Sr. Marina OSF (85), Yesus Lebih Sakti daripada Dukun Santet Guna-guna (1)

1
483 views
Sr. Marina OSF (85) kasih kesaksian berdasarkan pengalaman imannya bahwa imannya akan Yesus Kristus selalu melindunginya dari pengaruh kuasa kegelapan berupa guna-guna. Dikisahkan kepada Titch TV dalam Program Bincang-bincang Panjang di BSB Semarang Barat, awal April 2023. (Mathias Hariyadi)

BULAN Oktober 2023 nanti, Sr. Marina OSF akan genap merangkai usia 85 tahun. Meski umur sudah lansia, tapi jangan tanya soal kecermatan berpikir dan daya ingatannya. Masih sangat tokcer.

Program Bincang-bincang Panjang

Terbukti di Biara Magdalena Daemen di bilangan Bukit Semarang Baru. Di tempat inilah, Program Bincang-bincang Panjang bersama Titch TV dengan narasumber Sr. Marina HK (85) terjadi. Di sela-sela perayaan Trihari Suci Paskah awal April 2023.

Siang itu, selepas makan siang, program wawancara Bincang-bincang Panjang itu terjadi di Ruang Rekreasi Susteran OSF BSB.

Suasana kantuk pasca makan siang disertai hawa panas khas Semarang sudah merasuki tubuh. Seketika lenyap, ketika renyah isi syering Sr. Marina OSF benar-benar menggugah semangat.

Meski sudah berusia 85 tahun, Sr. Marina OSF selalu berbinar-binar dan super semangat berkisah tentang sejarah panggilan hidup baktinya sebagai suster religius OSF Semarang. Terjadi saat berlangsung Program Bincang-bincang Panjang dengan Titch TV di Biara Magdalena Daemen Bukit Semarang Baru (BSB), Semarang Barat, di tengah sela-sela Trihari Suci Paskah 2023. (Mathias Hariyadi)

Dari Purbalingga ke Cilacap

Sr. Maria OSF banyak berkisah tentang masa kecil dan remajanya di Purbalingga, Kabupaten Banyumas, Jateng.

Ia sadar dan mengakui, bahwa ragam bahasa Jawanya dengan logat Banyumasan dikenal kasar. Juga perangainya yang kadang-kadang dianggap “kasar” karena suka berterus-terang.

Usai menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di Purbalingga, Sr. Marina OSF remaja lalu masuk asrama dan sekolah SKP selama empat tahun di Cilacap, Jateng.

Menantang imam misionaris Belanda datangi rumahnya

Di sinilah ia kenal agama Katolik melalui pastor setempat. Juga berani “menantang” pastor misionaris Belanda itu kalau mau mengajaknya menjadi Katolik harus terlebih dahulu minta izin kepada orangtuanya.

Ternyata, benar juga. Dalam sebuah perjalanan menuju Wonosobo dari Cilacap, pastor misionaris itu tiba-tiba saja mampir bertandang ke rumahnya. Maka kagetlah semua orang di rumah.

Dan tak ayal, setelah romo itu pergi, Sr. Marina OSF kena damprat.

Merantau dan ingin menjadi perawat di Semarang

Singkat cerita, ia akhirnya menerima Sakramen Permandian dan meneruskan studi keperawatan di RS Sint Elisabeth Semarang. Waktu itu harus bayar Rp 600 – sebuah angka tinggi untuk nilai rupiah waktu itu.

Namun, proses sekolahnya menjadi seorang perawat tidak berlangsung mulus. “Saya enggak krasan di sekolah calon perawat itu,” ujarnya tanpa gamang di tahun 1958.

Terkesan dan terpesona oleh para Suster OSF Belanda

Namun, perkenalannya dengan para suster biarawati OSF Semarang di tahun sepanjang pendidikan di Sekolah Perawat St. Elisabeth Semarang itu berpengaruh kuat pada jalan hidup berikutnya.

Tiba-tiba saja, ia ingin menjadi suster biarawati. Maka diolok-olok dia. Sering dicap sebagai anak yang kelewat ambisius ingin “masuk surga”.

Yang pasti, gaya hidup dan perilaku para Suster OSF yang waktu itu masih banyak misionaris dari Negeri Belanda telah dengan sangat intens membuatnya terpesona.

“Saya ingin seperti mereka,” kenang Sr. Marina OSF yang setiap pagi diam-diam sering “nginjen” (mengintip) kegiatan para suster OSF untuk berdoa di kapel RS. 

“Waktu itu masih banyak para suster OSF misionaris dan mereka sungguh baik, ramah, berjiwa sosial. Semua itu memberi kesan amat baik kepada saya,” tuturnya berapi-api, mengalahkan rasa kantuknya dan tim Titch TV yang kegerahan karena hawa panas mulai menyengat.

Penuh pemberontakan

Ketika masuk Postulat-Novisiat OSF di Biara Fransiskus Assisi di Gedangan, Semarang, ia sempat protes. Jiwanya memberontak keras, karena tiga orang temannya yang dianggapnya “sempurna” dan “lebih baik” daripada dirinya malah tidak diterima masuk bergabung.

“Sementara saya yang sering sakit-sakitan malah diterima,” ujarnya sembari menggambarkan dirinya sangat marah dengan mencabik-cabik sepatu – tanda protes.

Sakit, harus pulang, dan kembali lagi mengulangi novisiatnya

Dan karena sering sakit itu pula, Sr. Marina OSF akhirnya memang harus pulang ke rumah. Namun, tekadnya tiada putus.

Usai dinyatakan sembuh, ia kembali datang ke Novisiat OSF di Gedangan, Semarang, dan diterima lagi dengan syarat harus mau mengulang tahap formasi awal sebagai calon Suster OSF Semarang ini.

Ia menyanggupinya dan akhirnya mengucapkan profesi pertamanya tahun 1965.

Ilustrasi: Yesus dicobai setan, by John Ritto Penniman, 1818. (Ist)

Tuhan Yesus lebih sakti daripada ilmu hitam

Yang menarik lagi, demikian kisahnya dibeberkan secara blak-blakan kepada Titch TV, fakta bahwa sebenarnya dia sering kali diguna-guna orang. Dengan tujuan agar dia copot jubah biara dan kembali menjadi orang awam biasa.

Ia baru tahu akan hal ini setelah sekian lama menjadi suster biarawati OSF.

Karena kata sang dukun santet bilang begini.

“Sudahlah… biarkan dia tetap menjadi suster biarawati. Karena Tuhan dia ternyata jauh lebih sakti daripada kuasa gelap saya,” demikian omongan sang dukun black magic itu sebagaimana pernah dia dengarkan langsung dari keluarganya.

Ternyata, Yesus itu lebih berkuasa daripada kuasa kegelapan.

Begitulah keyakinan Sr. Marina OSF yang telah mengisi hidupnya lebih dari 30 tahun berkarya di RS Sint Elisabeth Semarang. (Berlanjut)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here