Gereja Berbudaya dan Budaya Adat Menggereja: Diskusi di Paroki Sungai Daka, Keuskupan Ketapang (1)

0
59 views
Paroki Sungai Daka - Diskusi dan pertemuan antara Dewan Adat Dayak bersama Mgr. Pius Riana Prapdi by Mariarosa.

PERISTIWA ini sudah berlangsung beberapa bulan lalu di tahun 2018 silam. Namun, gema pertemuan bersama Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi –meski hanya berlangsung selama kurun waktu dua jam saja—tetap saja masih terasa hingga sekarang.

Hari itu menunjukkan waktu hari Senin tanggal  26 november 2018, sekitaran pukul 19.00 malam. Bapak Uskup Keuskupan Ketapang (Kalbar) Mgr. Pius Riana Prapdi datang berjalan menuju gedung serba guna Desa Sungai Daka.

Pastor Quasi Paroki Sungai Daka, Romo Silvanus Ilwan CP, ikut mendampingi perjalanan ini.

Diskusi budaya dan iman kristiniani

Pada malam pertama kunjungan Bapa Uskup ini,  penulis mengajak para pemuka adat terlebih dahulu menyediakan waktu untuk bisa  berdiskusi dengan Bapa Uskup.

Talkshow sesi pertama ini dihadiri oleh Ketua DAD (Dewan Adat Dayak) Kecamatan Sungai Laur Bapak Anastasius Ase.

Beliau hadir ditemani beberapa temenggung. Para temenggung ini datang dari Kepari, Semapau, Bengaras, Kalam, dan Sungai Daka.

Paroki Sungai Daka – Diskusi dan pertemuan dipandu oleh pengurus Komisi Kepemudaan Keuskupan Ketapang dan diteman penulis Richardo Meli dan Romo Ilwan CP.

Dalam talkshow tersebut, banyak hal berhasil diperbincangkan baik oleh Bapa Uskup maupun para pemuka adat.

Dalam talkshow pertama ini, perbincangan bersama itu dipandu oleh teman Rikardo Meli, kolega penulis di Komisi Kepemudaan Keuskupan Ketapang.

“Salam Nasional” khas Dayak di Kalbar

Talk show dibuka dengan “salam nasional” khas Dayak di Kalimantan Barat dan Salam Dayak Lawang khas Sungai Laur.

Begini kalimat salamnya yang sering disebut sebagai “Salam Nasional Dayak” di Kalbar:

  • “Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’Saruga, Basengat Ka’Jubata”
  • ”Arus,” begitu jawabannya.

Salam Dayak Lawang Sungai Laur punya narasi berbeda dengan lirik seperti berikut ini:

  • “Setompap Tinggi Duduk, Sekilan Tinggi Bediri, Ngkadah Kelangit Tinggi, Ka’Sarugo, Nyombah Nyungkun Ke Doto Sengiang”.
  • Dijawab: “Auk .“ 

Budaya Dayak

Bapa Uskup dalam talkshow mengatakan bahwa yang berkesan saat beliau memasuki kampung Dayak itu tradisi menginjak tanah dengan menginjak telur dan minum tuak.

Beliau mendefinisikan kata “TUAK” sebagai perpanjangan “Tuhan adalah Kasih”.

Maka dalam talkshow dua jam itu,  beliau juga berpesan agar selalu menjaga kelestarian budaya.  Beliau juga memberikan satu ayat dari Flp 4:8: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Bersambung)

Paroki Sungai Daka – Diskusi memperbincangan topil Gereja berbudaya dan budaya adat Gereja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here