Benarkah Vidi Mau Pensiun?

0
252 views
Ilustrasi - Berbagi kasih dengan sesama di masa pandemi Covid-19. (Ist)

SUASANA Lebaran belum usai. Masih banyak kantor yang meliburkan pegawainya. Tak disangka, kemarin malam sekira pukul 20.00, ada sahahat yang mengirim pesan melalui WA.

Minta waktu ngobrol. Tentang pekerjaan dan kariernya.

Namanya Vidi. Lulus S1 dan S2 dari Universitas terkenal di Australia; plus S2 Psikologi dari UI.

Vidi seorang profesional Manajemen SDM yang jempolan. Beberapa perusahaan ternama pernah menjadi ajang kariernya.

Mengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta, menjadi trainer dan pembicara di berbagai seminar. Pokoknya top lah.

Diskusi diawali dengan basa-basi, karena lama tak jumpa. Tapi yang membuat saya surprised ketika Vidi loncat masuk ke inti pembicaraan.

“Pak Sus, saya mau minta pendapat, bagaimana kalau saya mengambil pensiun dini untuk merintis karier yang berbeda?”

Di atas kertas, tak ada alasan buat Vidi untuk mencoba peluang itu. Usianya masih relatif muda. Anak tertua masih kuliah dan si bungsu duduk di bangku SMA. Kariernya sedang melejit ke puncak piramid.

Saya mulai mengorek apa alasannya mencoba (atau: mencoba-coba?) “hidup baru yang berbeda”.

Jawabnya sungguh tak terduga.

“Saya ingin mempersiapkan diri dan dapat gambaran bila sewaktu-waktu harus pensiun dini atau berhenti bekerja.”

Dunia kerja yang telah berubah membuat Vidi tak selincah seperti sekian tahun lampau. Pun lebih berat untuk bersaing dengan kaum milenial yang lebih layak disebut digital native.

Meski menjadi leader, rasa tak nyaman menyeruak di sana sini. Dunia sudah berubah.

Dan yang membuat saya tersanjung, Vidi mengaku terinspirasi gaya hidup saya, yang setelah berhenti dari rutinitas, tetap eksis dan PD.

Yang lebih membuat saya GR (bahkan sempat bangga tanpa alasan), ketika Vidi tergugah lantaran melihat PP di akun WA saya.

Sebentar mengatur nafas, saya mulai bisa menguasai diri. Kalimat Vidi yang terakhir lebih banyak basa-basi atau bahkan abal-abal.

Tapi, saya tetap harus menjawabnya, bukan?

Saya mulai pelan-pelan membuka diskusi.

Saya tak tahu dari mana harus menjawab keingin-tahuan Vidi. Lebih bijak kalau saya cerita apa yang saya alami selama tiga tahun menjadi “disguised unemployment” ini.

Vidi harus pahami, suatu fakta bahwa selama sekira tiga bulan pertama saya tak lagi bekerja berpola “7 to 5”, setiap bangun pagi, selalu dihinggapi rasa tak nyaman.

Kebiasaan yang sudah puluhan tahun berangkat ke kantor tiap pagi, dan baru tiba di rumah di sore hari, tiba-tiba stop dan tak tahu harus berbuat apa.

Kemudian, kesadaran saya bangun perlahan-perlahan. Hidup ternyata sudah berubah.

Tak ada lagi sapaan hormat dari anggota tim atau basa-basi kepada atasan bahkan pemilik perusahaan yang menjadi ritual harian seolah tanpa jiwa.

Saya mulai menikmati kesibukan lain yang ternyata merupakan passion saya.

“Menulis” adalah obat kegalauan yang mujarab. Ia menjadi “separo jiwaku” yang membuat kegelisahan mereda atau paling tidak berkurang.

Ketika ada teman yang dikenal atau tidak, merespons artikel saya, hormon dopamine seakan membanjiri otak dan membuat rasa bahagia merasuk ke seluruh tubuh.

Sebagai informasi, Dopamine timbul bila seseorang “berprestasi” dan mendapat “pengakuan” (recognition) oleh orang lain.

Singkat kata, “menulis” bak laiknya vitamin jiwa yang menghalau kegalauan yang timbul karena “ketakutan” dihantui status baru yang seakan tak jelas.

Mungkin juga karena artikel-artikel itu, beberapa teman, yang kenal mau pun belum, mengundang untuk mengisi seminar.

Topiknya bervariasi tanpa pola. Itu membuat saya harus bereksplorasi lebih dalam, lebih jauh dan lebih luas tentang berbagai tema. Banyak hal harus dicerna karena “langitlah batasnya”.

Tak apa sedikit “sok sibuk”, kan waktu tersedia 24/7. Paling dikurangi kebiasan baru “tidur siang”, 1-2 jam, yang terasa begitu dalam dan nyaman.

Tak disangka juga, tiba-tiba seorang kawan kuliah yang bergelar guru besar menawari saya untuk ikut mengajar di program S2 MM yang dia pimpin, di sebuah universitas ternama di Jakarta.

Tak terhitung banyak (sekali) kenalan lama atau baru yang “curhat” mengenai kariernya yang sedang tak mulus atau masalah perusahaan, organisasi, budaya, SDM, pekerjaan atau kombinasi dari itu semua.

Biasanya saya ajak berdiskusi dengan menggunakan common sense dan pengalaman semata. Habis, modal apa lagi yang dimiliki selain itu?.

Karena banyak yang “minta petunjuk”, tanpa terasa justru saya mendapatkan banyak sekali limpahan pengalaman (dan ilmu) baru yang tanpa disadari saya sedot habis-habisan.

Satu lagi, semua brainstorming itu gratis. Paling banter, ” dibayar” traktiran makan siang atau “nyruput” kopi yang begitu nikmat.

Masih banyak yang harus saya sampaikan ke Vidi. Tapi, malam itu, nampaknya dia sudah lelah mendengar ocehan saya yang tak ada juntrungannya. Kami berjanji bertemu muka lain waktu dalam kesempatan yang lebih rileks.

Ada tiga hal yang ingin saya ceritakan bila kami bertemu nanti.

Pertama, jaga kesehatan. Tanggungjawab utama untuk menjaga kesehatan pribadi adalah individu masing-masing.

Bukan pasangan, bukan anak, bukan saudara, apalagi dokter atau tenaga medis. Mereka tak mengenal tubuh kita seperti kita mengenalnya.

Salah satu yang penting adalah “gerak badan” yang cukup secara rutin. (istilah yang saya lebih suka pakai, dibanding olahraga). “Move, excercise and sport“.

Kedua, sudah siap kah dengan passive income?

Bila belum, tunda rencana mulia itu, atau cari aktivitas yang menghasilkan dana yang “cukup”.

Kondisikan keluarga tentang “rencana konyol” ini. Menjadi menarik, kalau anda pandai mengelolanya.

Ketiga, dan ini yang tak kalah penting. “Berbagilah”.

“Berbagi” tidak harus dalam bentuk materi atau uang atau menunggu sampai berkelimpahan.

Bangun rasa “belarasa” (compassion) kepada siapa saja, tak terbatas keluarga atau kenalan. Itu juga termasuk “berbagi”.

Ajak sesama untuk “berjalan bersama-sama”, menggapai “kesejahteraan bersama”.

Semua yang ada di bawah langit ada waktunya. Rencana pindah karier seperti yang Vidi bayangkan atau seperti apa yang saya kisahkan, bukan berarti kiamat kecil.

Justru itu merupakan pintu masuk kehidupan baru yang semoga lebih bermakna.

“Second career is not the end of the road. It is the beginning of the open highway.” (Anonim)

@pmsusbandono
29 April 2023

Baca juga: Sr. Aloysia BKK Jadi Suster Biarawati tanpa Izin dan Restu Orangtua (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here