“Mengingatkan Bukan Perlawanan” (Prof. Mahfud MD di Konggres Umat Islam Indonesia, KUII VIII, 2026.- Kompas, 27 Juli 2026)
Prof. Mahfud menggunakan kata “mengingatkan”, sementara, agar lebih gamblang, saya memakai “kritik”.
Maknanya sama, meski “mengingatkan” terasa lebih adem.
Saya mengandaikan mendengar dan menerima “kritik” bak minum vitamin atau suplemen. Ada yang pahit, ada pula yang asam atau bahkan pahit. Apa pun rasanya, atau terdengarnya, “kritik” itu menyehatkan. Membuat tubuh lebih fit, dan tahan terhadap serangan penyakit.
“I like criticism. It makes you strong” (LeBron James – pemain basket profesional asal Amerika yang bermain untuk Los Angeles Lakers)
Secara naluriah, manusia memang menolak dan defensif terhadap kritik. Perasaan tak nyaman tiba-tiba menyeruak ke kepala dan hati, saat dikritik. Oleh siapa pun, tentang apa pun.
Namun, bila mengingat, mencamkan dan mengikuti nasehat LeBron, perasaan tak suka bisa dikikis dengan cara menata hati. Tambah dewasa, semakin tinggi pangkat dan posisi seorang, seharusnya makin piawai mengelola kritik. Galau dan jengkel yang menerpa bisa diredam. Alhasil reaksi positif yang konstruktif muncul menjadi “output” dari kritik; bukan negatif yang justru kontra-produktif.
Secara intuitif, “kritik” sering membuat gundah. Ego dan harga diri serta-merta terusik dan melawan dengan reaktif. Padahal, kepada mereka yang mengkritik, semestinya berterimakasih dan penghargaan harus kita ucapkan. Bukan malah menyilakan hengkang ke luar negeri atau memusuhinya. Reaksi terhadap “kritik” menunjukkan tingkat “maturity” dari si penerimanya. Bukankah LeBron mengatakan bahwa “kritik” memperkuat mental dan tubuh kita.
Banyak “kritik” terdengar tak menyenangkan. Tetapi, sekali lagi, “kritik” itu (sangat) penting. Bayangkan bila tak ada satu “kritik” pun yang sampai ke indera kita, padahal manusia jauh dari sempurna. Akibatnya, hakikat sebagai manusia, makhluk ciptaan Tuhan, akan terdegradasi ke level minimal.
Penyaring atau penghalang “kritik” harus, secara sengaja, dibuang jauh. Agar kekurangan bisa terdeteksi melalui kritikus dan perbaikan serta penyempurnaan bisa dilakukan. Tanpa itu semua, sosok manusia seperti apa yang terbentuk? Mungkin, rasa ”grandiosity” akan menguasainya.
“Kritik” memiliki fungsi yang mirip dengan gejala sakit pada tubuh manusia. Ia memberi lonceng peringatan pada keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.
“Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.” (Winston Churchill – Perdana Menteri Britania Raya, 1940-1945)
Jangan keliru, menerima “kritik” dengan lapang dada dapat membuat seseorang menjadi kompeten dan berakhlak. Menolak “kritik” dan memusuhi kritikus merugikan diri bahkan masyarakat.
“Orang yang menerima teguran (“kritik”) akan tergolong di antara orang bijak. Menolak “kritik” merugikan diri sendiri, sementara mendengarkan teguran mendatangkan hikmat.” (Ams 15 : 31-32)
@pmsusbandono
7 Agustus 2026












































