Pelita Hati:29.10.2018 – Belas Kasih versus Kemunafikan

0
876 views

Bacaan Lukas 13:10-17

Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”  Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” (Luk.13:10-16)

SAHABAT pelita hati,

Pelita sabda hari ini mengangkat tema tentang belas kasihan berhadapan dengan kemunafikan. Belas kasih menjadi hak abadi Tuhan di satu pihak dan kemunafikan menjadi milik kepala rumah ibadat yang nota bene dapat digolongkan sebagai petinggi Yahudi. Di satu pihak Yesus mengedepankan ketulusan dan empati kepada perempuan yang menderita sakit, di lain pihak kepala rumah ibadat menggunakan tameng aturan untuk menyerang dan menyalahkan Tuhan.

Sahabat terkasih,

Karenanya Tuhan Yesus dengan amat keras mengkritik sikap munafik kepala rumah ibadat yang  bersembunyi dalam aturan-aturan agama dan tak peduli pada keselamatan orang yang sudah menderita belasan tahun. Dengan kata lain Tuhan mau menunjukkan bahwa cinta dan belas kasih seharusnya menjadi dasar dari segala aturan dan hukum. Jika demi belas kasih dan keselamatan, aturan-aturan yang ada tak boleh menghambatnya. Hukum yang diajarkan Tuhan adalah hukum cinta kasih. Karenanya cinta kasih harus mendasari seluruh hidup kita. Semoga pelita sabda hari ini mendorong kita untuk mengusahakan hidup berbelas kasih dalam bingkai ketulusan, terutama bagi yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan menderita.

Putih warna bunga kertas,
tumbuh mekar di taman Maribaya.
Belas kasih-Nya tiada batas,
bagi yang beriman dan percaya.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here