Bukti Bukan Janji

0
19 views
Ilustrasi - Ini bukti nyata, bukan semata-mata hanya janji. (Ist)

Senin 12 Februari 2024.

  • Yak. 1:1-11;
  • Mzm. 119:67,68,71,72,75,76;
  • Mrk. 8:11-13.

TINDAKAN lebih berarti ketimbang ucapan bisa menjadi pengingat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Banyak orang yang terjebak dengan perilaku yang tidak konsisten. Mencla mencle dalam berkata dan bertindak.

Tindakan merupakan cerminan dari perasaan dan niat kita. Kita bisa mengatakan apa pun yang ingin dikatakan, namun itu bisa jadi hanya sekadar ucapan belaka. Itulah mengapa, kita perlu memberikan bukti yang terlihat oleh mata, tak sekadar ucapan kosong

Dalam memberikan bukti, kita pun tak boleh setengah-setengah. Bukti yang otentik akan memberikan keyakinan daripada mengumbar kata-kata yang agung namun kemudian ambyar karena perilaku kita yang tidak sesuai.

“Ngakunya sayang, tapi sikapnya sama sekali tidak menghormati pasangan,” kata seorang ibu.

“Saya merasa lelah dengan sifatnya yang tidak konsisten,” lanjutnya.

“Dia lebih mengutamakan hobby dan kesenangannya daripada menjaga anak atau menemani anak belajar,” keluhnya.

“Untuk hobby dia berani keluar uang ratusan juta tetapi untuk kebutuhan keluarga khususnya anak selalu ribut,” ujarnya

“Suamiku itu masih mengejar kesenangan dirinya sendiri daripada kebahagiaan keluarga,” sambungnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, ”Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”

Yesus merasa kecewa karena pikiran dan hati orang Farisi dan ahli-ahli Taurat begitu keras. Yesus sesungguhnya sudah menunjukkan begitu banyak tanda.

Dia sendiri adalah tanda kasih Allah. Ia selalu menaruh kasih kepada orang berdosa yang bertobat; Ia adalah tanda kasih Allah yang penuh belaskasihan.

Ia adalah tanda pengampunan Allah, yang tidak menghukum manusia berdosa yang bertobat, melainkan mengampuni dosa-dosa mereka dan menyelamatkan mereka. Yesus adalah tanda penebusan kita umat manusia.

Yesus tidak membuat tanda bagi orang yang keras hatinya dan selalu menolak Allah. Tanda atau mukjizat bukanlah permainan sulap yang mau menyenangkan mata orang yang melihatnya, tetapi satu bentuk jawaban Tuhan kepada mereka yang percaya kepada-Nya.

Mujizat Yesus bertujuan untuk memperkuat iman dari mereka yang percaya kepada-Nya. Kepada mereka yang mau mencoba Tuhan demi kepuasan diri, kepada mereka mujizat tidak akan dilayani.

Bagaiamana dengan diriku?

Apakah sikapku diragukan oleh sesama karena kurangnya bukti dalam tindakan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here