Maria Helena Stollenwerk, Beata Jelita dari Steyl, Belanda

0
143 views
Beata Maria Helena Stollenwerk dari Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi (SSpSAP).

MARI kenal beata cantik dari Steyl, Negeri Belanda. Namanya Maria Helena Stollenwerk.

Tanggal 28 November, keluarga besar Arnoldus Janssen merayakan pesta seorang saudari bernama Beata Maria Helena Stollenwerk.

Ia adalah seorang suster Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi (SSpSAP). Namanya mungkin belum diketahui dengan baik oleh umat beriman Katolik di Indonesia.

Untuk itu, mari kita lihat siapa itu Beata Maria Helena Stollenwerk.

Helena dan keluarga

Seorang puteri cantik benama Helena Stollenwerk lahir pada tanggal 28 November 1852 di sebuah desa yang bernama Rollesbroich, Belanda.

Ibunya bernama Anna Maria Bongard dan ayahnya bernama Johan Peter Stollenwerk.

Ayahnya adalah adalah seorang petani yang rajin dan juga sangat giat dalam hidup menggereja. Ayahnya juga sangat berjasa dalam pembangunan gereja di Rollesbroich.

Dalam keluarga ini, Helena mengalami hidup iman yang luar biasa.

Suasana damai, saling memberi perhatian, dan solidaritas keluarga menjadi pondasi kokoh bagi hidup iman dan juga berpengaruh pada panggilannya.

Selain itu, Helena juga mendapat pembinaan iman di lingkungan paroki dan sekolah. Hal ini membuatnya menjadi pribadi yang sangat peduli dengan orang lain, terutama bagi mereka yang membutuhkan.

Sehingga tak heran, jika di kemudian hari setelah masa sekolah, ia juga turut mengambil bagian dalam karya karitatif di lingkungannya.

Menjadi suster misioner

Helena Stollenwerk sangat tersentuh, ketika melihat nasib anak-anak yang dilukiskan dalam majalah-majalah perkumpulan karitatif yang diikutinya. Nasib anak-anak itu sungguh disayangkan, terutama anak-anak yang ada di China.

Helena merasakan kerinduan besar untuk berada di sana, mendidik, dan membaptis mereka menjadi seorang kristen.

Ia ingin menjadi seorang misionaris.

Berangkat dari kerinduan tersebut, pada tanggal 30 Desember 1882, Helena Stollenwerk mengambil langkah awal dengan pergi ke rumah misi yang didirikan oleh Arnoldus Janssen di Steyl, kota perbatasan Belanda-Jerman.

Perjalanan tersebut ia lakukan bersama dengan orang ua. Sesampainya di rumah misi Steyl, seorang pater berusaha menghibur kedua orangtuanya agar merelakan Helena masuk rumah misi tersebut.

Dengan berkata bahwa mereka (orangtua) akan mendapat berkat melimpah, jika mengizinkan putrinya menjadi biarawati misioner.

Orangtua Helena pun terhibur.

Helena Stollenwerk sangat bahagia karena akhirnya dia bisa mengucapkan selamat tinggal bagi dunia dan dapat tinggal di rumah misi Steyl, di mana ia hidup bersama Tuhan untuk tujuan mulia: tugas misioner.

Impiannya tidak begitu saja menjadi nyata. Ia masih harus menunggu selama 20 tahun. Penantian yang amat panjang ini dia isi dengan sebuah pelayanan sederhana, namun sangat bermakna bagi hidup spiritualnya.

Pelayanan tersebut adalah menjadi pemasak. Jadi, Maria Helena bukan langsung menjadi suster, tetapi pemasak di rumah misi.

Baru pada tanggal 8 Desember 1889 Helena dan sesama saudari lainnya menempati sebuah rumah sebagai langkah awal menjadi biarawati.

Kemudian, pada tanggal 12 Maret 1894 Maria Helena bersama kesebelas saudari tadi mengikrarkan kaul perdana di dalam Kongregasi Suter-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS).

Kini, mereka sampai pada pemenuhan kerinduan hati.

Maria Helena sampai pada kesadaran bahwa Tuhan selalu menuntunnya hingga ia dapat mencapai tujuannya saat ini.

Sr. Maria Helena Stollenwerk SSpSAP terpilih sebagai kekasih Allah dan mempelai sejati Roh Kudus.

Ia dibeatifikasi sebagai beata pada tanggal 7 Mei 1995 oleh Paus Yohanes Paulus II.

Beata Maria Helena Stollenwerk dari Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi (SSpSAP).

Spiritualitas

Sr. Maria Helena memiliki semangat pelayanan yang luar biasa dan ini terbukti lewat pengabdiannya menjadi pemasak rumah misi Steyl selama 20 tahun.

Semangat semacam ini tentu berakar dari devosinya yang mendalam kepada Ekaristi.

Bagi Sr. Maria Helena, Ekaristi merupakan benih yang menumbuhkan panggilan misionernya sehingga ia sanggup menghadapi dan menuntaskan kesulitan-kesulitan yang menghadang dalam karya pelayanannya.

Selain itu, spirit lain yang dimiliki oleh Sr. Maria Helena adalah totalitas penyerahan kepada bimbingan Roh Kudus.

Ia membiarkan dirinya dituntun oleh Roh Kudus di dalam setiap langkah hidup dan panggilannya.

Ia juga menyadari bimbingan Roh Kudus yang membentuk hatinya untuk semakin berserah secara sempurna kepada kehendak Allah.

Maria Helena berkeinginan agar panggilan misionernya tercapai atas dasar kehendak Allah, bukan kemauannya sendiri.

Spirit berikutnya adalah persaudaraan.

Maria Helena dipercaya oleh Arnoldus Janssen sebagai pemimpin komunitas, karena kesederhanaannya yang mengalirkan daya pengikat dalam hidup berkomunitas.

Komunitas tersebut membentuk suatu persekutuan yang bertujuan untuk mencari Allah dalam cinta persaudaraan.

Tidak hanya dalam komunitas, spirit persaudaraan Maria Helena juga mengalir hingga sampai ke tanah misi.

Ia sering mengirim surat bagi sesame saudari yang bermisi dengan isi surat berupa peneguhan, nasihat, dan janji doa-doanya.

Teladan

Berdasarkan catatan hidupnya, ada begitu banyak referensi hidup yang dapat diteladani, terutama yang berhubungan dengan kaul-kaul kebiaraan.

Namun, di tempat yang pertama adalah semangat pelayanannya. “Kemuliaan bagi Allah, keuntungan bagi sesama, dan penderitaan bagi diri sendiri.”

Demikian ungkapan spiritual dari beata ini.

Semangat pelayanannya begitu radikal, karena bertumbuh dari cintanya kepada Allah.

Zaman sekarang, sangat sulit menemukan pribadi dengan semangat pelayanan radikal seperti Beata Maria Helena.

Lalu, mungkinkah kita melakukan pelayanan demikian?

Tentu saja mungkin.

Masa pandemi menjadi masalah bagi banyak orang. Kekurangan makanan, pakaian, maupun kehilangan pekerjaan sudah menjadi kenyataan yang harus diterima manusia masa kini.

Di sini, setiap kita dituntut untuk memberi sesuatu yang berguna bagi hidup mereka, baik secara spiritual maupun material.

Secara spiritual dapat dilakukan dengan berdoa bagi mereka dan secara material dengan cara memberi sesuai kemampuan kita.

Pemberian yang kecil dan sederhana, namun dilakukan dengan tulus ikhlas dan tepat sasaran akan menjadi berkat bagi kita maupun sesama.

Mari melayani dengan sungguh layaknya Beata Maria Helena, sehingga nama Allah semakin dimuliakan dan sesama dapat merasakan berkat-berkat Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here