PERJALANAN dari Bogor menuju Jakarta tentu bukan sesuatu yang istimewa bila ditempuh dengan mobil, bus, atau kereta. Namun, bagaimana bila jarak itu ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang malam?
Itulah yang dilakukan 34 pejalan kaki dari Komunitas Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nanjak. Mereka berjalan dari Katedral Santa Perawan Maria Bogor menuju Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Jakarta, Jumat-Sabtu, 7-8 Agustus 2026.

Dari 34 peserta yang memulai perjalanan, 22 orang berhasil menuntaskan perjalanan hingga Katedral Jakarta.
Perjalanan sekitar 57 kilometer itu bukan sekadar olahraga ketahanan fisik. Para peserta memaknainya sebagai tirakatan, ziarah iman, sekaligus ungkapan cinta Tanah Air menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
“100% Katolik, 100% Indonesia”
Semangat perjalanan ini terangkum dalam ungkapan Mgr. Albertus Soegijapranata: “100% Katolik, 100% Indonesia.”
Melalui perjalanan tersebut, para peserta diajak mengenang perjuangan para pendahulu bangsa sekaligus menumbuhkan kembali semangat juang sebagai warga negara Indonesia. Dalam proposal kegiatan disebutkan, berjalan kaki pada malam hari juga dimaknai sebagai salah satu cara sederhana untuk mengingat perjuangan para pejuang kemerdekaan yang dahulu harus bergerak dalam berbagai keterbatasan.
Jalan kaki Bogor-Jakarta sebenarnya bukan tradisi baru. Pada era 1970-an hingga akhir 1980-an, gerak jalan jarak jauh pernah populer di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu rute yang dikenal adalah Jakarta-Bogor atau sebaliknya. Kegiatan semacam ini bukan hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga melatih kekompakan, disiplin, dan semangat juang.
Semangat lama itulah yang coba dihidupkan kembali, kali ini dengan warna berbeda: sebagai perjalanan rohani dan kebangsaan.
Berangkat dari Katedral Bogor
Perjalanan dimulai Jumat malam, 7 Agustus 2026, dari halaman Katedral Bogor. Target akhirnya adalah Katedral Jakarta pada Sabtu pagi.
Para peserta telah mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Mereka membawa perlengkapan masing-masing, termasuk rompi atau perlengkapan reflektif dan head lamp. Demi keselamatan, peserta juga diminta tidak berjalan sendirian, melainkan sekurang-kurangnya berdua.
Sebelum langkah-langkah panjang itu dimulai, peserta menerima berkat dari Romo Baruna Pr. di Katedral Bogor.
Malam kemudian menjadi teman perjalanan.

Pada kilometer-kilometer awal, energi masih penuh. Langkah kaki bergerak cepat sehingga rombongan sempat terpisah. Peserta yang berada di depan akhirnya harus memperlambat langkah agar mereka yang tertinggal dapat kembali bergabung.
Peristiwa sederhana itu menjadi bagian dari makna perjalanan: berjalan jauh bukan hanya perkara seberapa cepat seseorang mampu melangkah, tetapi juga kesediaan menunggu dan berjalan bersama.
Ketika perjalanan menjadi pendampingan
Semakin jauh jarak ditempuh, tantangannya berubah.
Kekuatan fisik mulai menurun. Kaki terasa berat. Tubuh meminta istirahat. Namun justru pada bagian perjalanan seperti inilah muncul pengalaman saling mendampingi.
Ada yang masih kuat berjalan cepat, tetapi memilih menyesuaikan langkah dengan peserta lain. Ada yang memberi semangat ketika rekannya mulai kelelahan. Ada pula yang terus bertahan ketika tubuh mulai terasa sakit.
Seorang peserta menyebut perjalanan panjang itu terbagi dalam tiga pengalaman: tahap ketika semua masih penuh energi, tahap pendampingan, dan akhirnya tahap “sikso rogo”—ketika tubuh sungguh-sungguh diuji.
Sepuluh kilometer terakhir menjadi bagian terberat. Kelelahan setelah berjalan semalaman mulai terasa nyata. Telapak kaki sakit dan tubuh semakin berat diajak melangkah. Godaan untuk berhenti atau beralih menggunakan kendaraan pun muncul.
Namun langkah demi langkah terus dilanjutkan.
22 orang tiba hingga akhir
Perjalanan yang semula direncanakan berlangsung sekitar 15 jam akhirnya memakan waktu hampir 17 jam, dengan jarak sekitar 57 kilometer.
Dari 34 orang yang memulai perjalanan di Katedral Bogor, 22 peserta berhasil berjalan hingga titik akhir di Katedral Jakarta. Sementara peserta lainnya tidak melanjutkan sampai garis akhir setelah menempuh sebagian perjalanan.
Bagi sebuah perjalanan sejauh 57 kilometer yang dilakukan semalaman, pencapaian itu sekaligus memperlihatkan bahwa ziarah ini bukan perjalanan ringan. Setiap peserta menjalani perjuangannya masing-masing sesuai kemampuan tubuhnya.
Sabtu siang, para peserta yang mencapai Katedral Jakarta disambut Romo Harry SJ. Sambutan setelah perjalanan panjang itu menjadi penutup yang berkesan. Kepenatan dan rasa sakit seolah memperoleh makna berbeda ketika tujuan akhirnya tercapai.
Dua katedral akhirnya bukan sekadar titik awal dan titik akhir pada peta.
Katedral Bogor menjadi tempat menerima berkat untuk memulai perjalanan. Katedral Jakarta menjadi tempat mensyukuri perjalanan yang telah dijalani.
Di antara keduanya terbentang puluhan kilometer jalan yang dilalui bersama.
Lebih dari sekadar jalan kaki
Pada akhirnya, perjalanan Bogor-Jakarta ini bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling kuat.
Ada pengalaman lain yang tumbuh sepanjang perjalanan: belajar menahan diri, menunggu teman, menerima keterbatasan tubuh, saling menyemangati, dan tetap melangkah sejauh kemampuan masing-masing.

“Walaupun ini hanya jalan bareng,” demikian salah seorang peserta merefleksikan pengalaman tersebut, ada kedalaman iman yang dirasakan sepanjang perjalanan ziarah itu.
Mungkin di situlah tirakatan menemukan maknanya.
Kemerdekaan tidak hanya diperingati melalui upacara dan kibaran Merah Putih. Semangatnya juga dapat dihidupi melalui kesediaan menjalani proses, berjuang menghadapi keterbatasan, dan tidak meninggalkan kawan seperjalanan.

Dari Katedral Bogor menuju Katedral Jakarta, 34 pejalan kaki memulai perjalanan panjang itu. Dua puluh dua di antaranya menuntaskannya hingga titik akhir.
Berjalan sebagai peziarah. Bertahan sebagai kawan seperjalanan. Dan mensyukuri Indonesia sebagai rumah bersama.












































