Nyali Romo Jacques Gros CM: Jalan Kaki Sendirian Susuri Pegunungan Meratus, Makan Minum dari Hutan

0
761 views
Romo Jacques Bernard Gros CM, imam misonaris sejati dari Pegunungan Meratus di Kalsel. (Dok Romo Gros CM via Ibu Monica Hsu)

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN.

Jumat, 9 Juli 2021.

Tema: Ambil bagian dalam salib Kristus.

  • Bacaan Kej 46: 1-7, 28-30.
  • Mat. 10: 16-23.

MANUSIA itu pribadi kontradiktif. Kadang tergantung dan terfokus hanya pada diri sendiri. Memutlakkan yang sementara. Dengan suka mengejar kenikmatan inderawi alias hedonis.

Juga senang belanja sana-sini. Benar-benar jiwa konsumptif.

Berperilaku tamak, egois, sembrono, sambalewa. Pokoknya, sak enak udelé dhéwé. Suka-suka sendiri saja.

Jadilah, hidup penuh pura-pura. Pribadi yang semu. Juga suka menyimpang dari jalur utama.

Wis, pokoke aneh. Sak karepé dhéwé.

Itu hanya baru satu sisi saja. Sisi lainnya adalah perilaku yang suka menghindar dari penderitaan. Tentu saja dengan segala cara.

Padahal, kalau mau sadar diri, tak ada yang mampu mengelak diri dari penderitaan, kesakitan. Minimal minus salah paham.

Bukankah kebenaran iman dan kebaikan yang dialami, yang dia berikan itu merupakan jalan pintu kesadaran?

Sebuah keindahan hidup dalam Tuhan.

Ketika Yusuf bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya.

Berkatalah Israel kepada Yusuf: “Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup.” ay 29b-30.

Yusuf mengalami penderitaan dan kesakitan lantaran ulah saudara-saudaranya. Ia tidak kehilangan harapan akan kasih dan keadilan Yahwe. Ia tidak kehilangan keyakinan akan kepastian Allah yang bertindak adil.

Belajar dari Romo Jacques Bernard Gros CM

Romo Jacques Bernard Gros CM adalah imam misionaris anggota Kongregasi Misi (Congregatio Missionis, CM.

Misionaris dari Perancis ini sudah sekian tahun lamanya menetap dan berkarya di Mandam – bagian Misi Meratus.

Inilah sebuah karya mulia yang diampu oleh tim khusus Keuskupan Banjarmasin. Dengan maksud mendampingi hidup umat Katolik di permukiman penduduk di kawasan Pegunungan Meratus, sekitar 10 jam perjalanan dari Banjarmasin, Kalsel.

Mereka adalah orang-orang Dayak Meratus.

Saya merasa terhormat pernah bisa dekat dan mengenal Romo Gros CM yang super hebat ini. Sesekali waktu juga pernah boleh inap di pastoran Paroki Mandam – tempat Romo Gros CM berkarya saat itu dan ketika saya masih menjalani karya pastoral sebagai imam “misionaris domestik” di wilayah Keuskupan Banjarmasin.

Semuanya tampil dengan sangat sederhana. Pastoran itu sendiri hanya berdinding kayu. Produk makan pun disiapkan sendiri oleh Romo Gros CM. Tidak ada yang namanya ibu “juru masak” di pastoran itu.

Beliau bukan sosok imam yang suka banyak bicara. Benar-benar tipikal seorang misionaris sejati.

Banyak kerja, sedikit bicara. Banyak bekerja dengan hasil nyata.

Hidupnya melulu diabdikan untuk kepentingan layanan misi. Menjiwai semangat misioner adalah nafas hidupnya. Juga urat nadinya dalam keseharian.

Dengan sukacita, ia selalu menampakkan raut muka bahagia dan senang, setiap kali menerima makanan kiriman umat.

Apa pun itu bentuknya. Tentu saja, semua jenis makanan itu masuk kategori amat sederhana. Lantaran lokasinya jauh dari “peradaban” kota.

Jujur saja. Kalau saya sekali waktu harus “menjadi” Romo Gros CM, maka sudah barang tentu saya akan berusaha menambah fasilitas hidup dan kondisi keseharian pastoran.

Tapi Romo Gros CM tidak seperti saya.

Ia ingin hidup senasib dan sepenanggungan dengan keseharian umatnya. Hidup miskin dan sangat sederhana.

Ia juga mau tinggal bersama-sama dan di tengah-tengah umat yang sederhana. Rajin merayakan ekaristi sebagai kekuatan hidup, 

Juga tak pernah mengaku lelah mengunjungi umat yang hidup di lereng Pegunungan Meratus.

Tentu saja harus rela melakukannya dengan hanya jalan kaki saja.

Selalu sendirian. Kalau mengalami kehausan di jalan, ia akan menebas jenis akar pohon tertentu untuk bisa dia minum. Atau mengkonsumsi air kali kecil dari ketinggian bukit-bukit Pegunungan Meratus.

Sandalnya sering rusak. Sudah keburu aus lantaran harus naik-turun menyusuri jalanan setapak berbatu dan kadang becek di lereng-lereng tebing sangat tinggi.

Jalan kaki ke Bugag

Saya mendengar, beliau sering datang mengunjungi umat di kawasan Bugag.

Tentu saja, ke sana sudah pasti tidak ada “jalan”. Maka, satu-satunya akses menuju ke sana hanyalah jalan setapak. Konsekuensinya, ya harus jalan kaki. Sendirian lagi.

Tapi, Romo Gros CM sosok pemberani sejati. Pejantan super tangguh. Maka, ia lalu berjalan “merayap” menyusuri pinggiran tebing. Tentu saja ada di ketinggian.

Salah satu “pengaman diri” di jalan setapak ketika harus menyusuri tebing ini hanyalah ilalang yang punya postur “tubuh” super tinggi. Juga kuat hingga mampu menahan postur tubuh Romo Gros CM yang kebetulan juga ramping manis.

Turne jalan kaki menuju Bugag itu bisa makan waktu sampai dua hari. Itu pun harus rela bermalam di jalanan. Harus bisa tidur dengan kondisi seadanya di hutan.  

Badannya yang sudah ramping itu tentu saja selalu menjadi “santapan” enak bagi lintah-lintah darat. Sakit sedikit karena darahnya disedot lintah haus darah itu sudah bukan hal aneh bagi imam Lasaris dari Perancis ini.

Meski demikian, Romo Gros CM sangat menyukai tugas pengutusan istimewa ini.

Yang menarik bagi saya, Romo Gros CM ini tidak pernah mengeluh. Benar-benar punya mental tahan banting. Ia juga sosok imam super pemberani. Semangat misionernya benar-benar bukan KW.

Tapi, sosok seorang imam misionaris sejati. Tidak pernah mau mabuk dengan fasilitas.

Bak terbuka untuk barang dan manusia

Demi umat yang dia cintai, sekali waktu Romo Gros CM berhasil membeli sebuah mobil pikap terbuka.

Sengaja mau dia pakai untuk keperluan apa saja. Untuk bisa mengangkut apa saja. Mulai dari barang-barang yang dibutuhkan umat sampai mengangkut anak-anak yang dia ajak untuk berkunjung dari satu stasi ke stasi lainnya.

Saya sangat tersentuh, ketika anak-anak dari Napu-Mandam sampai bisa datang berkunjung ke Pulau Laut. Juga naik mobil bak terbuka itu.

Semua hal tak terduga ini terjadi berkat kebaikan Bu Lenny Irawati. Ia seorang ASN bidang layanan Kesehatan. Ia bertugas di Napu, sebuah kawasan permukiman penduduk yang sangat udik. Tentu saja sangat jauh dari kota.

Anak-anak itu bergitu hepi, walau berdesakan di bak mobil pikap yang harus menempuh perjalanan jauh. Itu pun harus rela duduk berdesak-desakan.

Ada sekitar 25 anak ikut dalam turne dengan mobil bak terbuka itu. Sebuah perjalanan “misi” bagi anak-anak Katolik -remaja semuanya- untuk membuka cakrawala berpikir.

Misi itu tidak mudah. Butuh mental baja, tahan banting. Tidak mudah ngedumel dan manja fasilitas.

Bisa jadi, Romo Gros CM sangat berambisi dan inginkan bisa terjadi proses alih transfer semangat dan jiwa misionaris tulen itu kepada saya. Juga kepada anak-anak dari Paroki Mandam, Keuskupan Banjarmasin, Kalsel.

Yang kemudian terjadi benar-benar demikian. Anak-anak itu mulai terbangun dengan baik kesadaran. Juga kepekaan sosialnya. Berkat kehadiran para suster biarawati Alma besutan almarhum Romo Paulus Hendrikus Janssen CM yang karya sosialnya sungguh amat legendaris.

Mereka ini disadarkan, dilatih, diajak mengadopsi jiwa dan semangat misionaris.

Kisah remaja bernama Wanda

Beberapa anak kemudian menjadi suka minta agar diperbolehkan ikut romo, bila melakukan pelayanan sakramental di luar wilayah paroki.

Lokasi-lokasi yang jauh dari “pusat kota”. Ada lainnya yang minta diperbolehkan ikut mengajar anak-anak.

Salah satunya, yang jelas saya masih ingat betul, adalah remaja kecil bernama Wanda.

Saat itu, ia masih kecil. Anak ingusan. Baru duduk di kelas 4 SD.

Yang menarik, setelah sempat ikut beberapa kali perjalanan turne dengan Romo Gros CM ke “pedalaman”, di kemudian hari sdan ketika sudah mulai beranjak “besar”, Wanda ini selalu ingin ikut suster dan romo ke stasi-stasi yang lokasinya juga jauh dari pusat kota.

Hebat nian efek pengaruh baik dari sosok Romo Gros CM ini.

Jiwa misionarisnya sudah mengalir jauh. Berhasil memformat mental anak-anak remaja di Paroki Mandam. Lalu bisa menjadikan mereka cinta akan perjalanan petualangan. Sejak mereka masih remaja hingga beranjak tumbuh menjadi dewasa.

Buktinya salah satunya ya si Wanda ini. Kini, perempuan yang sudah dewasa ini tengah berkuliah ilmu pendidikan agama (kateketik) di IPI (Institut Pastoral Indonesia) di Malang, Jatim.

Itu sekolah pastoral yang mendidik calon-calon guru agama Katolik. IPI ini hasil besutan almarhum Romo Janssen CM. Kini, IPI dikelola antara lain oleh para suster Kongregasi Alma dan para imam CM.

“Alih” transfer semangat dan jiwa misioner ini tentu saja tidak lepas dari keteladanan hidup seorang imam bernama Romo Gros CM.

Sungguh menyenangkan bergaul dengan Romo Gros CM ini. Kadang kami boleh meneguk sedikit alkohol untuk bisa menghangatkan badan yang kadang kedinginan di atas bukit.

Romo Gros CM ini sungguh sosok imam misionaris sejati.  

Keusilannya suka melukis wajah para imam dalam setiap pertemuan sungguh mengharukan. Satu bentuk persahabatan antar imam yang baik dan sehat.

Dilengkapi dengan serangkaian perjumpaan rohani antarteman sesama imam yang berkarya di wilayah pastoral Keuskupan Banjarmasin. Tentu saja jauh dari “pusat kota”.

Saya tidak pernah mendengar Romo Gros CM pernah atau suka mengeluh.

Bahkan ketika saya tahu beliau merasa sangat  lelah dan sakit, dia tetap asyik dalam kegiatan hariannya membaca buku teologi pastoral (yang baru) di sela-sela kesibukannya.

Berdoa brevir (ibadat harian kaum religius, biasanya) tak pernah luput dia lupakan.

Yesus meneguhkan, “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” ay 22b.

Tuhan, biarlah derita-Mu menjadi bagian kegembiraan perutusan kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here