Sabtu. Hari Biasa. Pekan Biasa XIX (H)
- Yeh. 18:1-10.13b.30-32
- Mzm. 51:12-15.18-19
- Mat. 19:13-15
Lectio
13 Ada orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan-Nya ke atas kepala mereka dan mendoakan mereka. Tetapi pengikut-pengikut Yesus memarahi orang-orang itu.
14 Maka Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku. Jangan melarang mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang menjadi anggota umat Allah.”
15 Lalu Yesus meletakkan tangan-Nya di atas kepala anak-anak itu dan memberkati mereka. Kemudian Ia pergi dari situ.
Meditatio-Exegese
Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup
Tujuh ratus tahun sebelum Yesus lahir, tercatat bahwa umat secara umum percaya bahwa dosa orang tua akan ditanggung oleh anak keturunan mereka. Nabi Yehezkiel mencatat, “Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu?” (Yeh. 18:2).
Nabi Yeremia, yang berkarya sebelum Nabi Yehezkiel, pun mencatat keyakinan yang sama (Yer. 31:29). Keyakinan itu masih dipegang erat umat, ketika saat menjumpai orang yang lahir buta, murid-murid Yesus bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh. 9:2).
Nabi Yeremia membantah keyakinan umum itu dengan alasan, “Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu.” (Yer. 31:30).
Sedangkan Nabi Yehezkiel mengutip kehendak Allah dan menyampaikan pada umat, “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. Sungguh, semua jiwa Aku punya. Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya. Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” (Yeh. 18:3-4).
Dengan kata lain, sang nabi mendobrak keyakinan komunal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikut. Seorang pribadi tidak lagi bersembunyi dalam ikatan kelompok atas tanggung jawab pada tindakan pribadi; atau kelompok tidak lagi mendaku kebaikan seseorang untuk kepentingan bersama.
Maka, jika umat mengalami penderitaan pada masa pemerintahan Nebukadnezar, kesalahan tidak ditimpakan pada orangtua, kakek-nenek dan leluhur mereka. Setiap orang bertanggung jawab atas dampak kesalahan dan dosa yang dibuat sendiri: orang yang berbuat dosa itu harus mati.
Nabi Yehezkiel memaparkan contoh hidup yang melibatkan tiga generasi: seorang ayah benar (Yer. 18:5-9) memiliki anak yang berperilaku serong (Yer. 18:10-13); lalu si anak memiliki anak dan ia melakukan apa yang benar. Maka, tiap orang akan mengikuti hukum: siapa pun yang “melakukan semua ketetapan-Ku dengan setia, maka ia pasti hidup. Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” (Yeh. 18:19-20).
Santo Paus Geregorius Agung mengajar, “Setiap orang yang melakukan dosa seperti ayahnya turut menanggung kesalahan ayahnya. Tetapi, orang yang tidak turut menanggung kejahatan ayahnya tidak memikul kesalahannya.
Anak yang jahat dari ayah yang jahat menanggung bukan hanya dosanya sendiri, tetapi juga dosa ayahnya, karena ia menambahkan dosanya sendiri kepada dosa ayahnya karena melawan Tuhan. Adil, di mata hakim yang tegas, bahwa orang yang mengikuti jejak ayahnya yang jahat menanggung dosa ayahnya di kehidupan ini.” (Roman Catechism, 3, 2, 31-32).
Untuk membina iman dan cara hidup unggul Nabi Yeremia tak hanya mencantumkan daftar dosa: penyembahan berhala, perzinahan, kenajisan, penindasan, keserakahan; tetapi juga keutamaan yang harus diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari: keadilan dan kebenaran, keadilan, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang (Yeh. 18:6-8.11-13.15-17).
Dengan kata lain, nabi mendidik umat untuk menghayati dan melaksanakan seluruh perintah Allah yang dikenal sebagai Hukum Deuteronomis, hukum kedua yang berpusat pada bagaimana memperlakukan sesama (Ul. 12:1-26:15) dan hukum kekudusan (Im. 17:1-26:46).
Saat Nabi Yehezkiel berkarya, umat sudah mengenal Sepuluh Perintah Allah dan daftar standar kebajikan (bdk. Mzm. 15:2-4; Yes. 33:15-16; Yer. 22:3-5; Mik. 6:8) dan dosa (bdk. Yeh. 22:6-12). Perjanjian Baru juga menggunakan daftar serupa (bdk. 1Kor. 5:11; Ef. 5:5) sebagai alat bantu mengingat dalam pengajaran moral.
Gereja mewarisi dan meneruskan tradisi pengajaran moral yang biasa dilakukan di Bait Suci, seperti digunaan Nabi Yehezkiel. Maka, dalam katekese, tiap pengajar harus mampu menemukan dan menggunakan cara yang paling efektif, “agar umat beriman, mengingat sifat khas, kemampuan, dan umur serta keadaan hidupnya, dapat mempelajari ajaran Katolik dengan lebih lengkap dan dapat mempraktekkannya dengan lebih tepat.” (Kitab Hukum Kanonik, 779).
Selanjutnya, sang nabi menyerukan pertobatan, seperti dikehendaki Allah, “Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu. Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yeh 18:31).
Allah tidak menyukai kematian kekal yang harus ditanggung pendosa. Sabda-Nya (Yeh. 18:32), “Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan Allah. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup.”, Quia nolo mortem morientis, dicit Dominus Deus. Revertimini et vivite.
Jangan melarang mereka
Banyak ibu membawa anak-anak mereka pada Yesus. Mereka memohon agar Yesus memberkati dan mendoakan mereka. Tetapi, para murid melarang.
Barangkali dalam benak mereka bergolak pikiran tentang kenajisan. Perempuan yang sedang datang bulan dianggap najis dan segala sesuatu yang tersentuh perempuan itu, termasuk anak-anak, dianggap najis.
Dan anak-anak yang datang pada Yesus termasuk najis. Maka, Yesus pun najis juga (bdk. Im. 15:19-27).
Bagi mereka, Yesus harus tetap tahir. Para murid pernah mengalami penolakan terhadap Yesus untuk masuk kota, karena Ia dianggap najis setelah menyentuh orang yang kena kusta dan Ia harus tinggal di tempat yang jauh (Mrk. 1:40-45).
Namun, pada para murid Ia berseru (Mat. 19:14), “Jangan melarang mereka datang kepadaku.”, nolite eos prohibere ad me venire.
Lalu, Yesus memberkati memberkati anak-anak. Pemberkatan untuk anak-anak sebenarnya telah berakar lama dalam tradisi bangsa Israel.
Yesus menggemakan dengan lebih keras apa yang dilakukan Yakub, Israel, bapa leluhurnya, yang memberkati Efraim dan Manasye, kedua cucu dari Yusuf (Kej. 48:8-16).
Orang-orang seperti inilah yang menjadi anggota umat Allah
Yesus menerima anak-anak kecil dan menjadikan mereka sebagai model cara beriman. Maka, Kerajaan Allah menjadi hak milik mereka, bukan karena mereka dianggap masih polos, belum kenal dosa, murni.
Anak-anak berhak menjadi warga Kerajaan Allah, karena keselamatan yang dianugerahkan diterima dengan rendah hati dan tanpa bertanya-tanya. Mereka bergantung pada kebaikan hati kaum dewasa. Dan kaum dewasa harus mampu menjaga mereka tetap aman.
Sikap batin yang benar di hadapan Allah dilambangkan seperti sikap batin anak-anak pada kaum dewasa. Kaum beriman menggantungkan seluruh hidup pada Allah dan percaya yang berasal dari Allah pasti baik dan menyelamatkan.
Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu
Yesus melarang orang-orang tua untuk mencegah dan, bahkan menghalangi anak-anak datang datang pada-Nya.
Sabda-Nya (Mat. 19:14), “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku. Jangan melarang mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang menjadi anggota umat Allah.”, Sinite parvulos et nolite eos prohibere ad me venire; talium est enim regnum caelorum.
Ayat ini dan yang serupa dipahami Gereja Katolik sebagai perintah untuk membaptis anak-anak dan bayi. Yesus ambil bagian dalam perjanjian dengan Allah, seturut dengan Hukum Tuhan yang ditetapkan sejak Abraham, pada hari kedelapan setelah kelahiran-Nya (Luk. 2:21; Kej. 17:10; Im. 12:3). Hal yang sama juga dilakukan Yohanes Pembaptis (Luk. 1:59).
Bagi jemaat yang dibina Santo Matius, yang berasal dari bangsa Yahudi, pasti mereka memikirkan kepatuhan pada hukum sunat ini dan meneyesuaikan dengan hukum baru: ambil bagian dalam Perjanjian dengan Yesus Kristus.
Maka, kewajiban orang tua adalah mengantarkan anak untuk menjadi anggota jemaat dan ambil bagian dalam perjanjian yang ditetapkan itu.
Perintah untuk dibaptis bersifat mutlak, bila seseorang ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:3-5). Yesus juga memerintahkan para murid untuk pergi ke seluruh penjuru dunia untuk membaptis agar semua menjadi anggota dan ambil bagian dalam Perjanjian Baru dalam namaNya (Mat. 28:19-20).
Yesus tidak membuat batasan tentang umur seseorang untuk dibaptis. Kitab Suci juga memberi bukti praktik baptis bayi dan anak-anak. Petrus dan Paulus membaptis seluruh keluarga Kornelius dan Lidia (Kis. 10:24, 48; 16:14-15).
Katekese
Bayi diijinkan menerima Sakramen Baptis. Santo Irenius, Uskup Lyon, martir pada 202:
“Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang melalui diri-Nya. Ya, semua, yang dilahirkan kembali dalam Allah: bayi, anak-anak, yang muda dan orang tua.
Maka, Ia mengatasi setiap umur, karena Ia menjadi bayi untuk para bayi. Anak untuk anak-anak, dengan menguduskan mereka pada usia itu. Pada saat yang sama Ia menjadi teladan akan kesucian, kebenaran dan penyerahan diri.
Ia juga menjadi pemuda untuk kaum muda, agar menjadi teladan bagi kaum muda dan menguduskan mereka demi Tuhan…” (Against Heresies, 2.22.2).
Oratio-Missio
Tuhan, Allahku, Engkau penuh belas kasih. Kasihanilah aku, seorang pendosa yang menghadap-Mu dengan keluh kesah dan air mata. […]
Ya, Tuhanku Yang Maharahim dan penuh belas kasih, Engkau panjang sabar terhadap pendosa, dan Engkau bersabda, “Jika orang jahat … berbalik dari semua dosanya yang telah ia lakukan … Semua pelanggarannya yang telah ia lakukan takkan diingat-ingat terhadap dia (Yeh. 18:21-22).
Pandanglah hamba-Mu yang menghadap-Mu dan bersimpuh di hadapan-Mu. Hamba-Mu yang berdosa ini memohon kerahiman dan pengampunan-Mu. Jangan ingat dosa-dosaku dan jangan menolakku karena pelanggaranku. […]
Engkaulah Allahku, yang maha rahim dan penuh belas kasih. Ampunilah seluruh dosaku. Amin. (Doa dari penulis Gereja Armenia, John Mandakuni, Oratio, 2-3).
- Apa yang perlu aku lakukan untuk mengantar anak-anak pada Kristus?
Sinite parvulos et nolite eos prohibere ad me venire; talium est enim regnum caelorum – Matthaeum 19:14












































