ADA yang menarik dari panggung Konser Musik dan Tari “Cinta Tanahair” di Gereja Santa Maria Regina (Sanmare), Paroki Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Sabtu malam, 15 Agustus 2026.
Di antara mereka yang sibuk mendukung pergelaran itu terdapat para alumni Program “Ayo Sekolah-Ayo Kuliah (ASAK)”. Bertahun-tahun lalu, merekalah yang menerima uluran tangan umat agar bisa terus bersekolah dan menempuh pendidikan tinggi.
Kini, mereka kembali. Bukan lagi terutama sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai bagian dari mereka yang ingin membantu.
Melalui waktu, tenaga, dan kemampuan yang dimiliki, para alumni ikut mendukung konser penggalangan dana agar adik-adik mereka memperoleh kesempatan pendidikan seperti yang dahulu mereka terima.
Sebuah mata rantai kebaikan pun berlanjut: dari penerima menjadi pemberi.
Cinta Tanahair dan kepedulian
Konser musik dan tari “Cinta Tanahair” digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperingati ulang tahun ke-16 Paroki Santa Maria Regina Bintaro Jaya. Pergelaran yang diadakan setiap tiga tahun sekali ini merupakan kolaborasi Sanmare Children & Youth Orchestra (SCYO) dan Gerakan ASAK.
Mengusung semangat “Dari Sanmare untuk Indonesia”, panggung malam itu menghadirkan musik, tari, dan lagu-lagu bernuansa kebangsaan. Para penampil dari berbagai usia dan komunitas berpadu, menjadikan keberagaman sebagai sebuah harmoni.
Namun, ada misi lain di balik kemeriahan panggung. Musik dan tari menjadi jalan untuk menggerakkan solidaritas umat bagi pendidikan anak-anak dan kaum muda yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

91 anak dan mahasiswa
ASAK merupakan gerakan kemanusiaan dan belarasa umat untuk membantu anak-anak dan kaum muda Katolik yang mengalami kesulitan membiayai pendidikan. Gerakan ini telah berkembang di paroki-paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), termasuk Paroki Bintaro Jaya.
Saat ini ASAK Paroki Bintaro Jaya mendampingi 91 penerima manfaat. Mereka terdiri atas 62 anak pada jenjang SD, SMP, dan SMA serta 29 mahasiswa perguruan tinggi.
Perjalanan ASAK juga telah menghasilkan buah. Sejumlah anak santun telah menyelesaikan pendidikan, memasuki dunia kerja, dan mulai membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sebagian dari mereka kemudian kembali terlibat dalam ASAK.
Pengalaman pernah ditolong membuat mereka memahami arti sebuah kesempatan. Karena itu, ketika sudah memiliki kemampuan, mereka ikut membuka kesempatan serupa bagi generasi berikutnya.

Menggalang dana secara bermartabat
Pastor Kepala Paroki Santa Maria Regina, Romo Bernardus Hardijantan Dermawan Pr, menekankan bahwa penggalangan dana bagi karya sosial dapat dilakukan secara bermartabat. Konser menjadi salah satu caranya. Umat datang dengan membeli tiket dan menikmati pertunjukan. Pada saat yang sama, mereka ikut menopang pendidikan anak-anak yang membutuhkan.
Dalam sambutannya, Romo Dermawan mengingatkan bahwa pergelaran tersebut merupakan buah kerja bersama selama sekitar enam bulan. “Di balik panggung ini, banyak orang telah terlibat menyiapkan pergelaran selama enam bulan terakhir. Tua, muda, lansia bekerja sama untuk kegiatan konser tari dan musik ini. Marilah kita dukung mereka melalui donasi amal kasih untuk sebuah misi mulia,” katanya.
Dukungan datang dari pastor paroki, Dewan Pastoral Harian (DPH), komunitas seni, para pengisi acara, panitia, relawan, donatur, sponsor, hingga umat yang menyumbangkan waktu, tenaga, dan talenta.

Tembang kenangan “Jembatan Merah” dan donasi spontan
Suasana menjadi semakin hangat ketika Romo Dermawan tampil membawakan lagu Bengawan Solo dengan iringan musik keroncong. Ia kemudian mengajak seluruh hadirin ikut bernyanyi.
Dari suasana kebersamaan itu, muncul pula spontanitas untuk berbagi. Di tengah acara, tiga umat menyatakan donasi masing-masing sebesar Rp15 juta, Rp50 juta, dan Rp15 juta. Dalam waktu singkat terkumpul Rp80 juta.
Jumlah tersebut belum termasuk donasi lain yang diberikan melalui amplop maupun transfer langsung dan tidak diumumkan kepada publik.
Dengan demikian, konser bukan hanya menjadi ruang untuk menikmati musik dan tari, tetapi juga perjumpaan antara kegembiraan dan kepedulian.

Mata rantai kebaikan
Melalui rekaman video yang ditayangkan dalam acara, Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo juga mengajak umat untuk semakin mengambil bagian dalam Gerakan ASAK melalui donasi amal kasih.
Namun, mungkin pesan paling kuat malam itu justru terlihat dari kehadiran para alumni ASAK sendiri. Mereka adalah bukti nyata bahwa bantuan pendidikan tidak berhenti ketika seorang anak lulus sekolah atau menyelesaikan kuliah.
Kesempatan belajar dapat membuka jalan menuju pekerjaan, membantu kehidupan keluarga, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk berbagi.
Dahulu, para alumni itu ditolong umat agar dapat melanjutkan pendidikan. Kini, mereka kembali mengambil bagian agar adik-adik mereka memperoleh kesempatan yang sama.
Di panggung Konser “Cinta Tanahair”, musik akhirnya bukan hanya soal nada dan tari bukan sekadar gerak.
Di sana, sebuah mata rantai kebaikan sedang diteruskan—dari mereka yang pernah menerima, kepada mereka yang kini menanti kesempatan. (Berlanjut)
Baca juga: Indonesian Parish Concert Marks Independence Day, Raises Funds for Students









































