Pelita Hati: 08.09.2022 – Setia dan Tabah, Jangan Mengeluh dan Mengesah

0
890 views

Bacaan: Mi. 5:1-4a/Rm. 8:28-30, Matius 1:1-16.18-23

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:  “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:18-23)

Sahabat pelita hati, 

SETIAP tanggal 8 September Gereja merayakan pesta kelahiran Santa Perawan Maria. Kisah kelahiran Maria memang  tak pernah dicatat dalam Kitab Suci. Namun demikian sejak abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Anna (ibunda dari Maria) yang terletak di sebelah utara Bait Allah di Yerusalem. Pada tahun 603, Beatrik di Yerusalem,  Sophronius mengatakan bahwa  di lokasi gereja itulah Maria dilahirkan. Mengapa September? Konon, di Konstantinopel (sekarang: Istambul di Turki) awal tahun dimulai pada 1 September dan masih berlaku pada Gereja Timur. Ditetapkannya tanggal 8 September sebagai hari raya kelahiran Maria didasarkan pada  Hari Raya S.P. Maria dikandung tanpa dosa yang jatuh pada tanggal 8 Desember. Jika dihitung dari 8 Desember hingga 8 September jarak waktunya sembilan (9) bulan. Konon.  ‘Pesta Kelahiran S.P. Maria’ diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7.  

Sahabat terkasih, 

Gereja katolik mendasarkan imannya bukan hanya pada Kitab Suci tetapi juga Tradisi atau sering disebut tradisi suci yang bahkan sudah berkembang secara lisan sebelum Kitab Suci ditulis. Tradisi adalah pengalaman iman jemaat sepanjang sejarah yang dijadikan landasan beriman sebelum Kitab Suci itu ada. Jika dalam tradisi Gereja bunda Maria mendapatkan penghormatan yang begitu rupa karenanya Kitab Suci mencatat keutamaan dan imannya yang pantas menjadi teladan kita. Dari beberapa kisah tentang Maria menyatakan betapa Ia adalah bunda teladan iman, teladan ketabahan, teladan kesetiaan. Pernyataan kesanggupan Maria, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” sungguh ia hayati hingga di ujung sejarah. Maria begitu tabah mendampingi putera-Nya hingga penyaliban dan wafat-Nya di puncak Golgota. Ia pun digelari sebagai “Bunda Sapta Duka” namun tetap tabah dan setia menghadapinya. 

Sahabat terkasih, 

Mari kita teladani keutamaan sang Bunda kita, tidak cukup hanya memuji di dalam doa maupun hanya mengaguminya. Mewarisi dan melanjutkan teladan keutamaannya adalah cara terbaik bagi kita untuk mengenang dan menghormati bunda Maria. Ave Maria, Gratia Plena, atau Salam Maria penuh rahmat. Tetap semangat dan berkah Dalem.

Agar tubuh segar dan sehat,
jangan lupa minum jamu.
Salam Maria penuh rahmat
Tuhan sertamu.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,

Berkah Dalem**Rm.Istata

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here