Melayani dengan Semangat Rendah Hati

0
318 views
Rendah hati. (Ist)

Anggota komunitas sosial biasanya terbagi dalam dua bagian. Ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Para pemimpin dipilih atau diberi jabatan dan legitimasi demi kepentingan seluruh komunitas.

Dalam komunitas kaum beragama, otoritas itu berkaitan dengan cara menghayati iman.

  • Pertama, berkenaan dengan peribadatan.
  • Kedua, menyangkut kehidupan sosial. Hidup beragama terkait erat dengan tanggungjawab sosial.

Bacaan pertama (Yesaya 1: 10.16-20) berbicara tentang seruan bertobat yang terkait dengan dua hal di atas (Yesaya 1: 16-17). Ibadat yang benar diwujudkan dalam memperhatikan mereka yang kecil dan lemah (Yesaya 1: 17).

Yesus mengajar para murid-Nya tentang pemimpin sejati, yakni Yesus Kristus atau Mesias (Matius 23: 10). Dia menyembah Allah dalam ibadah dan sekaligus memperhatikan manusia yang miskin, sakit, lapar, dan menjadi korban ketidakadilan.

Sambil mengajarkan itu, Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menggunakan kedudukannya (Matius 23: 2) untuk diri sendiri. Mereka melakukan kewajiban agamanya untuk mencari pujian dan kehormatan.

Yesus menegaskan dua hal.

  • Pertama, semangat pelayanan, yakni mengutamakan mereka yang dilayani di atas dirinya sendiri.
  • Kedua, melaksanakan tugas pelayanan dengan semangat rendah hati.

Sasaran kecaman itu bukan hanya ditujukan kepada para Ahli Taurat dan orang Farisi, tetapi juga untuk para pemimpin jemaat dalam komunitas Kristen awali (Matius 23: 8-12). Bahkan juga untuk para pemimpin komunitas Kristiani saat ini.

Semangat melayani dalam sikap rendah hati itu berlaku untuk semua pengikut Yesus. Sejauh mana mereka telah mewujudkan sikap tobat dalam melayani sesama dengan semangat rendah hati?

Selasa, 7 Maret 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here