“The Himalayas”, Jangan Katakan “Taklukkan” Mt. Everest

0
3,047 views

MUNGKIN bagi banyak orang, mendaki gunung itu tak lebih sebagai kegiatan olahraga sekaligus hiburan. Namun dalam satu titik hidup saya, mendaki gunung itu ibarat perjalanan rohani. Dengan mendaki gunung, kita menguji dan mengolah kemampuan fisik, kekuatan mental, dan ketahanan semangat untuk jangan sampai ‘kalah’ oleh kemalasan, kelelahan, dan gampang tersulut oleh emosi.

Itulah sebabnya, ketika kurun waktu tahun 1982-1984, beberapa kawan seperguruan saya ditantang untuk ‘menaklukkan’ Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang. Lokasi persisnya tak jauh dari kota Ungaran, Jawa Tengah. Mendaki dari jalur Stasi Tegalmelik dan langsung naik menyusuri jalan setapak. Saya dua kali naik Gunung Ungaran. Sekali bersama rombongan besar, mungkin 30-an orang. Kedua bersama rombongan kecil terdiri empat orang: Hartoni Ashali (kini warga negara Kanada), Tony Santoso, Haryono Imam, dan penulis.

Menaklukkan diri sendiri

Menaklukkan di sini sungguh berarti berjalan kaki meniti jalan setapak guna mendaki gunung dan berhasil mencapai puncak. Namun dalam kacamata rohani kami waktu itu, mendaki Gunung Ungaran yang konon tidak terlalu tinggi berarti latihan mental dan fisik untuk “menaklukkan” diri sendiri. Yakni, egosentrisme, egoisme, kemalasan, sekaligus melatih semangat kerjasama, tenggang rasa, dan membangun kebersamaan sebagai sebuah tim “pendakian” gunung.

Cover
“The Himalayas” versi Korea

Proses batin yang sama ini kami ulangi lagi ketika mendaki Gunung Merbabu bersama alm. Romo Is. Warnabinarja SJ, kira-kira menjelang pertengahan tahun 1984. Bahkan, empat orang kawan kami yakni Romo G. Budi Subanar SJ, Romo Jacob Simao Abel SJ (keduanya dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Universitas Gregoriana di Roma), St.Sunardi dan Haryono Imam –keduanya mantan Jesuit, satunya dosen di USD Yogyakarta dan pelaku bisnis– bersama alm. Romo Ignatius Haryoto SJ malah ‘nekad’ membawa rombongan 20-an suster novis Abdi Dalem Sang Kristus (ADSK) –kini menjadi Abdi Kristus (AK)– naik ke Gunung Sumbing di daerah perbatasan Wonosobo, Jateng.

Karena sudah 2 hari tidak kunjung muncul di titik awal pendakian, rombongan frater novis SJ dan suster novis AK ini lantas dianggap ‘hilang’. Ketika berita itu muncul di harian koran Suara Merdeka, maka hebohlah seluruh komunitas SJ di Girisonta dan tentu saja komunitas Suster AK di Ungaran. Alm. Romo Warna sebagai Minister langsung berangkat ke lokasi dan minta bantuan SAR setempat untuk mencari keberadaan 1 imam, 4 frater novis SJ, dan 20-an suster novis AK.

Tak dinyana, beberapa jam kemudian –setelah 2 hari dinyatakan ‘hilang’– rombongan para pendaki itu berhasil menapakkan kakinya di titik awal pendakian. Semua selamat dan kembali koran  harian Suara Merdeka melansir berita “Mereka ditemukan kelelahan”.

Seorang teman yang suka becanda lantas membawa judul berita koran terbitan Semarang itu sebagai bahan canda: “Ah, rombongan frater novis SJ dan suster novis AK bersama-sama ditemukan ‘kelelahan'”…

Menaklukkan diri sendiri

Film besutan sutradara Korea dengan judul mentereng The Himalayas pada dasarnya berkisah tentang perjalanan hidup manusia yang ingin mencapai kematangan rohani secara dewasa. Dan itu antara lain terbaca melalui kemampuannya ‘mengalahkan’ diri sendiri. Perjalanan menuju puncak gunung adalah perjalanan batin manusia untuk mencari ‘keseimbangan’ emosi, perasaan, harga diri, kepiawaian mengelola batin.

hima2
Melawan dingin dan bertahan hidup di ketinggian dengan cuaca sangat ekstrim dalam “The Himalayas”.

Maka, jangan pernah menyebut mendaki Gunung Everest itu sebagai perjalanan untuk ‘menaklukkan’ gunung tertinggi sedunia ini. Jauh lebih tepat, seperti kata Kapten Um Hong-gil (Hwang Jung-min)– adalah perjalanan batin untuk mengolah diri dan kemudian menaklukkan semua semangat negatif manusia.

Itu digambarkan dengan bagus oleh Sang Kapten ketika ia mengasah pikiran batin para anggotanya. Ketika berada di ketinggian dan mengalami kelelahan, capai, maka di situlah ‘wajah’ aslimu sebagai manusia akan muncul: egois, egosentris, mau menang sendiri, tak mau bekerjasama, dan seterusnya. Nah, mendaki gunung ibarat perjalanan panjang untuk menaklukkan semua emosi negatif itu.

Prinsip filosofi kehidupan itu dia ajakarkan pada kedua muridnya yang ‘ambisius’ ingin menjadi pendaki profesional: Park Moo-taek (Jung Woo) dan Lee Dong-gyoo (Jung Woo). Awalnya, kedua mahasiswa ini dianggap tak becus bisa mendaki Mt. Everest. Namun berkat gemblengan Sang Kapten, akhirnya mereka berdua dinyatakan ‘laik dan layak’ sebagai pendaki.

Tiba gilirannya, Sang Kapten memilih undur diri karena cidera kaki. Lalu, Park Moo-taek ambil alih sebagai ‘kapten’ pendakian. Namun karena kurang pengalaman, ia terseok jatuh dan akhirnya meninggal dunia di ketinggian Mt. Everest. Sohibnya datang menyusul untuk menyelamatkan diri. Karena cuaca ekstrim, dia juga tak selamat dan mati di ketinggian.

hima3
Jangan pernah sedetik pun tertidur.

Trenyuh melihat kejadian yang menyesakkan ini, Sang Kapten terpanggil untuk mengevakuasi jenazah kedua mantan muridnya itu. Kali ini, teman-teman lamanya ikut menopang dia. Hanya saja, perjalanan membawa jenazah kedua muridnya itu tak berhasil mereka lakukan karena kendala cuaca. Akhirnya keduanya tetap dikuburkan abadi di kedalaman salju.

Film The Himalayas sejatinya mengajarkan prinsip kehidupan yang indah: naik bersama, turun pun harus bersama pula. Jangan ada yang tertinggal dan ditinggal. Semangat kebersamaan para pendaki menjadi inti menarik dari film Korea berdurasi panjang ini,

Juga, tentang nilai relasi antarpersonal dalam hidup berumahtangga. Termasuk ketika Sang Kapten ditantang oleh istrinya: Apakah tetap mengejar ambisinya untuk mengalahkan 16 puncak? Atau kini saatnya hati merelakan diri untuk sumeleh  ‘undur diri’, karena sekarang inilah sudah saatnya turun dari puncak dan menjadi orang biasa sebagai ayah dan suami.

Juga, pertanyaan ibu muda kepada suaminya yang mulai ‘gila’ naik gunung: Mana yang lebih penting, keluargamu atau ambisimu?

Baik Sang Kapten maupun anak didiknya, dalam film The Himalayas ini, rupanya masih keukeuh dengan ambisinya: menaklukkan Mr. Everest apa pun risiko dan bahayanya.  Park Moo-taek akhirnya tewas karena jatuh dari ketinggian dan mati beku karena kedinginan, sementara Sang Kapten juga gagal membawa jenazah anak didiknya turun ke bawah.

Namun, ada juga yang baik di kisah film ini. Terutama ketika Sang Kapten akhirnya mampu membuktikan, alm. Park Moo-taek telah menjadi ‘kaki’nya untuk bisa kembali turun. Termasuk di awal film ini, ketika ia memberi nasehat baik saat menguji nyali Park Moo-taek dan akhirnya berhasil untuk pertama kalinya sampai di puncak Mt. Everest. Katanya kepada Park: Segeralah pulang dan kawinilah pacarmu yang cantik Choi Soo-young (Yung Yu-mi).

Jangan menonton film ini dengan semangat kehebohan. Namun, lihatlah dari perspektif perjalanan rohani hidup orang. Yakni, ketika manusia lagi berjalan menapaki puncak-puncak kehidupan dengan akhir pendakian: berhasil ‘menaklukkan” diri sendiri. Sama sekali bukan ‘menaklukkan’ puncak ketinggian sebuah gunung.

The Himalayas besutan sutradara Korea bukan film heboh, namun kisah kehidupan dengan perspektif perjalanan pendakian Mr. Everest.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here