Home BERITA Jejak Sabda 22 Agustus 2026: Perkataan Harus Sejalan dengan Perbuatan

Jejak Sabda 22 Agustus 2026: Perkataan Harus Sejalan dengan Perbuatan

0
13 views
OMDO: Omong Doang

Mat 23: 1-12

BANYAK orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi hidupnya jauh dari apa yang ia katakan.

Ia mengajarkan kejujuran, tetapi masih suka berbohong. Ia berbicara tentang kerendahan hati, tetapi senang dipuji. Ia menyerukan kasih, tetapi mudah menghakimi. Kata-katanya indah, tetapi perbuatannya tidak menjadi kesaksian.

Hal ini pernah terlihat dalam sebuah kisah nyata tentang seorang guru di sebuah sekolah dasar di daerah pedesaan. Guru ini sangat dikenal karena nasihat-nasihatnya yang bijak. Ia sering mengajarkan murid-muridnya untuk jujur, disiplin, dan saling menghormati.

Namun suatu hari, seorang murid kecil tanpa sengaja melihat gurunya menerima amplop dari orang tua murid lain agar nilai anaknya dinaikkan. Anak itu terdiam, bingung. Di kelas, sang guru selalu berkata bahwa menyontek dan tidak jujur adalah dosa, tetapi di luar kelas ia melakukan hal yang bertentangan dengan ucapannya sendiri.

Sejak saat itu, sebagian murid mulai kehilangan kepercayaan, bukan pada kata-kata sang guru, tetapi pada teladan hidupnya.

Yesus mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak cukup hanya diucapkan; kebenaran harus diwujudkan dalam kehidupan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,” Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

Yesus mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak menjadi salah hanya karena orang yang mengajarkannya tidak mampu menghidupinya. Kita tetap dipanggil untuk menerima ajaran yang benar, tetapi tidak menjadikan kelemahan hidup seseorang sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran.

Ada sebuah ungkapan sederhana: “Orang mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.”

Anak-anak pun mungkin tidak selalu mengingat nasihat orang tua, tetapi mereka akan mengingat teladan yang mereka lihat setiap hari.

Maka, pertanyaan terpenting bukanlah: “Seberapa banyak saya berbicara tentang Tuhan?” melainkan: “Seberapa nyata Tuhan terlihat dalam hidup saya?”

Iman yang matang adalah ketika perkataan dan perbuatan bertemu. Doa melahirkan kasih, kasih melahirkan pengampunan, dan pengampunan melahirkan kehidupan yang damai.

Jangan menjadi orang yang hanya pandai menunjuk jalan, tetapi tidak pernah berjalan di jalan itu. Sebab kesaksian iman yang paling kuat bukanlah suara yang keras, melainkan hidup yang selaras antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah perkataan saya tentang iman sudah sejalan dengan cara saya memperlakukan pasangan, keluarga, rekan kerja, dan sesama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo