
Introduksi
HARI Sabat, sebagaimana tercantum dalam Sepuluh Perintah Allah, dipahami sebagai hari untuk berhenti bekerja demi pemulihan semua ciptaan—termasuk hamba, hewan, serta hubungan manusia dengan Tuhan.
Demikian pula, Tahun Sabat sebagaimana dicatat dalam Kitab Keluaran (23:10-11) mewajibkan tanah untuk beristirahat, hasil spontan tanah dibagikan bagi kaum miskin dan binatang liar, serta pembebasan budak Ibrani dari ikatan perhambaan.
Puncak dari praktik tersebut adalah Tahun Yobel, yang dirayakan setiap 50 tahun setelah tujuh kali Tahun Sabat. Pada momen ini, rumah dan ladang yang dijual karena utang dikembalikan kepada pemiliknya, sementara orang miskin yang menjadi hamba dibebaskan dan dipulangkan ke tanah warisannya (Im 25:28, 31).

Namun, harus bagaimana ini, karena…
Namun, kearifan itu sering digilas oleh sistem istana. Nabi Samuel sudah memberi peringatan (1Sam 8:11-17) bahwa kekuasaan raja akan merampas anak-anak muda untuk dijadikan pekerja, menyita ladang dan hasil bumi, serta memperbudak rakyat.
Kritik ini menunjukkan bahwa semangat Yobel sering kali dipadamkan oleh keserakahan dan ketidakadilan sosial.
Meski demikian, nilai Tahun Yobel tidak pernah benar-benar hilang. Peraturannya tersimpan dalam Taurat (Im 25; Ul 5:21) dan dipelihara oleh para nabi.
Kitab Raja-raja mencatat kasus kebun anggur Nabot (1Raj 21). Sementara, Nabi Yesaya menegaskan bahwa ibadah sejati adalah “membuka belenggu kelaliman, memerdekakan orang yang teraniaya” (Yes 58:6).
Nubuat Yesaya tentang Tahun Rahmat Tuhan (Yes 61:1-2a) bahkan menghidupkan harapan mesianik: Kabar Baik bagi orang sengsara, pembebasan tawanan, dan kelepasan bagi yang terkurung.

Kepenuhan semangat Yobel dalam diri Yesus Kristus
Dalam lintasan sejarah Gereja, semangat Yobel menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Ini kemudian diteruskan oleh figur-figur seperti Santo Fransiskus dari Assisi, dan akhirnya menjadi seruan global melalui ensiklik Laudato Si’ yang dikeluarkan Paus Fransiskus pada 2015.
Perayaan Nasional 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ oleh Gerakan Laudato Si Indonesia (GLSI) ini sekaligus menyiapkan umat menyongsong Tahun Yubileum 2025 bertema Peziarahan Harapan.
Makna Yobel tidak berhenti pada nostalgia Israel kuno. Melainkan, akan selalu terus hidup sebagai panggilan Gereja: keinginan untuk senantiasa memulihkan relasi dengan Tuhan, sesama, dan bumi.
Semangat “Reconnect, Learn, Celebrate” menjadi ajakan agar umat beriman menjaga bumi sebagai rumah bersama, memperjuangkan keadilan sosial, sekaligus meneguhkan keselamatan jiwa dalam harapan akan dunia baru yang adil dan berkelanjutan.
Inti pesan semangat Yobel
Makna asli Tahun Yobel dalam Israel kuno memang sangat sosial-ekologis: pemulihan tanah, pembebasan hamba, keadilan sosial, keseimbangan komunitas. Jadi bukan sekadar “spiritual” atau “keselamatan pribadi,” tetapi lebih ke keselamatan komunal dan relasi dengan ciptaan.
Kritik para nabi (misalnya Samuel, Yesaya, dll.) menunjukkan bahwa nilai Yobel ini melawan sistem penindasan politik, ekonomi, dan istana. Artinya, pesan Yobel tetap hidup bahkan ketika secara praktis sulit diwujudkan.

Harapan mesianik
Tahun Yubileum 2025 Gereja Katolik bertema “Peziarahan Harapan” ini sebenarnya menghidupi roh yang sama yang intinya berisikan:
- Harapan akan pembebasan rohani (keselamatan jiwaku).
- Harapan akan keadilan sosial (kesetaraan, pemulihan martabat manusia).
- Harapan ekologis (Laudato Si’): rumah bersama kembali dipulihkan.
Jadi, makna Yobel tetap relevan untuk Tahun Yubileum 2025: bukan hanya soal keselamatan pribadi, tetapi keselamatan menyeluruh—jiwa, komunitas, dan ciptaan. (Berlanjut)











































