
MASA depan sering kali dimulai dari sebuah percakapan. Bagi 20 siswa tunarungu dari tiga sekolah luar biasa di Jakarta, percakapan itu menjadi ruang untuk menyampaikan mimpi, mengenali potensi diri, sekaligus melihat bahwa dunia kerja bukanlah sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka.
Suasana hangat itu tercipta di kantor MSIG Life, Jakarta, ketika para siswa dari SLB Nurasih, SLBN 01 Jakarta, dan SLB Santi Rama bertemu dengan para profesional dalam program Alpha Circle Community Service 2026: My Story, My Future yang diselenggarakan bersama Yayasan Helping Hands (YHH).
Mereka duduk berpasangan. Tidak ada ruang kelas, tidak ada ujian, dan tidak ada pidato panjang. Yang ada hanyalah dialog sederhana antara seorang remaja yang sedang merancang masa depannya dengan seorang profesional yang bersedia mendengar.
Melalui bahasa isyarat yang dibantu para pendamping, para siswa menceritakan cita-cita, kegelisahan, serta harapan mereka. Sebaliknya, para profesional berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier dan tantangan yang mereka hadapi.
Percakapan itu menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang selama ini sering kali terpisah.
Melampaui pendidikan di ruang kelas
Bagi banyak siswa penyandang disabilitas, tantangan tidak berhenti setelah memperoleh pendidikan. Jalan menuju dunia kerja masih dipenuhi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan akses, minimnya kesempatan berinteraksi dengan dunia profesional, hingga masih kuatnya stigma terhadap kemampuan penyandang disabilitas.
Karena itu, Yayasan Helping Hands (YHH) mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran di sekolah, tetapi juga mempertemukan siswa, guru, perusahaan, dan para profesional dalam sebuah ekosistem yang saling mendukung.
Dalam model tersebut, sekolah menjadi tempat membangun pengetahuan dan keterampilan dasar, sementara dunia usaha membuka ruang bagi para siswa untuk mengenal lingkungan profesional secara langsung. Para profesional hadir sebagai mentor sekaligus teladan, sedangkan siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka sebagai pribadi yang memiliki kemampuan, bakat, dan impian.
“Inklusi tidak dibangun melalui satu kegiatan, tetapi melalui ekosistem yang secara konsisten membuka akses, pengalaman, relasi, dan kesempatan bagi siswa tunarungu. Peran kami adalah menghubungkan sekolah, perusahaan, profesional, dan siswa agar proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja dapat berlangsung secara nyata dan berkelanjutan,” kata Wendy Kusumowidagdo, Executive Director Yayasan Helping Hands.
Menurut Wendy, kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis. Pengalaman bertemu para profesional, keberanian menyampaikan pendapat, rasa percaya diri, dan kemampuan membangun relasi juga menjadi bekal penting yang perlu dipersiapkan sejak dini.

Belajar dari kehadiran, bukan ceramah
Salah satu keunikan program ini adalah pendekatan KataKita: Menjadi Inspirasi, Mendengar Mimpi. Dalam sesi tersebut, para profesional tidak datang untuk mengajar ataupun memberi nasihat. Mereka hadir untuk mendengarkan.
Setiap siswa diajak berbicara mengenai cita-citanya, mengenali kekuatan yang dimiliki, serta menyusun langkah kecil yang dapat dilakukan untuk mendekati impian tersebut.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan My Future Board, sebuah media sederhana yang membantu para peserta memvisualisasikan masa depan mereka. Di atas papan itu mereka menuliskan impian, orang-orang yang mendukung perjalanan hidupnya, serta langkah pertama yang ingin mereka lakukan.
Bagi penyelenggara, yang paling berharga bukanlah papan impian itu sendiri, melainkan proses ketika para siswa mulai percaya bahwa mereka memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.
Kepemimpinan yang berangkat dari empati
Bagi MSIG Life, keterlibatan para pemimpin perusahaan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kepemimpinan yang lebih inklusif.
Para peserta dari Alpha Circle tidak sekadar menjalankan kegiatan sosial, tetapi mengalami secara langsung bagaimana mendengarkan dapat menjadi bentuk kepemimpinan yang paling mendasar.
“Bagi kami, kepemimpinan tidak hanya tercermin dari pencapaian profesional, tetapi juga dari kemampuan untuk hadir dan membantu orang lain percaya pada potensinya. Kami berharap para siswa memperoleh inspirasi untuk melangkah, sementara para leaders semakin memahami arti empati dan kepemimpinan inklusif,” ujar Agus Hermanto Napitupulu, Division Head of Agency Business Transformation & Growth MSIG Life.
Membangun masyarakat yang inklusif
Pengalaman sehari itu memang telah berakhir. Namun bagi Yayasan Helping Hands, kegiatan tersebut hanyalah satu langkah dalam perjalanan panjang membangun jembatan antara pendidikan dan dunia kerja bagi penyandang disabilitas.
Kolaborasi dengan perusahaan dipandang sebagai bagian penting dalam menciptakan kesempatan yang lebih luas, mulai dari pengenalan lingkungan kerja, mentoring, pelatihan keterampilan, hingga peluang magang dan pekerjaan yang lebih inklusif.
Semangat inilah yang ingin terus ditumbuhkan: bahwa setiap anak, termasuk anak penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama untuk bermimpi, berkembang, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Kadang, perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit atau investasi yang mahal. Ia dapat berawal dari kesediaan seseorang untuk duduk bersama, mendengarkan, dan percaya bahwa setiap manusia memiliki potensi yang pantas diberi kesempatan untuk bertumbuh.












































