
BERIKUT ini paparan homili Uskup Penahbis misa tahbisan lima imam Jesuit baru yang berlangsung di Gereja Santo Antonius Padua Paroki Kotabaru Yogyakarta, Rabu 29 Juli 2026 hari ini.
Tahbbisan lima imam baru Jesuit ini menarik karena beberapa hal berikut ini, antara lain dihadiri oleh:
- Pemimpin Umum Ordo Jesuit Internasional: Pater Jenderal Arturo Sosa SJ asal Venezuela dari Generalat Jesuit di Roma.
- Sejumlah anggota Curia Jesuit dari Roma.
- Sejumlah delegasi peserta Konggres XI WUJA (World Union of Jesuit Alumni) yang akan berlangsung di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mulai 29 Juli sd. 2 Agustus 2026.
- Hadir di ruang publik untuk pertama kalinya Provinsial Baru Ordo Jesuit Provinsi Indonesia: Romo Albertus Bagus Laksana SJ yang secara resmi menjadi Provinsial Sj Provindo mulai tanggal 28 Juli 2026. Dengan itu pula, ia meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Rektor Universitas Sanata Dharma.
- Uskup Penahbisnya datang dari “luar” yakni Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang, lantaran Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko hari-hari ini tengah mengikuti Sidang KWI di Jakarta.
Berikut ini nama-nama k-5 diakon yang menerima Sakramen Imamat mereka dan ditahbiskan menjadi imam Jesuit.
Lima imam Jesuit baru
Adapun kelima pastor baru Jesuit itu adalah:
- Romo Andreas Agung Nugroho SJ asal Paroki St. Bartolomeus, Taman Galaxy, Bekasi, Keuskupan Agung Jakarta dan akan mengampu tugas sebagai pastor paroki di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta.
- Romo Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika SJ dari Paroki Hati Yesus yang Maha Kudus, Karangpanas, Keuskupan Agung Semarang dan akan studi lanjut teologi sistematik di California, Amerika Serikat.
- Romo Filipus Frederick Ray Popo SJ dari Paroki Kristus Salvator Slipi, Keuskupan Agung jakarta dan akan belajar filsafat di Brown University, Rhode island, Amerika.
- Romo Gregorius Agung Satriyo Wibisono SJ dari Paroki St. Maria Assumpta, Pakem, Keuskupan Agung Semarang dan akan menjadi pamong bagi para seminaris di Seminari Menegah Mertoyudan.
- Romo Klaus Heinrich Raditio SJ dari Parokki Santo Andreas Kedoya, Keuskupan Agung jakarta dan akan menjadi pastor rekan untuk Paroki Ekspatriat Jakarta sekaligus dosen Geopolitik Internasional di STF Driyakara. Ia merupakan satu-satunya imam Jesuit baru yang sebelumnya berkarier sebnagai diplomat Kemneterian Luar Negeri Indonesia dengan gelar PhD bidang Politik Internasional.

Jadilah Induk Ayam bagi Dunia yang Terluka
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kekerasan, kebencian, polarisasi, dan rasa tidak berdaya, imam Katolik dipanggil untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih.
Panggilan menjadi imam bukanlah jalan menuju kehormatan, melainkan perutusan untuk menjadi pelindung, penghibur, dan pembawa harapan bagi mereka yang terluka.
Inilah pesan penting dan utama yang disampaikan Uskup Penahbis lima imam baru Jesuit di Gereja Santo Antonius Padua Paroki Kotabaru, Yogyakarta, Rabu 29 Juli 2026: Mgr. Petrus Boddeng Timang – Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pesan penting ini dia sampikan saat memberi homili Misa Tahbisan Imam lima Diakon calon imam Serikat Yesus (SJ).
Mengawali homilinya, Mgr. Petrus Boddeng Timang justru mengundang senyum umat dengan pengakuan yang sangat pribadi. Ia mengaku gugup karena harus berkhotbah di hadapan ratusan imam Jesuit, para religius, keluarga para ordinan (calon imam tahbisan baru), dan ribuan umat yang memenuhi gereja. “Terus terang saya gugup,” kata Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin ini.
Dengan nada bercanda, ia mengingatkan kembali pesan mendiang Paus Fransiskus yang pernah mengatakan bahwa homili imam sebaiknya tidak lebih dari delapan menit. “Kalau imam boleh berkotbah hanya selama delapan menit, maka uskup seharusnya lebih singkat lagi,” ujarnya, disambut tawa hadirin.
Ia bahkan bercerita telah berusaha meminta orang lain Pater Jenderal Arturo Sosa agar berkenan menggantikannya berkhotbah, tetapi usahanya itu tidak berhasil. Karena sampai saat dia harus berdiri di atas mimbar, permintaan itu belum memperoleh jawaban dari Pemimpin Umum Jesuit. “Jadi akhirnya saya tetap harus berdiri di sini,” katanya.
Namun kegugupan itu bukan terutama, karena harus berbicara di hadapan begitu banyak imam. Yang justru membuatnya merasa “kalah” adalah refleksi rohani yang ditulis lima calon imam dalam buku panduan tahbisan.
“Saya membaca renungan mereka. Bahasanya indah, isinya padat, refleksinya sangat mendalam. Saya bertanya dalam hati, apa lagi yang bisa saya tambahkan?” katanya.

Belajar dari “Mother Hen”
Salah satu bagian yang paling mengesankan bagi Mgr. Petrus adalah pilihan tema tahbisan yang diangkat para ordinan, yakni gambaran Yesus sebagai “Mother Hen” atau induk ayam. Tema itu diambil dari Injil Matius bab 23, ketika Yesus memandang Kota Yerusalem dari Bukit Zaitun.
Yesus menangisi kota itu, karena mengetahui Yerusalem akan mengalami kehancuran akibat ketidaksetiaan umat-Nya. Dalam situasi itulah Yesus berkata, “Betapa sering Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya.”
Bagi Mgr. Petrus Boddeng Timang, gambaran tersebut bukan sekadar ungkapan puitis. “Itulah gambaran seorang gembala. Imam dipanggil bukan untuk menguasai, tetapi menaungi. Bukan untuk mencari kehormatan, melainkan melindungi dan mengumpulkan mereka yang tercerai-berai,” katanya.
Menurutnya, dunia dewasa ini sangat membutuhkan kehadiran para imam yang memiliki hati seperti induk ayam: penuh kelembutan, rela berkorban, dan selalu membuka ruang perlindungan bagi siapa pun yang membutuhkan.
Dunia yang kehilangan kasih
Mgr. Petrus Boddeng Timang kemudian mengajak umat melihat kenyataan dunia saat ini. Setiap hari, kata dia, masyarakat dibanjiri berita tentang peperangan, kekerasan, konflik sosial, pelecehan seksual, ujaran kebencian, hingga pembunuhan yang dilakukan atas nama agama maupun ideologi. “Situasi yang kita lihat setiap hari sangat jauh dari apa yang ditulis Santo Yohanes dalam bacaan liturgi hari ini: bukan kita yang lebih dahulu mengasihi Allah, melainkan Allah yang lebih dahulu mengasihi kita.”
Menurut Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin ini, manusia modern semakin mudah membenarkan balas dendam. “Bahkan ada orang yang menganggap menumpahkan darah sesama justru menjadi jalan menuju surga. Betapa jauhnya kita dari Injil.”
Yang lebih memprihatinkan lagi, lanjutnya, Kitab Suci pun kerap dipelintir untuk membenarkan tindakan kekerasan. Akibatnya, dunia kehilangan damai dan dipenuhi kecemasan.

Globalisasi ketidakberdayaan
Dalam homili itu, Mgr. Petrus Boddeng Timang juga mengutip refleksi para ordinan yang mengambil inspirasi dari pesan Paus Leo XIV.
Menurut Paus, dunia saat ini sedang mengalami apa yang disebut “globalization of powerlessness” atau globalisasi ketidakberdayaan. “Semua orang mengalaminya,” kata Mgr. Petrus.
“Bukan hanya orang miskin. Orang kaya juga. Yang muda maupun yang tua. Yang memiliki jabatan maupun yang tidak. Semua merasakan ketidakberdayaan menghadapi begitu banyak persoalan kehidupan.”
Ketidakberdayaan itu, lanjutnya, bahkan masuk ke dalam keluarga-keluarga melalui berbagai bentuk kekerasan verbal, psikologis maupun fisik. Karena itulah Gereja membutuhkan imam-imam yang mampu menghadirkan harapan di tengah masyarakat yang kehilangan pegangan.

Dari FOMO menuju sukacita melepaskan
Mgr. Petrus Boddeng Timang kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan budaya populer yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Menurutnya, masyarakat sekarang takut tertinggal dari orang lain. Semua ingin selalu terlihat, selalu diakui, selalu eksis.
Dengan gaya humor, ia mengatakan bahwa salah satu “salib” seorang uskup justru bukan berkhotbah, melainkan menghadiri sesi foto yang sering berlangsung jauh lebih lama daripada perayaan Ekaristi.
“Foto dengan uskup, kemudian dengan keluarga inti, keluarga besar, lingkungan, wilayah, paroki. Kadang sesi fotonya lebih lama daripada misa,” katanya, kembali mengundang tawa umat.
Namun menurutnya, lima calon imam yang ditahbiskan hari itu justru memperlihatkan sikap yang berlawanan. Mereka memilih meninggalkan banyak peluang duniawi demi mengikuti panggilan Kristus. “Mereka memilih Joy of Missing Out. Sukacita karena berani melepaskan semuanya demi Tuhan.”

“Ad Sum”: Aku hadir untuk diutus
Momen ketika para calon imam menjawab “Ad Sum” saat nama mereka dipanggil juga menjadi perhatian khusus Mgr. Petrus Boddeng Timang.
Dalam tradisi Gereja, jawaban itu berarti “Aku hadir.” Namun baginya, maknanya jauh lebih dalam. “‘Ad Sum‘ bukan hanya saya datang. Artinya, saya hadir untuk diutus.”
Panggilan menjadi imam, katanya, bukanlah hasil kemampuan manusia. Allah tidak pernah menunggu seseorang menjadi sempurna sebelum dipanggil.
“Allah memanggil orang biasa. Justru dalam kelemahan manusialah rahmat Allah bekerja.”
Karena itu para imam tidak boleh merasa diri lebih suci daripada umat. Sebaliknya, mereka harus menjadi saksi bahwa belas kasih Allah selalu mendahului pertobatan manusia.
Menjadi pembangun jembatan
Mgr. Petrus Boddeng Timang juga menyinggung Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) yang baru saja berlangsung di Jakarta, 20-26 Juli 2026 pekan lalu.
Ia mengingatkan kembali pesan Paus Leo XIV yang meminta para uskup, imam, dan seluruh umat Katolik menjadi bridge builders, pembangun jembatan.
- Bukan membangun tembok.
- Bukan memperlebar jurang.
Melainkan mempertemukan manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah.
Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan imam yang mampu merangkul semua orang, termasuk mereka yang terluka, kecewa, tersisih, dan kehilangan harapan.
“Itulah makna Misericordiam volo—Aku menghendaki belas kasih.”
Bertindak atas nama Kristus
Mgr. Petrus Boddeng Timang kemudian mengingatkan para imam baru bahwa setiap kali mereka merayakan Ekaristi, mereka bertindak in persona Christi, menghadirkan Kristus sendiri. Karena itu, pelayanan imam tidak boleh berhenti pada pelaksanaan ritus liturgi.
Imam dipanggil menghadirkan kasih Kristus dalam seluruh hidupnya, terutama kepada mereka yang kecil, miskin, sakit, tersingkir, dan menderita.
“Apa yang telah kamu pelajari, kamu dengar, dan kamu lihat, lakukanlah semuanya itu.”
Menjadi mistikus zaman ini
Menjelang akhir homilinya, Mgr. Petrus Boddeng Timang mengutip pemikiran teolog Jesuit ternama Karl Rahner yang telah dikenalnya sejak masih belajar teologi lebih dari lima puluh tahun lalu. “Der Christ der Zukunft wird ein Mystiker sein, oder er wird nicht sein -Orang Kristen masa depan harus menjadi seorang mistikus, atau ia tidak akan bertahan.”
Menurut Mgr. Petrus Boddeng Timang, yang dimaksud Rahner bukanlah seorang pertapa yang menjauh dari dunia. Seorang mistikus adalah orang yang seluruh hidupnya tenggelam dalam samudra kasih Allah sehingga mampu membawa kasih itu kepada dunia.
“Lima imam baru ini dipanggil menjadi teladan bagi kita semua agar hidup semakin berakar dalam pengalaman akan belas kasih Tuhan.”
Airmata sukacita
Mengakhiri homilinya, Mgr. Petrus Boddeng Timang mengajak seluruh umat mensyukuri keberanian lima orang muda yang menyerahkan hidup mereka kepada Kristus.
Di tengah zaman ketika banyak orang mengejar popularitas, kenyamanan, dan kesuksesan pribadi, masih ada anak-anak muda yang rela meninggalkan semuanya demi mewartakan Injil. “Kalau hari ini ada yang menangis, menangislah karena sukacita,” katanya.
“Masih ada orang-orang muda yang mau memberikan hidupnya untuk menjadi tanda belas kasih Allah. Mereka dipanggil menjadi seperti induk ayam yang menaungi anak-anaknya, menghadirkan perlindungan, pengharapan, dan kasih Tuhan bagi dunia yang sedang terluka.”
Homili Mgr. Petrus Boddeng Timang tidak hanya menjadi pesan bagi lima imam baru yang ditahbiskan hari itu. Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh umat agar menjadi pribadi-pribadi yang hidup dari belas kasih Allah dan menghadirkannya di tengah masyarakat yang haus akan damai, pengampunan, dan harapan. (Berlanjut)











































