Home SPIRITUALITAS IGNATIAN Memahami Praktik Berdoa (4-Habis)

Memahami Praktik Berdoa (4-Habis)

1

[media-credit name=”courtesy of Google” align=”aligncenter” width=”300″][/media-credit]BILA kita berdoa, perlulah diingat bahwa kita bukan mencari konsolasi atau hiburan rohani tetapi mau bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan sendiri. Tuhanlah sumber konsolasi yang sejati.

Hadir bersama Yesus

(We become whom we contemplate, George Aschenbrenner, SJ)

Salah satu metode berdoa dalam spiritualitas Ignatian adalah kontemplasi. Dengan kontemplasi berarti kita berdoa dengan menempatkan diri kita dalam konteks peristiwa yang terjadi dalam Injil, membayangkan tempatnya, melihat orang-orang yang terlibat disana dan merasakan bahwa anda sendiri hadir disitu bersama Yesus sendiri. Berkontemplasi berarti hadir dan merasa serta berpikir seperti orang-orang yang ada dalam peristiwa Injil tersebut. Yang lebih penting lagi, berkontemplasi berarti menyelami alam pikiran, hati dan tindakan Yesus sendiri. Mau berpikir sebagaimana Yesus sendiri, merasa sebagaimana Yesus merasa, dan juga bertindak sebagaimana Yesus bertindak serta mencintai sebagaimana Yesus mencinta. Dengan doa kontemplasi ini kita akan menjadi semakin intim dengan keutamaan-keutamaan Injili dan juga cara bertindak dan pikiran Yesus sendiri.

Mencatat dan Refleksi itu Penting

Mencatat buah doa dan pengalaman rohani dalam doa akan memberi sumbangan yang berguna dalam mengembangkan hidup doa kita. Ambilah waktu untuk berefleksi dan mencatat segala hal yang terjadi dalam doa, buah-buah rohani, insight, ataupun juga kecenderungan-kecenderungan yang dialami ataupun juga hambatan-hambatan yang dirasakan. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah proses doa formal selesai dilakukan.

Doa yang Transformatif

Doa yang sejati akan memberi inspirasi dan dorongan dalam diri kita untuk merespons. Semakin kita otentik dan tulus dalam berdoa, hidup kita akan menjadi lebih transformatif, dan tergerak untuk mau mencintai sesama sebagaimana Yesus sendiri tunjukkan dalam doa-doa kita. Doa yang sejati itu transformatif dan bukan sekedar tindakan kesalehan belaka. Pokok ini sendiri sangat ditekankan di hari-hari terakhir dalam dinamika Latihan Rohani Santo Ignatius.

Augustinus Widyaputranto, pelaku spiritualitas Ignatian, mahasiswa program S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

 

1 COMMENT

  1. Jujur sy ‘terpesona’ dgn pemaparan 4 artikel ini. Sbg awam pemahaman sy ttg doa terbatas, sy memperoleh pengayaan dari artikel ini. Trm ksh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version