Pemimpin Sejati

0
33 views
Ilustrasi - Pemimpin Sejati. (Ist)

DI padepokan, Meidy dan Miana duduk bersila di depan Suhu Phei.

Meidy: Suhu, Pemimpin sejati harus yang paling pintar dan berkuasa, benar?

Suhu Phei, tersenyum: Lihat pohon bambu di taman itu. Tinggi kurus dan lemah, tampak lentur, tapi justru itulah kekuatannya. Bambu tahan goncangan dan selalu memberi ruang untuk tunas baru untuk tumbuh dan menjulang sama tinggi.

Itulah pemimpin sejati, tak berdiri sendirian di puncak, tapi mendorong orang lain agar kelak berdiri di puncak bersamanya.

Miana heran: Tapi, kalau pemimpin tak unjuk keunggulan, dia dianggap lemah dan tersingkir?

Suhu Phei: Lha kalau bayanganmu terus menutupi mata orang lain, kapan mereka bisa melihat matahari? Keberhasilan bukan diukur dari berapa lama kamu di atas, tapi dari berapa banyak pemimpin lain lahir dari kepemimpinanmu. Seperti Alkitab: “Barangsiapa ingin jadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 20:26, Alkitab, 2019).

Pemimpin sejati adalah yang melayani dan menuntun, bukan yang menindas.

Meidy: Pemimpin harus jadi ‘pelayan’? Kok seperti meremehkan.

Suhu Phei menirukan gerak rajawali: Lihat rajawali. Sebelum mengajar terbang, ia menggendong piyik-nya ke angkasa di atas sayap dan melepaskannya di angkasa. Melayani adalah keberanian untuk memperkuat yang lemah jadi kuat, dan menyiapkan menjadi mandiri.

Miana,terpikat: Inikah yang dimaksud Greenleaf, Suhu?

Suhu Phei mengangguk: Benar. Greenleaf menulis The Servant as Leader, pemimpin sejati menempatkan pertumbuhan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Gaya ini meningkatkan keterlibatan, kepercayaan, dan menurunkan kelelahan mental karyawan. (Canavesi & Minelli, 2021).

Meidy tertarik: Ah, aku ingat Jack Ma.

Suhu Phei tersenyum: Ya. “Jadilah pemimpin yang membuat orang-orang sekitarmu jadi lebih baik setiap hari.” Itu kata-kata Jack Ma.

Meidy ragu: Tapi kalau saya ajarkan semua ilmu saya, saya jadi tersaingi, dong?

Suhu Phei tertawa: Kalau penerusmu tak pernah melampaui dirimu, itu tandanya kamu tak berkembang. Pemimpin yang berkembang berhasil menciptakan penerus yang melebihi dirinya. Itu indikator keberhasilan tertinggi. Itu artinya ia mampu menginspirasi, mengembangkan, dan memberdayakan orang lain. Jangan takut kalah.

Pemimpin sejati naik bersama timnya, bukan sendirian di puncak. Kalau bos naik jabatan dengan memanfaatkan timnya, tapi ia akan sendirian di puncak, Pemimpin sejati membawa seluruh timnya naik bersama dan menciptakan lebih banyak pemimpin.

Ingat: “Sepi ing pamrih, rame ing gawe“, pemimpin sejati tak menjadikan jabatan alat cari untung pribadi, popularitas, atau kekuasaan, tapi fokus pada bekerja dan berkarya mencapai tujuan bersama. Kesibukannya memastikan timnya berhasil, bukan memastikan dirinya terlihat hebat.

Miana bersemangat: Jadi inti kepemimpinan sejati bukan popularitas, tapi warisan legacy?

Suhu Phei mantap: Tepat. Jabatan bisa hilang, tapi pemimpin yang kamu lahirkan adalah warisan abadi.

Suhu Phei, berdiri: Mulai besok, lakukan ini:

  1. Delegasikan satu tugas penting pada juniormu.
  2. Dengarkan keluhan tim tanpa memotong pembicaraan.
  3. Ukur suksesmu dari berapa banyak calon pemimpin lahir dari bimbinganmu.”

Meidy & Miana membungkuk hormat: Terimakasih Suhu. Kami akan mulai hari ini.

Suhu Phei: Ingat kata Lao-Tzu:

“功成事遂,百姓皆谓:“我自然”Gōng chéng shì suì, bǎixìng jiē wèi: “Wǒ zìrán.
A leader is best when people barely know he exists; when his work is done, they will say: We did it ourselves.” (Tao Te Ching, Bab 17).

Pemimpin sejati membimbing dan menciptakan lingkungan yang harmonis sehingga rakyat merasa merekalah yang mencapai kesuksesan itu sendiri, tanpa menyadari keberadaan sang pemimpin. Ini kontras dengan pemimpin yang ingin dikenali, dipuji, dan ditakuti.”

Siapkah Anda menjadi pemimpin sejati yang mengayomi?

Referensi:

  1. Alkitab. (2019). Perjanjian Baru: Matius 20:26. Lembaga Alkitab Indonesia.
  2. Canavesi, A., & Minelli, E. (2021). Servant leadership and employee engagement: A qualitative study. Employee Responsibilities and Rights Journal, 34(4), 413–435. https://doi.org/10.1007/s10672-021-09378-1
  3. Departemen Agama RI. (2005). Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI. (QS As-Sajdah [32]:24).
  4. Greenleaf, R. K. (1977). The servant as leader. Robert K. Greenleaf Center for Servant Leadership. (Original work published 1970)
  5. Lao-Tzu. (ca. 6th century BC). Tao Te Ching (Chapter 17).
  6. Pepatah Jawa. (n.d.). Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Ungkapan kearifan lokal Jawa tentang kepemimpinan.
  7. Wiyono, D., Tanjung, R., Setiadi, H., Marini, S., & Sugiarto, Y. (2024). Organizational transformation: The impact of servant leadership on work ethic culture with burnout as a mediating factor in the hospitality industry [Preprint]. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2401.12345

Footnote
“Dikembangkan sebagian dengan bantuan AI (DeepSeek, ChatGPT, Meta AI); dimodifikasi oleh penulis; lisensi: CC BY-NC 4.0.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here