Home BERITA Puncta 28.04.20: Roti Hidup

Puncta 28.04.20: Roti Hidup

0
Ilustrasi

Yohanes 6:30-35

WARUNG bakmi Bu Slamet itu hampir tutup. Masa pandemi ini memaksa orang tinggal di rumah. Ketika Pak Slamet mau menutup pintu, sebuah sepeda motor ojol datang, “Pak warungnya dah mau tutup? Aduh tolong pak, ini saya ada satu pesanan. Nyuwun tulung sanget pak.”

Mas Ojol itu memohon. “Seharian ini tak ada yang pesen online Pak. Saya pulang tidak bawa hasil apa-apa ini nanti.”

Dia mengiba. Pak Slamet menatap Bu Slamet dengan wajah cemberut. Tapi Bu Slamet langsung menyalakan kompor dan mulai memasak pesanan Mas Ojol.

Tak lama Bu Slamet membuat nasi goreng pesanan. Ia menghampiri Mas Ojol dan menyerahkan dua bungkus. “Lho hanya satu kok bu pesanan saya.”

Mas Ojol heran diberi dua. “Yang satu untuk Mas dan keluarga untuk makan di rumah.”

Mas Ojol itu menitikkan airmata. Sepanjang hari dia belum makan.

Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Slamet. “Terimakasih ibu, Tuhan membalas yang berlimpah untuk ibu.”

Katanya sambil berlalu untuk menghantar satu-satunya pesanannya.

Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Kelaparan bisa menimbulkan pertengkaran.

Perang bisa timbul karena rebutan lahan subur yang menghasilkan bahan pokok makanan. Roti adalah kebutuhan hidup orang Israel.

Ketika di padang gurun, mereka diberi roti oleh Yahwe melalui Musa hamba-Nya. Mereka berteriak-teriak kepada Musa karena bangsa itu kelaparan dan hampir mati di tengah gurun yang gersang.

Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga. “Akulah roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Yesus memberi hidup kepada dunia. Ia juga bersabda, “Yang makan Tubuh-Ku dan minum darah-Ku, ia akan memperoleh hidup kekal.”

Yesus memberikan Diri-Nya untuk kehidupan manusia. Yesus mengurbankan diri menjadi makanan bagi kita agar semua orang hidup. Dalam Ekaristi Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

Ekaristi menjadi kebutuhan rohani kita. kita pantas bersyukur karena Ekaristi – kendati sekarang kita belum bisa mengikutinya – Yesus menyediakan makanan rohani untuk kehidupan kekal.

Semoga Roti Hidup itu juga membuat kita mampu memberi hidup kepada orang lain, seperti Bu Slamet tadi.

Oneng dan Bajuri buka-buka warung.
Mereka juga siapkan thermogun.
Di masa pandemi ini kita jangan bingung.
Mari kita saling menolong seperti juragan.

Cawas, punya thermogun……

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version