MAAF, lagi-lagi saya memakai kosa-kata Bahasa Jawa untuk membedah fenomena yang terjadi. Kali ini adalah kata “dhemenyar”.
“Dhemenyar” merupakan “tembung garba”, yaitu kata atau istilah yang terdiri dari gandengan dua kata atau lebih. Kata-kata yang saya maksud adalah “dhemen” (senang) dan “anyar” (baru).
Artinya: “Hanya senang, saat sesuatu masih baru”.
Pengantin baru merasa gembira dan “exciting” saat menikmati masa bulan madu. Semuanya serba indah dan menyenangkan. Perlahan-lahan perasaan gemebyar itu reda. Mereka memasuki suasana “tahap berikutnya” yang biasa-biasa saja, “back to normal”.
Tak ada lagi rasa “terbang melayang” dan tak juga sering keluar ucapan-ucapan mesra terlontar dari pasangan yang dulu pernah dimabok cinta.
Kedai kopi bermunculan saat ada satu warung baru di suatu penggal jalan yang baru buka dan dipenuhi pengunjung. Kemudian, banyak yang latah ikut-ikutan membuka bisnis kopi yang sepertinya juga bakal laris-manis.
Tak disangka, membludaknya warung kopi hanya karena masyarakat sedang terjangkit gejala “dhemenyar”.
Awalnya, mereka hanya ingin mencoba rasa kopi di gerai baru yang kelihatan moncer. Peminat kopi sesungguhnya tak sebanyak itu. Tak lama, kedai-kedai itu mulai berguguran. Mereka yang terkecoh demam “dhemenyar”, kemudian harus menanggung kerugian investasi yang tak sedikit.
Belum sampai dua tahun lampau, demam padel mulai menjangkiti masyarakat Jabodetabek. Harga perlengkapan dan sewa lapangan cukup “aduhai”.
Herannya, lapangan selalu penuh. Diikuti dengan bermunculan lapangan-lapangan padel di tengah dan pinggir kota, bak jamur tumbuh di musim hujan. Kerangka-kerangka baja-ringan terlihat mencolok di seantero daerah.
Teman saya bercerita, di dekat rumahnya, daerah Andara, penggal jalan sepanjang 3 km ada 11 lapangan padel. Jelas suatu yang eksesif dan berbau “lebay”.
Pengusaha lapangan tak menyangka bahwa penggemar padel adalah mereka yang sedang terkena sindrom “dhemenyar”. Saat jumlah lapangan mulai merebak, “dhemenyar” dikhawatirkan mulai luntur.
Akan terjadi deflasi lapangan padel. Kapasitas lapangan lebih banyak daripada penggunanya. Hati-hati bagi yang sudah terlanjur membangun, hitung-hitungan ekonomis bisa buyar tak karuan.
Anak-anak selalu terpaku dengan mainan yang baru dibelikan ibunya. Waktunya habis untuk menekuninya. Jangan khawatir, kalau itu akan menyita habis perhatian dan waktunya. Tak lama dia akan bosan dan mengalihkan ke sesuatu yang lain lagi. Mereka hanya sedang “dhemenyar”.
Pesan kepada orangtua, jangan terlalu sering membelikan mainan baru. Agar mereka tidak terkungkung dalam eforia dari “dhemenyar” yang satu ke “dhemenyar” yang lain.
Dunia fesyen adalah contoh lain yang lebih kentara. Pakaian model baru yang sedang digemari khalayak di awal tahun, tak selalu masih disukai di akhir tahun. Padahal dunia mode sudah kadung memproduksinya secara masif. Alhasil, pengusaha gigit jari.
Fesyen adalah contoh soal bagaimana “dhemenyar” mudah menjangkit serta menjerat publik.
Masa “bulan-madu” bagi mereka yang “dhemenyar” bisa timbul tiba-tiba dan menghilang seketika. Gejala yang pada umumnya dimiliki oleh setiap manusia. Bukan gejala aneh atau misterius.
Masyarakat, terutama pengamat dan lebih-lebih entreprenur, harus sensitif mencerna dan mengantisipasinya. Sedikit kebablasan bisa dirundung malapetaka.
Sesuatu yang baru memang acap kali menyenangkan. Sikap hati-hati harus dikedepankan, karena belum tentu itu menjanjikan.
“Everything new is thrilling, but not everything holds promise” (AVM)
@pmsusbandono
6 Juli 2026












































