Home BERITA Jejak Sabda 17 Agustus 2026: Angka 81, Ketika 8 Terlalu Gemuk dan...

Jejak Sabda 17 Agustus 2026: Angka 81, Ketika 8 Terlalu Gemuk dan 1 Terlalu Kurus

0
2 views
Ilustrasi - Angka 81

Mat 22:15-21

ADA sebuah plesetan tentang angka 81 yang menarik untuk direnungkan.

Angka 8 digambarkan seperti pejabat yang gemuk, sementara angka 1 seperti rakyat kecil yang kurus. Yang satu terus membesar, sedangkan yang lain semakin mengecil.

Plesetan itu memang sederhana, bahkan lucu. Tetapi di balik kelucuannya ada pertanyaan yang serius: mengapa sebagian orang semakin menikmati kemakmuran, sementara sebagian yang lain harus terus berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup?

Kita hidup dalam sebuah negara yang membutuhkan pajak. Pajak diperlukan untuk membangun jalan, sekolah, rumah sakit, transportasi, jembatan, menjaga keamanan, dan membiayai berbagai pelayanan publik. Karena itu, membayar pajak pada dasarnya adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.

Namun persoalannya muncul ketika rakyat merasa hampir segala sesuatu dikenai pajak, sementara pelayanan yang mereka terima terasa belum sebanding. Harga kebutuhan naik, berbagai pungutan bertambah, sementara fasilitas umum di banyak tempat masih minim.

Jalan rusak, pelayanan kesehatan belum merata, pendidikan masih menghadapi banyak persoalan, dan masyarakat kecil harus bekerja keras untuk bertahan hidup.

Lebih menyakitkan lagi ketika pada saat yang sama muncul berita tentang korupsi dan penyalahgunaan uang publik. Rakyat pun bertanya: “Kalau kami diminta terus membayar pajak, ke mana uang kami pergi? Mengapa kami harus berhemat, sementara uang negara justru bisa disalahgunakan?”

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Membayar pajak adalah bagian dari tanggung jawab kita. Tetapi tanggung jawab warga negara harus berjalan bersama dengan tanggung jawab moral para pengelola negara.

Rakyat tidak boleh hanya dituntut taat, sementara mereka yang mengelola uang rakyat merasa bebas dari tuntutan kejujuran.

Karena itu, pertanyaan kita bukan hanya, “Sejauh mana rakyat harus membayar pajak?” Tetapi juga, “Sejauh mana negara sungguh-sungguh bertanggung jawab menggunakan pajak untuk kepentingan rakyat?”

Kita tidak boleh membangun masyarakat di mana yang kaya semakin gemuk karena memiliki akses dan kekuasaan, sementara rakyat kecil semakin kurus karena terus menanggung beban.

Maka, angka 81 bisa menjadi bahan tertawaan. Tetapi semoga ia juga menjadi teguran bagi hati kita.

Jangan sampai kita menjadi seperti angka 8: semakin besar karena mengambil terlalu banyak. Dan jangan pula membiarkan sesama kita menjadi seperti angka 1: semakin kurus karena terus-menerus menanggung beban.

Bagaimana dengan dirimu?

Apakah selama ini saya memandang pajak hanya sebagai beban, atau sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap kehidupan bersama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo