukaran itu, Yesus selalu menggemakan seruan untuk berpegang pada Allah. Ia memberi teladan bagaimana cara menghadapi kuasa kegelapan: menyerahkan Diri-Nya dibimbing oleh Roh Kudus (bdk. Mat. 4:1; Luk. 4:1).  

Ketika Yesus berbicara tentang Hukum Tuhan, Ia pasti melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang. Ia memberi tolok ukur baru bukan berlandaskan pada tuntutan akan keadilan – memberikan hak setara pada masing-masing pihak; tetapi berdasarkan pada hukum rahmat, kasih, dan kemerdekaan.

Siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu

Perjanjian Lama menyajikan teladan Nabot, yang melawan kesewenang-wenangan dengan kebenaran. Nabot, yang miskin, suci dan setia pada tradisi, dikorbankan untuk kerakusan penguasa tiranik yang menghancurkan siapa saja yang menentang keinginannya.

Raja Ahab memaksakan keinginan untuk menukar kebun anggur milik orang Yisreel itu dengan tanah yang lebih subur dan lebih luas. Nabot menolak, karena kebun anggur itu adalah milik pusaka leluhur dan harus tetap dipertahankan untuk menjadi milik keluarga.

Ia memohon sang raja memahami hukum pertanahan turun-temurun yang diatur dalam Im. 25:23-55. Sang raja tidak berkenan dan marah. Ahab lupa akan peringatan Samuel tentang kekejaman yang ditimbulkan oleh perilaku semena-mena setiap penguasa, seperti raja (bdk. 1Sam. 8:10-18).

Di saat genting, muncullah sang permaisuri, Izebel. Sang puteri jelita dari Libanon merekayasa kematian Nabot. Dengan rapi rencana disusun dan dilaksanakan untuk mengadili dan menjatuhkan hukuman bahwa Nabot mengutuki Allah dan raja (1Raj. 21:8).

Kelak Santo Yohanes menyingkapkan kemarahan Allah karena umat-Nya mengizinkan Izebel, lambang nabiah sesat, untuk mengingkari Allah dan berkompromi dengan berhala (Why. 2:20).

Nabot tidak meneteskan air mata atau mengeluarkan sumpah serapah penuh dendam. Tanpa takut pada kekuasaan tiranik, ia menghadapi kematian dan berpegang pada kebenaran.

Nabot menghayati sabda-Nya, “Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.” (Rat. 3:30). Yesus pasti memahami kisah kepahlawanan iman orang Yizreel ini.

Maka, tanpa kata Yesus mengubah hukum pembalasan menjadi belas kasih melalui rahmat, kesabaran, dan kebaikan hati. Ia juga menutup peluang untuk tindakan balas dendam.

Meneladan Sang Guru, para murid-Nya tidak hanya menghindari kembalinya perbuatan jahat, tetapi juga mengusahakan agar kebaikan melimpah pada mereka berlaku jahat.

Santo Paulus mengingatkan (Rm. 12:21), “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”, noli vinci a malo sed vince in bono malum

Serahkan jubahmu, berjalanlah bersama dia, berilah dan jangan menolak

Iman yang diwariskan para Rasul dalam tradisi Katolik berbeda dengan keyakinan lain. Perbedaan terletak pada rahmat yang diterima, dihayati dan disebar luaskan pada sesama.

Rahmat memungkinkan tiap murid Yesus  memperlakukan sesama, bukan karena mereka layak menerima perlakuan itu, tetapi karena Allah menghendaki mereka diperlakukan sepenuh belas kasih dan murah hati.

Saat Yesus mengalami sengsara karena dihina, dilecehkan, diperlakukan tidak adil dan dibunuh, dari kayu salib, Yesus bersabda (Luk. 23:34), “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”, Pater, dimitte illis, non enim sciunt quid faciunt.

Melalui pengampunan Yesus mampu membebaskan diri dari lingkaran setan kejahatan, kebencian, balas dendam, dan amarah, the spiral of violence. Prinsip ini selalu diteruskan dari generasi ke generasi.

Salib-Nya mendorong para murid untuk mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Kasih dan rahmat selalu memiliki daya untuk menyembuhkan dan menyelamatkan dari kehancuran. Kitab Suci mencatat bahwa darah Yesus membersihkan manusia dari seluruh dosa dan salah (Mat. 26:28; Ef. 1:7, 1Yoh. 1:7, Why. 1:5).

Karena Allah telah berbelas kasih pada manusia dengan mengorbankan Anak-Nya, Yesus Kristus, tiap murid dipanggil untuk bertindak murah hati dan berbelas kasih pada sesama, bahkan, kepada mereka yang bertindak jahat pada para murid-Nya, anda dan saya.

Katekese

Kalian menghancurkan diri sendiri melalui kebencian. Bapa Gereja tak dikenal dari Gereja Yunani:

“Kita telah menyaksikan bagaimana pembunuhan berasal dari amarah dan perzinahan dari gelegak keingan tak teratur. Dengan cara yang sama, kebencian seorang musuh dikalahkan oleh kasih persaudaraan.

Jika kamu memandang seseorang sebagai musuh, namun sebentar kemudian ia diubah oleh kebaikan hatimu. Maka, kamu mengasihi dia sebagai seorang sahabat.

Saya kira Kristus meminta kita memperlakukan musuh-musuh kita tidak dengan cara ini: bukan karena musuh layak untuk dikasihi oleh sesama manusia. Tetapi karena kita tidak layak untuk membenci siapa pun.

Karena kebencian selalu menjadi bintang yang terang dalam gelap. Di mana pun ia berada, ia menodai keindahan akal budi. Maka, Kristus meminta kita untuk mengasihi musuh kita tidak hanya demi menghormati mereka. Tetapi kita juga dihindarkan diri dari hal yang buruk.

Hukum Musa tidak membahas tentang  menyakiti musuhmu secara fisik, tetapi tentang membenci musuhmu. Maka, jika kamu sungguh membencinya, kamu telah menyakiti dirimu sendiri. Terlebih, jiwamu terluka jauh lebih parah dari pada tubuhmu.

Mungkin kamu tidak sama sekali tidak menyakitinya dengan membencinya. Tapi kamu pasti merobek-robek hidupmu sendiri.

Namun, bila kamu berbelas kasih kepada musuh, kamu jauh lebih merasa damai dari pada dia. Dan bila kamu berbuat baik padanya, kamu memetik jauh lebih banyak buah kebaikan dari padanya.” (Incomplete Work On Matthew, Homily 13, The Greek Fathers)

Oratio-Missio

Ya Allah yang berbelas kasih, kami mohon penuhilah hati kami dengan rahmat Roh Kudus-Mu, kasih, sukacita, damai, kesabaran, kelembutan hati, kebaikan, kesetiaan, kerendahan hati dan pengendalian diri. 

Ajarilah kami untuk mengasihi mereka yang membenci kami; berdoa bagi mereka yang berlaku curang pada kami; agar kami dapat menjadi anak-anakmu yang Kau kasihi, ya Bapa, Pencipta matahari yang terbit untuk orang baik dan jahat, mengirim hujan untuk yang jujur dan curang.

Dalam kesulitan anugerahilah kami rahmat untuk menjadi sabar; dalam kelimpahan jadikanlah kami rendah hati; ajarilah kami menjaga pintu bibir kami; dan ajarilah kami untuk tidak memberhalakan kesenangan duniawi, tetapi jadikanlah kami haus akan hal-hal surgawi. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin. (Doa Santo Anselmus, 1033-1109, terjemahan bebas)

  • Apa yang perlu kulakukan untuk memperlakukan orang yang membeci diriku?

Non resistere malo; sed si quis te percusserit in dextera maxilla tua, praebe illi et alteram – Matthaeum 5:39

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version