Dari Tukang Pasang Keramik, Aku Belajar tentang Makna Hidup

0
135 views
Ilustrasi - Perjalanan umur manusia (Ist)

RUMAH peninggalan orangtuaku sudah mengalami beberapa kerusakan dan pelapukan. Butuh banyak renovasi memperbaikinya untuk bisa merasakan rumah warisan orangtuaku ini sebagai rumah layak huni dan nyama.

Beruntunglah ada rezeki yang mampir sehingga niat merawat harta warisa orangtua itu dapat dilaksanakan.

Pak Tri, tukang keramik

Setelah beberapa pekan, hari ini dimulai pengerjaan lantai. Perhatianku terpatri, saat menyaksikan tukang pasang lantai bernama Pak Tri itu mulai pekerjaannya.

Dengan teliti,dia mengukur dan melihat posisi lantai. Mengunakan alat tertentu untuk melihat sudut-sudut simetrisnya.

Sambil minta kernet asisten tukang agar dia segera merendam keramik lantai di sebuah ember berisi air yang sebentar lagi akan dipasang, Pak Tri lalu menarik benang itu dari ujung ke ujung dan memancangkannya dengan paku di setiap ujungnya.

Tujuannya agar lantai yang dipasang lurus dan rata.

Ilustrasi – Tukang pasang keramik di lantai. (Ist)

Adukan campuran perekat pun lalu disiapkan. Mulailah Pak Tri memperlihatkan kepiawaiannya memasang keramik. Diambilnya campuran perekat yang warnanya abu-abu tua itu dengan sendok semennya. Tangannya yang terampil, meratakannya untuk mendapatkan ketebalan yang diinginkan.

Satu persatu lantai keramik ditempelkan. Sudah pasti ini bukan aksi sembarang tempel. Agar mendapatkan tinggi yang diinginkan, lantai itu dipukul-pukul dari segala sudut. Bukan dengan palu besi, tapi palu karet agar tak merusak bagian atas lantainya.

Tujuannya agar perekat tadi menempel pada guratan-guratan yang ada di balik kepingan keramik lantai yang ditempelkan itu.

Perekat dan lantai harus terpasang sempurna agar tidak ada lantai yang terlepas; tak lama setelah dipasang. Hal ini sering kali menyebabkan lantai keramik jadi pecah.

Setelah dianggap merekat sempurna, waterpass digunakan untuk melihat rata tidaknya lantai yang dipasang. Lembaran keramik lantai yang sebelumnya sudah direndam air ini ditata rapi. Tak lupa masing-masing diberi antara atau nat. Ternyata tak mudah memasangnya.

Meski keramik-keramik ini cetakan pabrikan, namun ya tetap saja ada perbedaan “jarak” mungkin satu sampai dua milimeter antara satu dengan lainnya. Pak Tri harus sangat cermat memilih keramik yang akan dipasang supaya nat itu lurus dan rata.

Rapi, tidak mengganggu bagi mata yang melihat.

Beberapa kali terlihat, keramik yang telah direkatkan, terpaksa dilepas lagi. Instingnya sebagai ahli pasang keramik lantai mungkin merasa masih belum pas.

Setelah semua terpasang, barulah bisa diamati susunannya yang rapi. Bercak-becak corak yang ada pada masing-masing keramik lantai itu terkesan tidak beraturan. Namun saat sudah rapi tersusun, bercak-bercak itu malah membuat nampak cantik.

Belajar tentang kehidupan

Dari Pak Tri, tukang yang memasang lantai ini, aku belajar sesuatu tentang kehidupan.

Lantai adalah gambaran hidup yang penuh bercak luka kehidupan. Hidup tersusun dari satu lembaran keramik bergabung dengan lembaran lantai keramik lainnya. Lembaran-lembaran yang penuh bercak tak beraturan. Tak menarik untuk disaksikan. Tentu saja pada awalnya saja.

Sang Tukang Ahli, tak segan merendam lantai ini dalam air. Kedinginan, menggigil, dan banyak rasa tak nyaman lainnya. Itu dilakukan agar tak mudah pecah saat dipasang. Tak mudah retak menghadapi dinginnya kehidupan.

Sang Tukang Kehidupan ini dengan piawai meletakkan lembar demi lembar keramik kehidupanku dengan rapi. Memukul-mukulnya untuk memperoleh hasil yang sempurna. Sakit dan tak mudah bagi untuk melewati masa ini. Tetapi yang sudah mengetahui pola kehidupan, mengukur segala sudut hidup kita dengan presisi.

DIA sangat faham sisi mana yang harus dipukul-pukul. Sekeras apa pukulannya. Namun saat dipukul, DIA masih memeganginya dan tidak akan melebihi batas kemampuan.

Untuk dapat tetap bertahan dari pukulan, gempuran dan injakan-injakan, maka melekat erat pada-NYA adalah satu-satunya pilihan.

Ilustrasi: Mengunjungi Orang Sakit. (Laurensius Suryono/Keuskupan Malang)

Apabila hidup terekat kuat dengan Sang Pemilik Hidup, maka hari-hari hidup yang dijalani tak akan ada rongga di dalamnya. Rongga-rongga dalam hidup bisa jadi berisi kekecewaan, kemarahan, kesedihan dan lainnya yang menyebabkan hidup mudah rapuh dan pecah saat menghadapi realitas kehidupan.

DIA akan mengisi rongga-rongga itu dengan sempurna. Ini dimaksudkan agar hidupku pun bisa merekat sempurna kepada-NYA juga.

Lantai kehidupanku pasti tidak akan mulus sempurna. Pasti penuh dengan bercak yang tidak menarik dan corak yang tidak beraturan. Abu-abu atau bahkan hitam kelam diatas sebuah lantai keramik yang mulus.

Bila bukan tukang yang yang ahli, pasti akan kesulitan menyusunnya agar membentuk suatu desain yang menarik.

Berpegang erat pada tangan-Nya

Tapi aku sangat percaya, DIA tak pernah main-main dengan hidupku. DIA justru sangat perduli.

Bila aku mempercayakan  hidup dalam Tangan-Nya saat melangkah mengarungi kehidupan ini.

DIA akan susun bercak kehidupanku menjadi pola yang indah yang merekat sempurna dalam Tangan Kasih-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here