SEBAGAI umat Katolik yang telah dibaptis, kita memiliki tugas mewartakan Kabar Sukacita kepada sesama kita. Petrus di 1 Petrus 3: 15-16, menyampaikan antara lain:
- memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan;
- dengan lemah lembut dan hormat, dengan hati nurani yang murni, kepada sesama kita yang memang memintanya dari kita.
Tugas ini tentu pertama-tama mewajibkan kita untuk mempelajari Kabar Sukacita itu, mempraktIkkannya dan kemudian mewartakannya. Keterampilan komunikasi jelas menjadi sarana penting untuk tugas tersebut.

Komunikasi yang positif
Pertanyaannya adalah Komunikasi yang bagaimana?
Paus Fransiskus antara lain menyampaikan: “… komunikasi yang menyederhanakan realitas untuk memancing reaksi naluriah, menggunakan kata-kata laksana pisau cukur, bahkan informasi palsu, diputarbalikkan secara cerdik untuk, menghasut, memprovokasi atau menyakiti…”
Pesan ini mengingatkan saya pada berbagai peristiwa yang saya amati, d imana terlihat berbagai orang berkomunikasi dengan lancar, piawai, dan berbekal keterampilan komunikasi yang mumpuni, namun digunakan untuk tujuan negatif seperti menghasut, memprovokasi dan menyakiti.
Komunikasi yang digunakan semata-mata untuk tujuan diri sendiri, memang dimungkinkan. Oleh karena itu bagi saya, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang tidak saja bagus teknik dan keterampilannya, namun juga harus disertai niat baik, agar buahnya juga positif. Good skill dan good will.
Hal senada ditekankan juga oleh Paus Leo IV:
“…. komunikasi bukan hanya tentang transmisi pesan, juga adalah pembentukan kultur manusia di lingkungan digital yang menjadi ruang-ruang dialog dan diskusi. Mari kita lucuti komunikasi dari semua prasangka dan kebencian…”.
Istilah lucuti, saya terjemahkan dari bahasa Inggris disarm, yang sering kali diasosiasikan dengan perlucutan senjata. Dari sini saya mengartikan bahwa komunikasi yang tidak disertai niat baik, dia hanya akan menjadi seperti senjata, yang jelas berpotensi menyakiti atau bahkan membunuh.
Dari kedua Paus kita meyakini bahwa komunikasi yang perlu kita lakukan adalah komunikasi yang memiliki niat dan tujuan baik, agar buahnya pun baik. Pesan-pesan ini dapat kita jadikan fondasi untuk memperkuat langkah lebih jauh dan melaksanakan tugas sebagai pewarta yang berbuah berkali-kali lipat.
Setelah belajar komunikasi sejak era 90-an hingga sekarang, disertai dengan proses pertobatan sebagai ekses dari pengenalan pada firman, saya semakin yakin bahwa komunikasi seorang pewarta seperti kita memerlukan banyak sekali refleksi terus menerus pada:

- Cara kita bicara.
- Kata-kata yang kita ucapkan:
- (1) apakah sudah mendengarkan lebih banyak sebelum berbicara:
- (2) apakah perilaku nonverbal kita sudah sinkron dengan kata-kata, dan
- (3) apakah komunikasi kita dalam keseharian sudah mencerminkan kasih, dan sebagainya.
Seiring dengan refleksi saya juga belajar tentang membangun koneksi melalui komunikasi berdasarkan fondasi Kasih. Di tengah era digital, dimana relasi fisik memudar tergantikan oleh “gadget” dan platform digital, ditambah pula dengan pandemi Covid-19, relasi antar manusia menjadi semakin superficial dan “jauh”.
Oleh karena itu kita memerlukan banyak relasi yang bertujuan membangun koneksi alamiah antar manusia, akrab dan tulus. Koneksi yang terbangun didasari oleh peran kita sebagai garam dan terang dunia.
Menjadi garam dunia
Garam menjadi berguna ketika dia dimasukkan dan bercampur dengan masakan, bukan ketika diletakkan di sebelah masakan atau bahkan jauh di seberang sana.
Ketika garam sudah menyatu menjadi masakan, wujudnya menghilang, namun buahnya menjadi konkret, masakan menjadi enak untuk dimakan.
Pewarta seperti garamlah yang mampu membangun koneksi alamiah, merendah dan melebur, sehingga koneksi itu membuahkan kasih dan menghadirkan Kristus, sementara “wujud” individunya “menghilang”.
Terang dalam konteks komunikasi adalah bentuk perwujudan iman yang diartikulasikan lewat pertanggungjawabannya.
- Apakah orang lain menjadi lebih “terang” setelah berinteraksi dengan kita?
- Apakah kehadiran kita, membawa terang ke manapun kita pergi?
- Apakah respon kita menghadapi konflik bisa tetap positif?
- Bagaimana kita bertukar pesan tertulis di media sosial atau di Whatsapp?
- Terang itu terus adakah?

Kecakapan dialog
Bercakap-cakap itu ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Di dalam otak kita muncul beragam reaksi kimia ketika kita bercakap-cakap.
Ada dua bagian otak yang perannya paling krusial dalam percakapan yakni:
- otak limbic yang menyerap informasi emosional;
- otak cortex yang berguna untuk berpikir logis dan masuk akal.
Ketika kita menyampaikan pesan lisan kepada orang lain, otak limbic dalam kepala mereka yang akan pertama kali bereaksi terhadap pesan itu dan terhadap kita sebagai penyampai pesan– apakah akan timbul reaksi percaya?
Nyaman? Positif? Jengkel? Terasa menggurui? Menghakimi? Menuduh?
Limbic memang sangat dominan, dan banyak menangkap perasaan. Ketika perasaan orang lain itu negatif terhadap kita (apa pun alasannya), maka otak cortex sama sekali tidak bisa maksimal berfungsi, karena akan terus tersabotase oleh limbic.
Demikian juga sebaliknya, ketika orang lain merasa percaya dan nyaman mendengarkan pesan kita, mereka akan relatif lebih mudah menerima pesan kita, cepat diajak untuk berpikir rasional dan bertindak secara masuk akal, karena otak cortex-nya bebas menjalankan tugasnya tanpa diganggu oleh limbicnya. (Disarikan dari buku Conversational Intelligence oleh Judith E. Glasser).
Menjadi pewarta gembira
Pewarta Kabar gembira, perlu mempelajari dan melatih diri menggunakan sistem otak ini. Refleksi yang kita lakukan akan membuahkan kecakapan komunikasi yang selalu positif, tidak menggurui, menghakimi atau menuduh, melainkan mengakomodasi pesan orang lain (seberapa pun terdengar negatif), mengidentifikasi akar masalahnya, melihat manusianya bukan perilakunya, dan mendengarkan serta menggali lebih jauh.
Dengan demikian, diharapkan koneksi yang tulus akan terjadi. Jika komunikasi kita selalu mampu “menenangkan” limbic, maka kita bisa segera berbicara kepada cortex.
Jika tidak, kita akan terus berurusan dengan “baper”, perasaan tersinggung, merasa tidak diperhatikan, rasa tidak percaya, kehilangan jati diri, dan sebagainya.

Mengelola perasaan orang itu jauh lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama.
Selain dialog, menjadi pewarta Kabar Gembira juga perlu banyak praktik dalam hidup, mewujudkan firman dalam Kitab Suci dalam perilaku konkret sehari-hari. Ketika kita mengkomunikasikan pesan kepada orang lain, dengan tujuan “persuasi”, kredibilitas kita sebagai penyampai pesan memiliki peran sangat penting, agar orang lain percaya bahwa kita memang layak didengarkan.
Kredibilitas itu kita bangun lewat pengalaman kita sendiri mempraktekkan firman tersebut. Jika tidak, kita hanya akan terdengar seperti “gong” saja.
Teknik ini dan berbagai teknik komunikasi lain juga dapat dimanfaatkan, ketika kita mewartakan makna pengharapan kepada sesama. Istilah “pengharapan” terkesan “berat” dan “jauh di awang-awang”.
Komunikasi yang rendah hati justru akan “membumikan” pesan penting itu, dan lagi-lagi akan membuahkan koneksi penuh kasih.
Mari kita lanjutkan peziarahan kita bersama Kristus dan firman-Nya, melalui refleksi dan komunikasi efektif. Salve.
(Materi ini dibawakan di sesi Public Speaking sebagai salah satu kegiatan dalam Pekan Komunikasi Sosial Nasional di Malang, 12 Juni 2025)
PS: Penulis adalah Coach & Trainer Komunikasi; anggota Bidang Pewartaan & Komisi Kitab Suci












































