Home BERITA Film “Dear You”: Sepotong Foto, Cinta yang Salah Dipahami, dan Jejak Perantauan...

Film “Dear You”: Sepotong Foto, Cinta yang Salah Dipahami, dan Jejak Perantauan Tionghoa

0
86 views
Foto yang menjadikan dua nenek di kota berbeda memendam rasa perasaan yang bertolak belakang sebagaimana tampil dalam film anyar "Dear You". (Ist)

CINTA sungguh bisa menjadi “buta” dan sampai juga membutakan hati nurani manusia. Terjadi, ketika kita tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya. Dan itulah yang terjadi dalam film anyar bertitel Dear You (Agustus 2026), film berbahasa Tiochu yang mempertemukan kisah dua perempuan lanjut usia di dua negara berbeda.

Yang satu bernama Iap Sogriu (Wu Shaoqing) tinggal tenang di Shantou, Provinsi Guandhong, China Daratan Tiongkok, dengan sejarah panjang harus membesarkan ketiga anaknya dan kehilangan jejak sejarah. Dan Satunya lagi bernama Zia Lamgi (Li Zitong) berada di Bangkok, Thailand, yang memendam kisah sangat sedih, juga karena telah kehilangan jejak sejarah.

Di antara mereka ada seorang lelaki bernama Den Bhagseng (Wang Yantong) yang boleh dikatakan dalam satu hentakan nafas panjang menyimpan misteri kehidupan sehingga kedua perempuan usia lanjut di dua kota berbeda itu saling memendam rasa cinta lama. Namun keduabta tak pernah mendapatkan jawaban atas episode sejarah yang hilang tersebut.

Dan perasaan yang selalu gamang itu selalu menggelayuti kedua perempuan tua itu terjadi antara lain disebabkan oleh dua hal berbeda. Yang dari Shantou, perasaan dan pertanyaan selalu terpedam hanya karena sebuah foto. Yang di Bangkok bertanya bilamana foto dan surat yang dia kirim ke Shantou itu benar-benar telah sampai atau tidak – sampai akhirnya juga tidak mendapat kepastian dan jawaban jelas.

Dear You adalah sebuah film drama keluarga Tiongkok tahun 2026 yang disutradarai dan ditulis oleh Lan Hongchun. Film ini dibintangi oleh sebagian besar aktor non-profesional yang menampilkan Li Sitong, Wang Yantong, Wu Shaoqing, Zheng Runqi, dan Wang Xiaohui, serta aktris asal Thailand, Usha Seamkhum.

Film ini sebagian besar menggunakan bahasa Tiochiu yang waktu itu dituturkan di wilayah Chaoshan, Provinsi Guangdong bagian timur. Di wilayah Kalbar -terutama Pontianak- Tiochu menjadi bahasa sehari-hari bagi warga Tionghoa di sana.

Salah satu ikon di Kota Shantou, Provinsi Guandhong, RRC. (Mathias Hariyadi)

Foto tanpa cerita

Selembar foto inilah yang selama puluhan tahun telah menyimpan kesalahpahaman; terutama di pihak Nenek Iap Sogriu di Shantou, China Daratan.

Kisah cinta panjang yang akhirnya membutakan Nenek Iap Sogriu, namun di lain pihak malah bisa menjadikan Nenek Zia Langi selalu bergairah untuk menemukan makna hidupnya sebagai perempuan ini bermula, ketika foto tanpa narasi itu dikirim dari Bangkok menuju Shantou.

Perempuan di Shantou melihat foto tersebut dan menduga suaminya telah menikah dengan perempuan lain di Bangkok.

Padahal, bukan kisah itu yang sebenarnya terjadi. Foto itu sebenarnya dikirim bersama surat yang menjelaskan duduk perkaranya. Namun dalam perjalanan, tukang pos yang membawa kiriman tersebut jatuh ke sungai.

Foto itu berhasil sampai ke tujuan dan sampai di tangan Nenek Iap Soigru. Namun, surat yang menyertainya tidak. Padahal, kertas-kertas surat itu justru memuat cerita yang sebenarnya di balik foto itu.

Maka, sampailah sebuah gambar tanpa disertai konteks peristiwanya. Dan dari gambar itulah lahir kesalahpahaman yang bertahan sangat lama.

Kumpulan surat-surat yang menjadi sumber kabar dan gejolak emosi dalam film “Dear You” (2006)

Dua perempuan, satu kerinduan

Bertahun-tahun kemudian, kedua perempuan itu telah memasuki usia senja. Ingatan mereka mulai memudar. Namun anehnya, beberapa kenangan lama justru tetap tinggal.

Mereka masih mengingat lelaki bernama Den Bhagseng yang pernah hadir dalam kehidupan mereka. Masih ada kerinduan, kecemburuan, rasa kehilangan, sekaligus pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Inilah salah satu bagian paling menyentuh dari film Dear You yang hari-hari ini diputar di sejumlah bioskop besar di Jakarta.

Film ini bukan jelas bukan berkisah tentang cinta segitiga. Ia berbicara tentang bagaimana manusia menyimpan kenangan, bahkan ketika usia perlahan-lahan mengambil sebagian kemampuan mereka untuk mengingat.

Pergi dari Shantou

Lelaki yang menghubungkan kedua perempuan tua tersebut berasal dari Shantou. Ia bernama Den Bhagseng yang diperankan oleh Wang Yantong. Ia nekad meninggalkan Tiongkok antara lain untuk guna bisa menghindari wajib militer. Dan seperti banyak orang Tionghoa pada zamannya, ia pergi merantau ke Nanyang -sebutan untuk kawasan “Laut Selatan”- terutama wilayah Asia Tenggara.

Perjalanan kemudian membawanya sampai ke Bangkok. Di sana hidupnya jauh dari kemewahan. Ia bekerja sebagai penarik becak dan tinggal bersama sebuah keluarga.

Keluarga Tionghoa peranakan dan berbahasa ibu Tiocu ini mempunyai seorang anak perempuan. Hubungan keduanya yang semula masuk ranah “musuhan” karena perbedaan karakter, namun kemudian berkembang menjadi sebuah relasi personal sangat dekat.

Mereka tidak pernah terikat dalam perkawinan. Masalah muncul ketika kedekatan itu terekam dalam sebuah foto.

Foto yang mestinya menjadi kenangan justru berubah menjadi sumber kesalahpahaman ribuan kilometer jauhnya.

Menemani keluarga dari Pontianak bertemu dengan sanak-saudara kerabat dan leluhur mereka di Shantou, Provinsi Guandhong, RRC, Juli 2026. (Arsip Mathias Hariyadi)

Bukan sekadar drama keluarga

Kalau hanya dilihat dari kisah tersebut, film Dear You memang merupakan sebuah drama keluarga yang sederhana. Namun film ini menjadi jauh lebih menarik, ketika diletakkan dalam konteks sejarah Tiongkok pada pertengahan mulai abad XX.

Pergolakan politik, perang saudara, kemiskinan, dan sulitnya memperoleh penghidupan membuat banyak penduduk Tiongkok berani memutuskan mau meninggalkan tanah kelahiran.

Dari kawasan pesisir Tiongkok selatan, termasuk Shantou dan kawasan Chaoshan, mereka berlayar ke “selatan” mencari kehidupan baru.

Ada yang menuju Thailand. Ada yang pergi ke Malaysia dan Singapura. Dan tidak sedikit pula yang akhirnya tiba di Nusantara – di antara Singkawang dan Pontianak (Kalbar), Bangka-Belitung (Kepri), dan daerah-daerah lainnya.

Jejak sejarah Tionghoa Perantauan yang dekat dengan bangsa Indonesia

Di sinilah film bagus dengan para bintang non profesional tapi dengan kekuatan akting yang menawan ini  menjadi sangat “bunyi” bagi penonton Indonesia. Karena kisah migrasi orang-orang Tionghoa dari Daratan Tiongkok menuju kawasan Asia Tenggara ini bukan sesuatu yang jauh dari pengalaman bangsa Indonesia.

Jejak komunitas Tionghoa peranakan dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Bangka Belitung, Singkawang, Pontianak, dan banyak wilayah lain mempunyai sejarah panjang perjumpaan dengan para pendatang dari Tiongkok.

Mereka datang dalam periode berbeda dan dengan alasan berbeda pula. Ada yang menjadi pekerja tambang seperti yang banyak ditemui di Bangka-belitung. Ada yang berdagang seperti di Singkawang, Pontianak, Ketapang.

Ada yang bertani di tempat lain. Ada pula yang memulai kehidupan dari pekerjaan-pekerjaan sederhana.

Namun satu hal sering tetap mereka pertahankan: hubungan dengan keluarga di tanah leluhur.

Bandar Udara Shantou, RRC. (Mathias Hariyadi)

Surat dari seberang laut

Sebelum ada HP, WhatsApp, atau panggilan video, surat selalu saja menjadi “jembatan” paling mudah yang menghubungkan dua dunia. Surat dikirim dari tempat perantauan menuju kampung halaman.

Bersamaan dengan itu, para perantau juga mengirim uang untuk membantu keluarga yang mereka tinggalkan. Karena itulah korespondensi menjadi salah satu bagian menarik dalam film Dear You ini.

Koleksi kertas-kertas surat dengan tanda khusus sebagaimana muncul dalam film Dear You ini merupakan bagian dari sejarah kehidupan diaspora Tionghoa di Asia Tenggara.

Kabar dari Bangkok menuju Shantou bisa membutuhkan perjalanan panjang. Dan ketika sebuah surat tidak pernah sampai, kehidupan orang-orang yang menunggunya pun bisa berubah. Persis seperti yang terjadi dalam film Dear You.

Ketika sejarah mempunyai wajah manusia

Buku sejarah biasanya mencatat perang, perubahan pemerintahan, pergolakan politik, dan perpindahan penduduk dalam angka-angka besar.

Tetapi Dear You memilih cara lain. Sejarah itu ditampilkan melalui wajah manusia biasa.

  • Seorang lelaki bernama Den Bhagseng yang telah meninggalkan kampung halaman di Daratan Tiongkok.
  • Seorang perempuan Iap Sogriu yang setia menunggu di Shantou.
  • Seorang perempuan lain yakni Zia Lamgi yang menemani Den menjalani kehidupan di Bangkok.

Lalu ada selembar foto dan surat yang hilang.

Sederhana sekali. Namun justru dari cerita sederhana itulah kita melihat dampak sebuah pergolakan sejarah terhadap kehidupan manusia.

Airmata dari masa lalu

Bagi penonton Indonesia -terutama keluarga-keluarga yang mempunyai sejarah leluhur dari Tiongkok- film Dear You bisa menghadirkan pengalaman menonton yang sangat berbeda.

Mungkin saja, cerita dalam film tersebut akan mengingatkan kita pada kisah kakek atau nenek.

Tentang seseorang yang dahulu naik kapal meninggalkan Tiongkok. Tentang keluarga yang menunggu kabar dari seberang laut. Tentang surat yang datang berbulan-bulan kemudian. Tentang uang yang dikirim pulang.

Atau tentang seseorang yang akhirnya tidak pernah kembali. Karena itu, Dear You bukan hanya film yang berpotensi menguras emosi dan airmata.

Ia juga menjadi semacam potongan kecil dokumentasi tentang sejarah panjang migrasi masyarakat Tionghoa dari daratan Tiongkok menuju Asia Tenggara.

Airmata dua orang dari Pontianak yang baru saja mendarat di Shantou tiba-tiba pecah. Tetapi bukan karena kesedihan. Itu airmata sukacita.

Setelah sekian lama terpisah oleh laut, negara, dan pergantian generasi, sebuah keluarga dari Pontianak (Kunthien) akhirnya bertemu kembali dengan kerabat leluhur mereka di Shantou, Tiongkok.

Peristiwa itu terjadi tahun 2017 – saat saya diajak sebuah keluarga dari Pontianak pergi ke Shantou. Tujuannya bukan sekadar jalan-jalan. Mereka ingin mencari dan menemui kembali keluarga leluhur mereka.

Selama sekitar satu pekan saya mengikuti perjalanan mereka. Dari satu keluarga ke keluarga lain. Dari satu tempat ke tempat berikutnya. Dan hampir setiap pertemuan menghadirkan cerita yang sama: kegembiraan, pelukan, percakapan panjang, makan bersama, dan tentu saja airmata sukacita.

Mereka seperti sedang menyambungkan kembali mata rantai keluarga yang pernah terputus oleh sejarah.

Kumpul reunian bersama keluarga leluhur di Shantou, RRC. (Mathias Hariyadi)

Dari Shantou sampai Kunthien

Shantou adalah kota pesisir di kawasan Laut China Selatan. Kawasan ini menjadi salah satu tanah asal komunitas Teochew atau Tiociu yang kemudian banyak merantau ke berbagai wilayah Asia Tenggara. Termasuk ke Indonesia.

Keluarga yang saya dampingi saat itu berasal dari Pontianak. Dalam catatan lama komunitas Tionghoa, Pontianak dikenal pula dengan sebutan Kunthien. Ketika akhirnya bertemu dengan kerabat dekat di Shantou, keluarga di sana seperti menemukan kembali jejak saudara mereka yang dahulu pergi sangat jauh.

Dari Shantou menuju Kalimantan Barat itu terjadi puluhan tahun berlalu. Generasi berganti. Namun ingatan tentang keluarga yang pergi ternyata tidak sepenuhnya hilang. Itulah yang membuat pertemuan di Shantou tahun 2017 tersebut begitu emosional – menyedot airmata sukacita.

Dan barangkali, setelah lampu bioskop menyala, sebagian penonton akan menyadari satu hal. Karena di balik sejarah besar migrasi selalu ada kisah-kisah kecil tentang manusia: seseorang yang pergi, seseorang yang menunggu, dan seseorang yang terus mencintai meski kabar tak kunjung tiba.

Baca juga: From Pontianak to Guangdong, a brother and sister discover their Chinese roots

Mathias Hariyadipenikmat filsafat, teologi, buku, dan film

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo