Home BERITA Jejak Sabda 18 Agutus 2026: Berani Melepaskan demi Kerajaan Allah

Jejak Sabda 18 Agutus 2026: Berani Melepaskan demi Kerajaan Allah

0
7 views

Mat 19:23-30

ADA seorang kaya yang meninggal dunia. Ketika jenazahnya dibawa ke pemakaman, anak-anaknya berkata, “Ayah meninggalkan rumah yang besar, mobil yang bagus, perusahaan yang sukses, dan banyak harta.”

Seorang tua yang mendengar percakapan itu berkata pelan, “Tidak. Ayah kalian tidak meninggalkan semua itu. Justru semua itulah yang meninggalkan ayah kalian.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung kebenaran yang sering kita lupakan.

Kita menghabiskan hidup untuk memiliki rumah, kendaraan, gelar, jabatan, tabungan dan berbagai macam harta. Kita bekerja keras supaya hidup semakin nyaman. Itu semua tidak salah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kita mulai mengukur keberhasilan hidup berdasarkan apa yang kita miliki, bukan berdasarkan apa yang kita berikan.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian, “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”

Perkataan ini bukan untuk mengutuk orang kaya, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa hati yang terlalu melekat pada kekayaan akan sulit terbuka bagi Allah. Bukan karena kekayaan itu jahat, tetapi karena kekayaan sering diam-diam menjadi “tuan” yang menguasai hati manusia.

Kita boleh memiliki rumah, tetapi jangan sampai rumah memiliki hati kita. Kita boleh memiliki uang, tetapi jangan sampai uang menentukan nilai diri kita. Kita boleh memiliki jabatan dan gelar, tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa bahwa di hadapan Tuhan kita hanyalah manusia yang membutuhkan rahmat.

Maka kita jangan takut melepaskan sesuatu demi Kerajaan Allah. Sebab tangan yang terlalu sibuk menggenggam dunia akan sulit menerima pemberian Tuhan.

Hidup bukan terutama tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi berapa banyak yang berhasil kita persembahkan kepada Tuhan dan sesama.

Jangan sampai ketika kita meninggalkan dunia, yang tersisa hanya harta yang kita kumpulkan. Biarlah yang tersisa adalah kasih yang kita tanamkan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku lebih sering mengukur keberhasilan hidup dari apa yang kumiliki atau dari apa yang kuberikan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo