Home LUMBUNG GAGASAN Lebih Berkuasa

Lebih Berkuasa

0

“Yohanes memberitakan, “Sesudah aku akan datang Dia yang lebih berkuasa daripadaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Mrk 1,7)

DALAM pidatonya pada sidang tahunan MPR, Presiden mengatakan bahwa tidak ada satu lembaga negarapun yang memiliki kekuasaan absolut atau yang memiliki kekuasaan lebih besar dari lembaga negara yang lain. Lembaga-lembaga negara justru bisa bekerja dengan baik, bila saling mengingatkan, saling mengontrol, saling mengimbangi dan melengkapi. Dalam kesempatan lain, seorang mantan gubernur pernah mengatakan bahwa jabatan menteri lebih berkuasa dari pada jabatan gubernur, karena seorang menteri bisa melakukan pemotongan APBD.

Apa yang disampaikan Presiden nampaknya relevan untuk direnungkan dan direfleksikan oleh banyak lembaga, instansi, organisasi, para pejabat dan seluruh rakyat.  Apa yang disampaikan oleh seorang mantan gubernur tersebut, mungkin merupakan gambaran dari kenyataan riil situasi dan kondisi yang terjadi di negara ini, yakni ada seseorang yang merasa lebih berkuasa dari pada pihak lain.

Perasaan diri lebih berkuasa bisa menjangkiti sebuah lembaga, instansi, organisasi, pejabat atau siapa saja. Perasaan diri lebih berkuasa bisa menjangkiti seorang kakak terhadap adiknya; orang tua terhadap anak-anaknya; guru terhadap siswa; majikan terhadap pembantunya; pimpinan terhadap karyawannya; gembala terhadap dombanya; kelompok mayoritas terhadap minoritas; dsb. Perasaan diri lebih berkuasa sering nampak dalam perilaku yang cenderung memerintah, memaksakan kehendak, menyuruh; juga nampak dalam sikap sombong, mau menang sendiri, sulit mendengar dan menerima pendapat orang lain.

Orang merasa diri lebih berkuasa dari pada orang lain karena berbagai macam hal, seperti: usia yang lebih tua, pendidikan yang lebih tinggi, pangkat dan jabatan tinggi yang disandang, posisi dan kedudukan yang diperoleh atau juga kekayaan yang dimiliki. Mereka merasa diri lebih berkuasa karena hal-hal yang melekat di dalam dirinya atau hal-hal yang dimiliki. Kekuasaan seperti itu akan hilang, seiring dengan hilangnya hal-hal yang dimiliki atau yang melekat di dalam dirinya.

Yohanes Pembaptis dikenal sebagai seorang nabi besar. Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak ada seorang pun yang lebih besar dari dia. Sekalipun demikian, Yohanes memberi kesaksian bahwa Dia yang datang kemudian lebih berkuasa dari dirinya. Dia memang lebih besar dan lebih berkuasa dalam perkataan dan perbuatan, karena Dia adalah Anak Allah, Pribadi yang berkenan kepada Allah.

Dalam peristiwa dan pengalaman apa, perasaan lebih berkuasa juga pernah menjangkiti diriku? Hal-hal apa saja yang menyebabkan perasaan tersebut muncul dalam diriku? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version