Disertasi Pemikiran Hans Küng, Paulus Tasik Galle Peroleh Gelar Doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

0
757 views
Paulus Tasik Galle raih gelar doktor berkat disertasi tentang pemikiran Hans Kung tentang dialog antar agama. (Dok. Pribadi)

HANS Küng adalah seorang teolog besar, seorang pemikir Katolik yang karya-karya teologisnya sering menjadi rujukan refleksi teologis atas berbagai persoalan modern.

Küng telah ikut berkontribusi kepada dunia pemikiran teologis moderan. Dilakukan melalui paparan pemikiran dan praksisnya.

Salah satu yang menarik bagi penulis adalah gagasan-gagasan brilyan Küng terkait dialog antar agama – isu penting dalam membangun perspektif perdamaian dunia.

Etik global

Etik global menjadi kata kunci Hans Küng dalam memahami titik jumpa dan dasar praksis dialog antar agama.

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mendalami bagaimana konstruksi pemikiran Hans Küng tentang dialog Kristen c.q. Katolik dengan Islam untuk mewujudkan apa yang disebut perspektif perdamaian dunia. Juga ingin menggali relevansinya untuk konteks Indonesia.

Penelitian dilakukan dengan studi pustaka (library research) yang sifatnya kualitatif. Dengan tujuan eksplorasi, komparasi, eksplanatori melalui pendekatan multidisipliner: filsafat, teologi, sejarah, dan sosiologi agama.

Proses penelitian dilakukan dengan mengumpulkan dan memilah-milah sumber-sumber primer dan sekunder dari buku, artikel, dan jurnal yang berhubungan dengan konsentrasi penelitian.

Menulis disertasi tentang pemikiran teolog Hans Küng perihal pentingnya dialog antar agama sehingga Paulus Tasik Galle berhak mendapat gelar doktor. (Ist)

Der Islam. Geschichte, Gegenwart, Zukunft

Salah satu sumber primer  yang dipakai rujuan oleh Paulus Tasik Galle dalam proyek mendapatkan gelar doktornya adalah buku Hans Küng.

Judul bukunya Der Islam. Geschichte, Gegenwart, Zukunft (Islam: Kemarin, Hari Ini, Besok) edisi terbit tahun 2004.

Rujukan kepustakaan dalam buku ini ditelusuri dan dilakukan pendalaman sejauh berhubungan dengan pembahasan topik.

Beberapa hal dari hasil konstruksi pemikiran dan praksis Hans Küng dimengerti dalam konteks Indonesia. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pemikiran Hans Küng terhadap pemikiran dan praksis Katolik tentang dialog Katolik dengan Islam itu penting.

Juga harus terus-menerus diperkuat dan diperdalam baik di dalam fondasi teologis maupun praksisnya lewat Otokritik Beragama atau mawas diri beragama.

Budaya dialog adalah jalan terbaik

Budaya dialog adalah jalan terbaik membuka perjumpaan, ruang penyelesaian persoalan, dan membangun kerjasama Katolik dengan Islam.

Katolik perlu banyak mengenal dan belajar tentang Islam dan terus membuka diri untuk banyak kerjasama dalam berbagai aspek kehidupan.

Dialog Katolik dengan Islam ikut menyumbang hadirnya perdamaian dunia masa kini dan masa depan.

Lebih baik bicara masa depan: kerjasama peradaban

Karenanya, menurut Paulus Tasik Galle, jelas jauh lebih penting membicarakan masa kini dan masa depan kedua agama daripada masa lampaunya.

Model masa depan dunia bukanlah benturan peradaban sebagaimana sering diprediksi oleh Samuel Huntington.

Tetapi kerjasama antar peradaban.

Umat Katolik di Indonesia perlu semakin sadar dan belajar mengelola fakta tentang dirinya. Faktiasitas diri kita sebagai anggota masyarakat Indonesia yang hidup di tengah umat Islam mayoritas.

Ini penting  agar umat Katolik lebih mampu menempatkan dirinya secara “tepat dan maksimal” dalam ikut serta membangun “rumah bersama” bagi bangsa-negara Indonesia.

Penelitian terhadap pemikiran Hans Küng ini semakin menguatkan dan menegaskan kembali sejumlah pemikiran beberapa tokoh pemikir Katolik sebelumnya.

Taruhlah itu seperti:

  • Paul F. Knitter (1939).
  • John L. Esposito (1940).
  • Karen Armstrong (1944)

Semua bicara panjang lebar tentang bagaimana seharusnya Katolik berdialog dengan Islam.

Paulus Tasik Galle meraih gelar doktor berkat disertai tentang pemikiran teolog Hans Küng. (Ist)

Melawan pendapat Samue H. Huntington

Pemikiran Hans Küng dengan tegas menolak logika Samuel P. Huntington (1927) tentang benturan peradaban yang dinilai oleh Hans Küng sebagai kekalahan.

Juga ketidakmampuan kelompok atau komunitas budaya, agama -bahkan negara- dalam membangun budaya dialog dan aliansi Kerjasama.

Antara lain dengan mengedepankan penghormatan dan pengakuan eksistensi setiap komunitas budaya dan agama dengan kontribusinya masing-masing dalam membangun peradaban hidup bersama yang lebih damai dan untuk kelanjutan hidup globus.

Promovendus Paulus Tasik Galle saat mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka. (Ist)

Sekilas sosok promovendus

Paulus Tasik Galle lahir di Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tahun 1969. Kini ia menjadi ASN di Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI di Kantor Kemenag RI, Jl. MH Thamrin, Jakarta.

Sebelum menjadi ASN, ia berkarya sebagai penyuluh, guru dan dosen Agama Katolik di beberapa sekolah dan universitas di antaranya:

  • Seminari Menengah St. Petrus Claver Makassar.
  • Universitas 45 Makassar.
  • Universitas Negeri Makassar (UNM).

Saat ini, Paulus menjadi dosen tidak tetap pada Universitas Katolik Atmajaya Jakarta untuk Matakuliah Multikulturalisme.

Juga membantu Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Jakarta.

Paulus adalah alumnus Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (1988-1994).

Tahun 1998-2004, Paulus mengikuti program kursus Bahasa Jerman di Deutschkurse für Auslander bei der Universitat München e.V. di München.

Ijazah licenciat Paulus Tasik Galle di Jerman (Ist)

Tahun-tahun berikutnya lalu melanjutkan Studi Kanonistik (Hukum Gereja Katolik) di Klaus-Mörsdorf Studium für Kanonistik Fakultas Teologi Katolik, Ludwig-Maximilians Universitat München, Jerman.

Ia berhasil menyelesaikan program Lizentiat des Kanonischen Recht (Lic.Iur.Can) dengan menulis Lizentiatarbeit berjudul Eine Junge Teilkirche in der Diaspora. Eine kanonistische Studie über die Pastoralstrukturen und Zentralen Einrichtungen der Erzdiözese Makassar – Indonesien im Licht des c. 369 CIC/1983”.

Ia menyelesaikan program Lizentiat des Kanonischen Recht (Lic.Iur.Can) di Ludwig Maximilians Universitaet, Muenchen, Jerman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here