In Memoriam: Buya Syafi’i Maarif, Ia Mengubah Kemarahan Menjadi Keramahan

0
351 views
Almarhum Prof. Dr. Syafi'i Maarif. (Tribun News)

PADA tahun 2018, paska peristiwa penyerangan Rom Karl Edmund Prier SJ saat memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja Katolik Bedog, Sleman, Yogyakarta, dalam keprihatinan dan kesedihan mendalam, Buya Syafi’i Maarif mengunjungi dua subyek berbeda.

Yakni, umat Gereja Katolik dan Suliyono, pemuda yang melakukan penyerangan. Ketika bertemu dengan umat Gereja Katolik, Buya menyatakan kata-kata singkat namun mendalam dan jelas, ”Saya sangat sedih”.

Dalam kesedihan yang sama, Buya mengunjungi Suliyono di rumah sakit. Buya duduk di dekat Suliyono, menyapanya, menanyakan keadaannya, lalu mengajaknya ngobrol serta mendengarkan semua yang dikatakan oleh Suliyono.

Kesedihan yang dialami oleh Buya adalah kesedihan seorang pribadi yang hatinya tercabik-cabik karena menyaksikan robeknya kasih sayang antar manusia.

Ini adalah kesedihan mendalam yang disertai oleh keprihatinan, namun tidak dicemari oleh kemarahan. Sebaliknya, kesedihan dan keprihatinan Buya ini dipenuhi oleh komitmen dan kasih sayang.

Dalam kesedihan yang diliputi oleh kasih sayang dan kemurahan hati, Buya hadir di hadapan Suliyono, sebagai seorang bapak yang mendekati dan menyapa anaknya.

Ia menyapa Suliyono dan meraih inti terdalam dari hatinya, menyambungkan hatinya sendiri dengan hati Suliyono, menggetarkannya dan menyentuhnya, serta mencoba memahami dan mendengarkannya.

Kehadiran yang demikian ini, membuat Suliyono, anak muda yang telah terbakar oleh kemarahan dan tak menemukan pilihan yang tepat untuk mengungkapkan keresahan dirinya itu, merasa disapa secara personal dan ditempatkan sebagai pribadi bermartabat.

Akibatnya, ia memiliki kesanggupan untuk menyatakan diri di hadapan Buya dan menyambung obrolan dengan mengatakan, ”Saya juga membaca tulisan-tulisan Buya”.

Ini adalah tanda dari tersambungnya hati dan harapan akan adanya sesuatu yang terbuka lebih luas. Komunikasi yang tersambung hanya dapat terjadi ketika pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya telah sama-sama merasa nyaman dan aman, dan ada rasa percaya.

Hati Suliyono merasa nyaman dan aman, ketika ia menyadari bahwa Buya hadir dalam realitas dirinya sebagai  apak yang menyapa dengan kasih sayang, yang bermurah hati.

Suliyono merasa disapa sebagai pribadi. Suliyono merasakan kehadiran Buya bukan sebagai “liyan” atau orang lain yang “sangat jauh dan asing”, melainkan sebagai pribadi yang “dikenalinya” dan yang “dekat di dalam hidupnya”.

Dalam pengalaman semacam ini, tampaknya Suliyono mengalami Buya yang “hadir penuh” di dalam hatinya dengan seluruh kasih sayang dan kemurahan hatinya.

Barangkali dalam bahasa teologis dapat dirumuskan bahwa Suliyono mengalami kehadiran Buya sebagai semacam “incarnatio”, kehadiran di dalam jantung dan hati terdalam, kehadiran yang menyentuh kedalaman dan otentisitas diri.

Kesanggupan Suliyono untuk menyatakan secara santai kepada Buya bahwa “Saya juga membaca tulisan-tulisan Buya” merupakan tanda bahwa kemarahan yang telah menutup mata hatinya, telah dipadamkan dan ditenangkan oleh kehadiran kasih sayang dan kemurahan hati Buya.

Kemarahan yang membakar telah diubah menjadi ketenangan dan kepercayaan dalam martabat pribadi yang direngkuh dan dihargai.

Ia menjadi pribadi yang diterima tidak sebagai “liyan” yang asing dan tak dikenali, melainkan sebagai anak yang dikenali dan direngkuh kembali.

Kemarahan Suliyono telah berubah menjadi keramahan.

Kasih sayang Muhammad SAW

Apa yang dilakukan oleh Buya kepada pemuda yang dilanda amarah itu tampaknya mencerminkan kasih sayang Muhammad SAW, teladan utama kehidupan Buya sebagai Muslim.

Diriwayatkan bahwa pada masa itu, setiap kali selesai menjalankan shalat dan keluar dari masjid, Muhammad SAW selalu berjumpa dengan seseorang yang meludahinya, karena orang itu tak menyukai nabi.

Itu terjadi hampir setiap hari.

Suatu saat, ketika keluar dari masjid, Muhammad SAW tak bertemu dengan orang yang biasanya meludahinya.

Ia bertanya kepada para sahabatnya, di manakah orang yang biasa meludahinya itu?

Ternyata orang tersebut sedang menderita sakit.

Dengan segala kasih sayang, persahabatan, dan kemurahan hati, Muhammad SAW mengunjungi rumah orang itu, menjenguknya, menyapanya, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya.

Ini adalah teladan kemurahan hati dan kasih sayang yang tak dapat disangkal oleh siapa pun, dari agama mana pun.

Ini sekaligus merupakan bukti nyata bahwa seseorang yang benar-benar dekat dan bersujud kepada Allah, akan dipenuhi oleh kasih sayang dan kemurahan hati yang tiada terkira.

Menggetarkan jiwa siapa pun juga. Subhanallah…. Sebagai muslim, Buya telah berusaha untuk mengikuti keteladanan Nabi junjungannya itu.

Kritik dan kasih sayang Yesus

Dalam tradisi kristen, teladan kasih sayang seperti dilakukan oleh Muhammad SAW itu juga dapat ditemukan dalam praksis hidup Yesus.

Ini ditemukan dalam kisah tentang perempuan yang dituduh berbuat zinah. Kisah ini hanya terdapat di dalam Injil Yohanes (Yoh 7:53-8:11).

Kisah ini sebenarnya tak boleh dilepaskan dari perikop sebelumnya, yakni Pembelaan Nikodemus terhadap Yesus (Yoh 7:45-52).

Empat hal penting yang dinyatakan dalam kisah ini adalah: Pertama, dalam kasus dugaan perzinahan ini, para pemimpin agama hanya mengajukan seorang perempuan untuk diadili, tanpa kehadiran laki-laki pasangannya (8:3-4).

Kedua, pengajuan pengadilan atas dugaan perzinahan ini dilandaskan pada hukum Taurat, namun dengan alasan licik untuk mencobai Yesus agar ditemukan alasan untuk menyalahkannya (8:5-6).

Ketiga, Yesus mengambil sikap kritis dan berpihak kepada keadilan, yakni dengan menunduk diam sambil menulis atau menggambar sesuatu di tanah, lalu memberikan respon yang mengejutkan (8:7-9).

Keempat, Yesus memberikan ruang kepada perempuan itu untuk bersuara dan menyatakan dirinya sendiri (8:10-11).

Dalam konteks itu, pernyataan Yesus yang berbunyi “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” secara tegas menunjukkan suatu tamparan. Juga kritik yang sangat tajam terhadap tindakan instrumental manipulatif yang dilakukan oleh sebagian elite agama.

Dengan mengurbankan martabat dan keadilan terhadap perempuan, mereka itu telah berupaya untuk meraih kepentingannya sendiri.

Yakni, mempertahankan citra kesucian, kekuasaan, penjaga moralitas, dan seluruh ikutan yang menguntungkan dirinya sendiri.

Melalui pernyataan dan kritik itu, Yesus hendak menegaskan bahwa kewibawaan tidak dapat dipertahankan dengan cara-cara manipulatif. Dengan menyembunyikan lelaki pelaku kejahatan perzinahan dan membiarkannya menikmati kebebasan dan keleluasaan. Sementara, hanya perempuan yang dipersalahkan tanpa diberi kesempatan untuk membela dan menjelaskan dirinya sendiri.

Tindakan Yesus ini merupakan tindakan yang mencerminkan kasih sayang dan kemurahan hati dalam prinsip preferential option for the poor, yakni perempuan yang dituduh namun tak diberi ruang untuk membela diri dan diadili dalam praktik manipulatif.

Ini adalah kasih sayang dan kemurahan hati yang bersifat advocative atau membela.

Kasih sayang yang demikian ini telah menjadikan kemarahan manipulatif elite agama tak memiliki tempat lagi, sekaligus menjadikan perempuan yang sama sekali tak diberi ruang untuk menyatakan diri.

Ia telah dipojokkan sebagai “liyan” yang asing dan tak dikenali itu. Tapi kemudian bisa menemukan martabat dirinya, dikenali, dimanusiawikan sehingga memiliki kesanggupan untuk menyatakan diri dan menemukan kehadiran Yesus sebagai “kyrios”, yakni pribadi yang berwibawa karena keadilan, kasih sayang dan kemurahan hatinya yang besar.

Pernyataan terakhir Yesus kepada perempuan itu yang berbunyi “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”, adalah sebuah penegasan yang bermakna “Aku tidak menyetujui dan tak akan membiarkan engkau terus berada dalam ketidakadilan.

Mulai sekarang, bertindaklah dan ambillah pilihan-pilihan tegas dalam hidup agar kamu, kaum perempuan, menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan penuh martabat, tidak diseret lagi oleh arus manipulasi dan kemunafikan yang sistematis demi kepentingan dan keuntungan segelintir elit kekuasaan, yang dapat membuat dirimu terperosok, terlibat di dalamnya, dan merugi, karena semua itu adalah praksis dosa”.

Melalui kehadirannya di antara umat Katolik dan dengan mengunjungi serta menyapa pemuda yang dilanda amarah itu, Buya Syafi’i Maarif telah menghadirkan kasih sayang sekaligus sikap kritis sebagaimana diteladankan oleh Muhammad SAW dan Yesus.

Melalui kehadiran yang penuh kasih sayang dan kemurahan hati, sekaligus dipenuhi oleh komitmen dan keprihatinan agar kasih sayang antar manusia tak tercabik-cabik lagi, Buya telah menanamkan benih-benih saling percaya di antara sesama anak bangsa yang hidup dalam banyak perbedaan.

Kehadirannya mencerminkan kasih sayang Bapa yang murah hati, yang menghargai setiap keunikan anak-anaknya dan mengakuinya sebagai pribadi-pribadi yang bermartabat.

Ia yang telah mengubah kemarahan menjadi keramahan itu, pada hari Jumat tanggal 27 Mei 2022 ini telah berpulang.

Semoga ia kembali kepada Sang Pencipta dan direngkuh oleh-Nya dalam kasih sayang yang besar.

Selamat jalan Buya. Terimakasih atas teladan hidup yang engkau hadirkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here