Guru Idola Masa Kini di Mata Murid

0
1,097 views

WAKTU kecil diberi tahu oleh saudaraku, menjadi guru berarti harus bisa digugu dan ditiru. Artinya, guru harus bisa meneladani dalam segala hal , baik pikiran, ucapan maupun perbuatan.

Guru itu profesional

Menyikapi itu, dalam kenyataannya guru memang harus punya spirit beda dengan setiap pekerja pada umumnya. Guru memang bekerja; tapi bukan hanya untuk mendapatkan gaji. Ekstrimnya, guru tidak sama dengan buruh. Seperti para profesional lainnya, guru pun setaraf dengan dokter, insinyur, advokat. Bahwa di  Indonesia, guru sering dipandang sebelah mata, nah itu soal lain lagi.

Dalam UU No 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional atau  UU Guru dan Dosen disebutkan, guru itu pada dasarnya harus profesional, berkarakter atau bermatabat. Itu berarti guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pada siswa. Lebih dari itu, ia juga harus memerankan fungsi dasarnya sebagai pendidik. Menjadi pendidik sama saja berarti menjadi teladan untuk murid.

Litani keluhan

Apa yang terjadi zaman sekarang?

Sudah bukan jadi rahasia lagi, ketika banyak orang suka mencibir kelakuan murid yang tidak pada tempatnya.  Mulai saja dengan menyebut mereka sulit diatur, nakal, mbolosan,tidak sopan, berani melawan, dan masih banyak lagi lainnya. Murid kini sering kena tuding negatif di mata masyarakat, tak kurang di mata orangtuanya sendiri.

Tentu ada pandangan lain yang mengatakan, murid nakal lantaran orangtuanya juga kurang ajar. Alias –kata pepatah lama—“guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Kalau dikaji secara mendalam, di era globalisasi ini memang masalah sosial semakin komplek. Jadi guru pun kian banyak tantangan dan tuntutan. Ditambah dengan makin membanjirnya arus informasi yang bisa diserap murid, maka guru pun menghadapi tantangan baru: kelakuan murid makin beraneka ragam dan sikap mereka terhadap guru pun juga makin bervariasi. Bisa positif, namun bisa juga sebaliknya.

Harus bagaimana?

Melihat situasi yang serba makin beragam ini, lalu sebagai guru kita bisa apa? Menurut pengalaman pribadi saya sebagai guru, mestinya kaum profesional dalam ruang kelas ini tidak boleh ikut arus. Guru janganlah ikut larut dalam arus  yang cenderung negatif. Sebaliknya, jadilah kita-kita ini menjadi “pengatur” arus dan mampu menyiasati arus sehingga outpout pekerjaan kita berdiri di depan kelas benar-benar bisa menghasilkan benih-benih yang oke punya.

Kita berharap murid kita nantinya cerdas, bermartabat dan nasionalis. Mereka menjadi  penyangga bagi empat pilar ketahanan RI. Nah, agar harapan itu terwujud, saya punya pemikiran agar guru mampu  mengelola tiga tingkat kecerdasan, yakni:

  1. Kecerdasan Intelektual: Guru dituntut profesional dengan latar belakang akademis yang sesuai aturan, kreatifitas tinggi, inovatif, punya  semangat dan jiwa kewirausahaan;
  2. Kecerdasan emosional:  Guru harus mampu mengendalikan emosi dan stres. Janganlah muda terbakar emosi,  hilang arah, kagetan apalagi ringan tangan dan gampang melempar kata-kata kotor. Sebaliknya, harus murah seyum, berwibawa,mempunyai keteladanan tinggi. Murid segan terhadap guru; bukannya takut pada guru.
  3. Kecerdasan spiritual: Guru harus mempunyai tingkat spiritualitas tinggi, beragama atau mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan mengedepankan aktualisasi iman,tidak fanatik atau fundamentalis, tidak diskriminatif. Sebaliknya harus  punya semangat dan jiwa melayani, murah hati, sabar, memperhatikan siswa yang lemah.

Memperlakukan sebagai sahabat

Jadikanlah siswa sebagai anak, sahabat  atau saudara.  Guru tidak harus menunggu dihormati siswa lebih dulu. Ia harus mau mendahului menghormati siswa. Jangan  sampai sakit hati kalau dia tidak menerima sapaan hormat dari murid, walau kadang di hati juga terasa tidak nyaman.

Sekarang ini, marilah guru bersikap ramah, suka menyapa, memberi salam pada murid. Kasih mereka senyuman. Guru harus mulai berlomba-lomba menyalami siswa. Jangan sampai siswa melihat guru justru lari dari pandangan siswa atau malah bersembunyi. Jangan sampai murid mendapati gurunya kurang peduli dan cuek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here